’’Ya ayyuha al-ladzin amanu..’’ Hanya orang yang beriman saja yang diajak bicara oleh Tuhan, sekaligus diperintah agar menjalankan ibadah puasa.
Ya, karena mereka yang tidak beriman tidak paham dan tidak akan pernah paham terhadap kemauan Tuhan.
Maunya ya..menuruti kemauan dan nafsu sendiri. Adalah Tuhan Allah SWT yang menciptakan bodi kita, maka Tuhanlah yang paling mengerti tentang sifat dan kondisi organ, detail anatomi tubuh kita.
Dari seberapa kecanggihannya, cara kerjanya, ketahanannya, cara menggunakan, cara merawat dan sebagainya.
Ya, seperti perusahaan yang memproduk apa saja. Begitu produk tersebut dilempar ke pasar pasti sudah dilengkapi dengan penjelasan terkait vitur dan aturan pakai.
Ya, agar konsumen memahami dan tidak salah menggunakannya. Karena salah menggunakan pasti berkibat fatal dan merugi.
Setelah perut dan segala pirantinya bekerja selama sebelas bulan memproses makanan, lalu perlu diistirhatkan selama satu bulan dan itupun hanya siang hari saja.
Karena Tuhan sangat mengerti kebandelan dan nafsu manusia, maka dipandang perlu untuk “dipaksakan” lewat syariah-Nya, lewat rukun islam yang wajib dikerjakan.
Syari’ah ini murni kebutuhan manusia dan demi kebaikan manusia itu sendiri dan sama sekali bukan kebutuhan Tuhan.
Kok Tuhan memaksa, membuat sengasara hamba-Nya dengan berlapar-lapar ..?
Tanyakan kepada seorang ibu ketika memaksa dan mencekoki anak kesayangannya yang sedang sakit dengan obat pahit dari Dokter..?
Baca Juga: Kalam Jumat: The Furniture (10)
Kejamkah dia, atau bukti sayangnya..? Tanyakan juga kepada ahli pijat urat ketika memijat kaki anda yang keseleo..? Sadiskah dia..?
Untuk itu, orang beriman yang sedang berpuasa dituntut bersopan-sopan di hadapan Tuhan.
Tampakkan sikap rela menerima syariah puasa dengan tulus dan jangan sekali-sekali menampakkah ekspresi yang menyinggung perasaan Tuhan.
Seperti sambat dan mengeluh: ”Aduh.. hari ini saya terasa lapar sekali, lemes, tidak seperti biasanya. Ya, karena tadi malam tidak makan sahur dan sebagainya.”
Meski begitu, diam tetap lebih sopan. Ya, karena apa yang kita lakukan hanya untuk Tuhan, bukan karena ingin mendapat sanjungan manusia.
Mengeluh, sambatan, sementara pekerjaan tetap diselesaikan. Gimana..?
Seperti anda seorang ibu yang menyuruh anaknya menyapu, mengepel, atau mencuci piring dan sebagainya. Anak anda mengerjakan semua itu dan tuntas.
Tetapi ekpresinya mecucu dan ngambul-ngambul. Gaya menyapunya dikasar-kasarkan, mencuci piring digebrak-gebrakkan.
Meski semua pekerjaan beres, tapi bagaimana perasaan ibu menyaksikan sikap tersebut.
Tentu tidak sama dengan anak yang cara mengerjakaannya beres dan santun. Kesantunan mengerjakan itulah keikhlasan, itulah ketakwaan. (*)
Editor : Ainul Hafidz