Jombangbanget.id - Saat ngaji usai salat tarawih di Masjid Agung Junnatul Fuadah, Polres Jombang, Kamis (6/3), Ustad Agung Bahroni, menjelaskan tingkatan puasa.
’’Ada tiga tingkatan puasa,’’ tuturnya.
Pertama, puasa awam alias orang kebanyakan. Pada tingkatan ini, seseorang hanya menahan diri dari makan, minum, dan hal-hal yang membatalkan puasa secara fisik. Namun belum bisa mengontrol dirinya dari perilaku buruk.
Seperti berbicara dengan kata-kata yang tidak baik, bergosip, berprasangka buruk, atau melakukan dosa-dosa kecil yang merusak nilai puasa.
Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda: Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak memerlukan puasanya dari makanan dan minuman.
Kedua, puasa orang khusus. Puasa yang dilakukan oleh orang-orang yang lebih mendalam penghayatannya.
Puasa pada tingkatan ini tidak hanya sekadar menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga berusaha untuk menjaga seluruh anggota tubuh dari perbuatan dosa.
Mereka menjaga pandangan mata dari hal-hal yang haram, menjaga pendengaran dari perkataan-perkataan yang tidak baik, dan menjaga lisan agar tidak mengucapkan kata-kata yang bisa mengurangi pahala puasa.
Orang yang berpuasa pada tingkat ini lebih cermat dalam menjaga kualitas ibadah.
Mereka tidak hanya menjaga perbuatan lahiriyah, tetapi juga berusaha untuk memperbaiki diri dari dalam, baik pikiran maupun perasaan.
Mereka menjaga agar hatinya tetap tenang, jauh dari amarah dan kebencian, serta selalu berusaha untuk berpikir positif.
Rasulullah bersabda: Puasa itu perisai. Oleh karena itu, jika seseorang berpuasa, hendaknya dia tidak berkata kotor dan tidak berbuat bodoh.
Baca Juga: Binrohtal, Alquran Bisa Melahirkan Kebahagiaan di Dalam Hati
Jika ada orang yang mengajak bertengkar, katakanlah: Sesungguhnya saya sedang berpuasa.
Ketiga, puasa orang yang sangat khusus. Ini tingkatan puasa yang tertinggi, hanya dapat dicapai oleh orang-orang yang sangat khusus.
Yakni mereka yang benar-benar menghidupkan ibadah puasa dengan penuh kesadaran spiritual dan keikhlasan.
Pada tingkatan ini, puasa tidak hanya melibatkan tubuh dan tindakan, tetapi juga seluruh keberadaan seseorang. Orang yang berpuasa pada tingkat ini menjaga setiap detik waktunya untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Mereka tidak hanya menjaga diri dari makanan dan minuman, tetapi juga dari segala hal yang dapat mengurangi keikhlasan ibadah.
Mereka sangat berhati-hati dalam berpikir dan merasakan. Mereka berusaha agar seluruh perasaan dan niat mereka semata-mata hanya untuk Allah SWT.
Pada tingkatan ini, setiap langkah mereka dalam berpuasa adalah ibadah yang penuh makna, mereka senantiasa berdzikir, berdoa, dan melakukan amal saleh dengan penuh ketulusan.
Orang yang berpuasa pada tingkat ini benar-benar merasakan bahwa puasa adalah sebuah perjalanan spiritual untuk mencapai kedekatan dengan Allah.
Mereka merasakan setiap kelaparan dan dahaga sebagai bentuk ujian dan ibadah yang mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
Rasulullah bersabda: Ada orang yang berpuasa, tetapi tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya, selain lapar dan dahaga. Dan ada pula orang yang mendirikan salat malam, tetapi tidak mendapatkan apa-apa dari salatnya, selain rasa letih dan lelah. (jif/naz)
Editor : Ainul Hafidz