BERWISATA memiliki makna yang tujuannya tak lain untuk menyenangkan diri, baik secara fisik maupun pikiran.
Lebih pentingnya¸ berwisata ke mana pun tujuannya dan di mana pun tempatnya, maka yang diharapkan adalah menyenangnya hati dan pikiran.
Melepas penat sekaligus me-refresh otak atas segala aktivitas dan kesibukan sehari-hari.
Baik untuk obyek wisata alam¸ sejarah¸ religi, etnik, bisnis, kota, hingga petualangan wisata modern yang semakin intens, terorganisir dan berorientasi bisnis.
Harapannya¸ hati senang, riang gembira hingga pikiran menjadi tenang. Nah¸di antara yang mengakomodir semua jenis destinasi di atas adalah umrah.
Tak hanya sekadar beribadah, umrah tak sekadar wisata religi karena bisa berkomunikasi dengan Allah dengan kebaikan pahala beribu kali lipat.
Seperti menunaikan salat di Masjid Nabawi lebih baik 1.000 kali dari masjid lainnya.
Salat di Masjidil Haram lebih baik 100.000 kali lipat dibanding masjid lainnya.
Belum lagi di tempat-tempat mustajabah, seperti Roudhoh, Multazam, Hijr Ismail, Hajar Aswad dan berdoa di depan Kakbah.
Gambaran wisata hati ini jadi tujuan utama. Harapannya satu, mendapat rida dari Allah SWT.
Terlebih, semua doa yang diucapkan di Mekkah maupun Madinah bisa dikabulkan.
Lebih dari itu, di dalamnya ada wisata alam, kota, modern dan wisata sejarah.
Dengan semua jenis destinasi yang didapatkan, maka tak hanya hati yang menjadi tenang karena banyak mendapat keberkahan di dalamnya.
Terutama saat berada di tanah suci, Madinah Al Munawaroh dengan ketenangan beribadah di Masjid Nabawi.
Begitu juga saat berada di Mekkah Al Mukaromah dengan keutamaan Masjidil Haram.
Perkembangan teknologi di negara timur tengah yang memiliki kekayaan minyak luar biasa ini sangat cepat.
Seperti moda transportasi kereta cepat yang tidak hanya mempercepat jarak tempuh dari Jedah ke Madinah.
Tapi juga dari Madinah menuju Mekah. Saat ada tour ke Kota Thoif pun, kereta cepat bisa dipesan.
Menggunakan moda bus atau kereta cepat, sama-sama bisa menikmati keindahan panorama kota paling subur di Saudi Arabia ini.
Di Thoif terkenal dengan hasil pertanian yang subur seperti anggur, delima, buah ara, madu dan mawar.
Tak heran, ada destinasi peternakan lebah madu dan penyulingan bunga mawar. Di samping menggali sejarah perjalanan Islam secara detail.
Termasuk berziarah ke maqbarah Abdullah bin Abbas atau yang dikenal Ibnu Abbas, salah satu sahabat Nabi Muhammad. Satu lokasi dengan Masjid Addas, Masjid Kuk dan Pasar Ukaz.
Semua memiliki sarat dengan perjalanan Islam.
Destinasi lainnya, kota tua yang menjadi tempat pertokoan madu asli Thoif.
Tempat penyulingan mawar yang diolah menjadi minyak wangi, Rashad Husain Alqorashei Factory.
Tempat ini sekaligus tempat penjualan parfum yang sebagian besar dari bahan bunga mawar.
Ada pula wisata kuliner khas Arab Saudi, yaitu Nasi Mandi, nasi Biryani atau nasi Kebuli.
Nasi dengan aroma rempah dan cengkih yang khas ini disajikan di atas lengser.
Setiap lengser bisa dinikmati untuk empat orang. Selain itu, di Kota Thoif juga banyak wisata buatan seperti taman yang dilengkapi dengan aneka wahana permainan. Ini adalah wisata modern.
Tak sedikit yang menikmati keindahan destinasi Kota Thaif dari ketinggian 1.500 meter dengan Teleferic Taif Cable Car atau kereta gantung.
Tentu pengalaman menegangkan ini tak boleh disia-siakan begitu saja. Meski kocek yang dikeluarkan cukup besar 80-100 riyal atau sekitar Rp 350 ribu hingga Rp 430 ribu.
Wahana baru yang diisi maksimal delapan orang ini menjadi uji adrenalin tersendiri.
Dari semua penjuru, wisata bisnis sangat jelas. Berbagai oleh-oleh banyak ditawarkan. Mulai makanan khas seperti kurma.
Perlengkapan ibadah seperti sajadah sampai dengan souvenir khusus. Pemandangan ini tidak hanya terlihat di sekitar Masjid Nabawi.
Di tempat-tempat yang dijadikan jujugan peziarah, geliat wisata bisnis sangat terlihat.
Mulai di pemakaman Baqi, Jabal Magnet, Jabal Nur, Masjid Quba, tempat percetakan Alquran, Jabal Uhud, Masjid Qiblatain, Kebun Kurma, dan Masjid Ghamama yang dilengkapi taman dan lampu warna-warni.
Lantas kapan wisata hati dilakukan? Suasana Kota Mekkah dan Madinah saat ini sangat padat.
Bahkan saat keluar dari hotel menuju ke Masjid Nabawi atau Masjidil Haram, situasi sangat krodit.
Termasuk di ruang ramah difabel bagi penyandang disabilitas atau jemaah lansia dengan bantuan kursi roda.
Kepadatan ini biasanya berlangsung sampai bulan Dzulhijah atau bulan haji.
Karena itu disarankan pasca bulan haji. Selain cuaca sangat bersahabat, suasana Masjidil Haram dan Masjid Nabawi lebih longgar.
Merunut bulan Hijriyah, maka wisata hati bisa dilakukan mulai tahun baru Islam (Muharram).
Atau sesudahnya, yakni Bulan Safar, Robiul Awal, Robiul Akhir, Jumadil Awal dan Jumadil Akhir minggu pertama.
Nah, kalau memang ada wisata hati yang lengkap dengan wisata alam, sejarah, religi, etnik, bisnis dan wisata modern, kenapa kita hanya memilih salah satu destinasi saja.
Cukup hanya dengan sekali jalan, maka dua pulau bisa terlampaui. Siapkan niat dan fisik sejak sekarang.
Tentukan schedule yang pas untuk bisa menikmati wisata hati bersama suami, istri dan keluarga tercinta.
Bagi yang memiliki akses lebih mudah ke luar negeri. Atau yang memiliki hobi travelling, maka wisata hati bisa dilakukan secara mandiri dengan budget lebih rendah.
Meski begitu, gopek tetap disiapkan. Langkah paling mudah menabung.
Semisal menyisihkan rejeki Rp 10.000 per hari, jika dikalikan satu tahun atau 365 hari, maka tabungan yang terkumpul Rp 3.650.000.
Jika kebiasaan ini dilakukan dalam kurun waktu 7 sampai 8 tahun, maka sudah bisa memilih paket wisata hati. Dengan asumsi paket umrah regular 9 hari.
Beda lagi bila yang disisihkan setiap hari Goceng (baca; Rp 5.000), maka perlu waktu lebih lama.
Dalam setahun atau 365 hari, dari uang Rp 5.000 itu baru terkumpul Rp 1.825.000.
Seandainya biaya wisata hati berkisar Rp 27.000.000, maka waktu menabung sekitar lima belas tahun. Kecuali bila ingin memilih fasilitas VIP.
Jadi sisihkan rejeki mulai sekarang, karena waktu terus berjalan. Tetap semangat meraih rida Ilahi dengan beribadah di Tanah Suci.
Tak sekadar ibadah, tapi juga mendapat keberkahan dalam segala hal. (*)
Penulis:
Binti Rohmatin
(Pemimpin Redaksi Jawa Pos Radar Jombang 2021-2024)
Editor : Ainul Hafidz