Bisnis Desa Kita Features Hiburan Hukum Jombangan Jurnalisme Warga Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Olahraga Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Politika Religia Sosok Wisata

Gus Zu'em: Tembok Cina dan Kita

Ainul Hafidz • Senin, 17 Maret 2025 | 15:56 WIB
KH Zaimuddin Wijaya As
KH Zaimuddin Wijaya As

SEPULUH tahun lalu, alhamdulillah saya berkunjung ke Great Wall  di Cina yang panjangnya lebih dari 21.000 km.

Dibangun mulai dari Dinasti Qin (221-206 SM) hingga Dinasti Ming (1368-1644). Kini yang terawat “tinggal” 8.850 km (Jombang-Jakarta 736 km).

Lebar atas tembok 4-5 m, selebar Jalan KH. Romly Tamim (Sumbermulyo). Untuk lalu-lalang kereta penjaga berinspeksi.

Tembok raksasa yang dibangun berabad-abad itu, layaknya bangunan infrastruktur yang dibiayai negara, menyimpan kisah kelam tentang penyalahgunaan kekuasaan.

Dari bincang-bincang saya dengan akademisi di sana, saya peroleh kesimpulan bahwa durasi pembangunan yang begitu lama, bukan semata-mata karena panjang dan sulitnya medan penembokannya, tapi juga karena ulah nakal pengawas dan penanggung-jawabnya.

Misal, bata yang digunakan mestinya dari batu kapur dengan usia dan kepadatan tertentu, tapi dipakailah batu kapur muda yang lebih murah sehingga rentan erosi angin.

Akibatnya, setahun mestinya 5 km, hanya dapat 3 km, karena waktunya termakan untuk perbaikan hasil bangunan tahun sebelumnya.

Tujuan utama pembangunan tembok itu untuk pertahanan Cina dari serangan musuh dari utara.

Akan tetapi pada abad ke 13 tentara Mongol yang kuat dan berjumlah besar pimpinan Jenghis Khan berhasil menaklukkan Cina dan mendirikan Dinasti Yuan.

Dari pengalaman tersebut, kerajaan meningkatkan fungsi pengamanan tembok raksasa dengan menambah jumlah pasukan penjaga, baik yang ditempatkan di atas maupun di pintu gerbang.

Perlu diketahui bahwa terdapat beberapa pintu gerbang yang menjadi penghubung  Cina dengan dunia luar. Salah satunya gerbang Jiayuguan yang merupakan akses jalur sutera.

Baca Juga: Gus Zu'em: Pesantren dalam Dinamika MBG

Tiap gerbang dijaga pasukan khusus untuk memastikan bahwa yang masuk betul-betul pedagang kebutuhan hidup.

Tidak membawa barang berbahaya apalagi senjata. Maka sejak Dinasti Ming mulai berkuasa (1368) Cina tak tersentuh oleh negara luar, karena saking kuatnya penjagaan tembok raksasa itu.

Namun pada tahun 1644 Tentara Manchu dibawah panglima Dorgon (seorang pangeran dari Dinasti Qing) mampu memasuki Cina melalui gerbang Sanhai.

Mereka bisa menundukkan para penjaga tembok tidak seperti tentara Mongol yang menggunakan kekuatan daya pukul tentaranya, tapi dengan kekuatan uangnya.

Terlebih dahulu Dorgon memetakan jenderal-jenderal pasukan Ming yang sakit hati pada raja dan bisa disuap.

Maka kepada mereka terkirimlah “persembahan” dengan syarat mengondisikan penjagaan gerbang Sanhai.

Kepada komandan jaga pun langsung dikirimi kode dengan amplop coklat bersandi khusus (mungkin “hopeng”, saudara sendiri ).

Akibatnya, tentara Manchu bisa masuk wilayah Cina dengan mudah, tanpa perlawanan yang berarti.

Akhirnya, citra tentang kekuatan tentara Cina dan penjaga tembok raksasanya, tinggal cerita saja.

Tembok tetap berdiri tegak tapi tak berfungsi sebagai benteng  negara, karena penguasanya sudah menggadaikan amanatnya pada pihak yang “berkepentingan”.

Bagaimana dengan kita saat ini.? Sepertinya pola penyalahgunaan kekuasaan yang telah mengiringi perjalanan tembok Cina, sedang masif terjadi di sini.

Betapa tidak. Sejak awal tahun lalu, masyarakat disuguhi proses penegakan hukum yang menyesakkan dada. Kasus korupsi timah ratusan triliun diputus ringan.

Pagar laut sebegitu luas dinyatakan hanya ulah seorang lurah Kohod. Pertamax oplosan yang aman beredar bertahun-tahun.

Alih fungsi lahan yang baru ketahuan setelah banjir besar Bekasi.

Semuanya itu akan menggiring pendapat masyarakat bahwa para penerima amanat telah melakukan penyalahgunaan kekuasaan yang keterlaluan.

Saya kuatir “tembok” kesabaran masyarakat tak lagi sekuat dulu. Sehingga berpotensi ambruk diterjang derasnya arus ketidak-puasan.

Maka saya mohon antarkementerian jangan saling mencari panggung yang justeru menampakkan bahwa Kabinet Merah Putih ini tidak dalam koordinasi yang solid.

Kasus Minyakita yang ditemukan Menteri Pertanian takarannya di bawah standar, sudah mengindikasikan bahwa Kementerian Perdagangan selama ini tidak menjalankan tugasnya dengan baik.

Anda bisa bayangkan bagaimana perasaan Mendag pada Mentan.

Barangkali yang membuat masyarakat masih bersabar adalah janji pemerintah memberi Makan Bergizi Gratis untuk murid sekolah.

Jika program tersebut tidak segera dipenuhi, saya kuatir mereka apatis pada pemerintah dan menjadi sumbu sensitif yang mudah disulut gerakan protes : Indonesia gelap.

Oleh karena itu, agar masyarakat masih memilki harapan pada pak Prabowo, saya mohon semangat pemberantasan penyalahgunaan kekuasaan (korupsi) yang sering dipidatokan, segera ditindaklanjuti secara nyata.

Jangan sekedar omon-omon, agar masyarakat rela menjadi “tembok” raksasa yang membentengi pemerintah merah-putih dari serangan musuh negara. Ayo Gaspoll. (*)

Editor : Ainul Hafidz
#opini #Gus Zuem #Tembok Cina #Indonesia #Jombang #Kolom Gus Zuem