AKU tamu istimewa yang hanya datang satu kali setahun. Aku datang membawa keberkahan, ampunan, dan pahala yang berlipat-lipat.
Aku membawa pintu surga yang terbuka lebar, dan setan-setan yang dibelenggu agar kau lebih mudah beribadah.
Di awal pertemuan kita, kau begitu antusias. Kau berjanji akan lebih banyak membaca Alquran, lebih rajin bangun malam, lebih ikhlas bersedekah.
Namun, seiring berjalannya waktu, semangatmu mulai meredup. Salat tarawih yang dulu kau jaga, kini sering kau tinggalkan.
Alquran yang kau genggam setiap hari, kini mulai berdebu. Aku melihatmu lebih sering menghabiskan waktu dengan gadget daripada berzikir.
Saat ini, aku sudah berada di pertengahan perjalanan. Dan sebentar lagi, aku akan pergi meninggalkanmu.
Apakah kau benar-benar siap melepasku begitu saja?
Baca Juga: Aktif Ngaji di Bulan Ramadan, Gus Sentot Apresiasi Santri TPQ Ini di Jombang
Aku mendengar doa-doa yang kau panjatkan di awal kedatanganku, tetapi aku juga melihat betapa cepatnya kau kembali pada kesibukan duniawi.
Aku ingin melihatmu menghabiskan malam-malam terakhirku dengan lebih banyak ibadah.
Aku ingin kau mencari Lailatul Qadar, bukan sibuk dengan belanja pakaian baru atau memikirkan hidangan lebaran.
Wahai manusia, aku adalah kesempatan. Aku adalah anugerah. Tetapi aku juga pengingat, bahwa tak ada yang tahu apakah kita akan bertemu lagi di tahun depan.
Baca Juga: Ramadan, Menghadirkan ”The Supreme Supervisor”
Berapa banyak orang yang tahun lalu masih bersamaku, tetapi kini sudah kembali kepada Rabb-nya?
Tahun lalu, mereka berdoa semoga bisa bertemu denganku lagi, tetapi takdir berkata lain.
Bagaimana denganmu? Apakah kau yakin masih akan hidup untuk menyambutku tahun depan?
Jika kau tahu bahwa ini adalah Ramadan terakhirmu, apakah kau akan tetap membiarkanku berlalu begitu saja?
Aku ingin kau mengingat satu hal: bukan aku yang butuh kau, tetapi kau yang butuh aku.
Aku datang membawa rahmat dan maghfirah, tetapi aku tak bisa memaksamu untuk menerimanya.
Aku hanya bisa menunggu, melihat apakah kau benar-benar ingin memanfaatkan waktuku atau justru menyia-nyiakanku.
Wahai manusia yang kucintai, aku belum pergi. Aku masih bersamamu, setidaknya untuk beberapa hari lagi.
Maka, jangan sia-siakan kesempatan ini. Bangunlah di sepertiga malam terakhir, karena di saat itu, Allah turun ke langit dunia, mengabulkan doa-doa hamba-Nya.
Jangan biarkan Lailatul Qadar berlalu tanpa kau cari, karena satu malam itu lebih baik dari pada 83 tahun ibadah.
Penulis:
Kaseri SPd MM MPd
Guru Matematika SMAN 1 Jombang
Narasumber Berbagi Praktik Baik Kemendikbud RI
Pengawas Pendidikan PP Darul Ulum
Editor : Ainul Hafidz