Artinya, panas banget. Bulan ini dipilih sebagai waktu berpuasa wajib bagi umat beriman dengan arah agar dosa dan keburukan terbakar habis.
Sifat dengki, hasud, menfitnah, pelit, merasa baik dan sebagainya sirna dan selanjutnya tergantikan dengan sifat yang baik-baik.
Dari perspektif kesehatan universal, Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam menyarankan: ’’You, berpuasalah, niscaya kalian akan sehat.’’
Tesis ini menggelitik seorang ilmuwan, lantas membuktikan lewat teskis pada tikus. Karena tikus dianggap binatang yang lebih punya ’’kemiripan’’ struktur kesehatan dengan manusia.
Ilmuwan itu memelihara tikus dalam tiga klaster. Kelompok tikus pertama diberi makan kenyang, sehat dan berlebih. Hasilnya, semua gemuk-gemuk. Tapi risiko kematiannya tinggi.
Di kotak kedua, kawanan tikus diberi makan wajar. Bodinya biasa dan risiko kematiannya wajar.
Dan di kotak ketiga, sering dipuasakan. Sehat, ramping, lincah dan bisa dikata nol persen risiko kematiannya.
Belum puas dengan uji kesehatan fisis, ilmuwan itu membuat kotak labirin lumayan besar dan rumit demi menguji kecerdasan.
Di bagian ujung disediakan makanan tikus paling favorit, seperti kacang-kacangan dan sedikit keju. Kemudian dimonitor dan dicatat.
Waktu makan tiba. Tikus di kotak pertama dilepas satu persatu masuk ke kotak labirin dan langsung bernafsu memburu tempat makanan.
Tapi semuanya gagal menemukan dan hanya berputar-putar saja tak menentu arah.
Baca Juga: Tekan Inflasi, Pemkab Jombang Geber Operasi Pasar Selama Ramadan
Lalu tikus kelompok kedua, sekitar enam puluh persen berhasil menemukan. Tapi waktu pencariannya lumayan lama. Sering bolak-balik meski akhirnya berhasil.
Giliran kelompok tikus yang sering dipuasakan, semuanya berhasil menemukan makanan tersebut dengan waktu yang relative lebih singkat.
Sungguh benar sabda nabi kita ’’shumu tasihhu’’, puasa itu menyehatkan.
Untuk itu, syariat berpuasa ini dibebankan atas orang yang beriman. Karena hanya orang yang benar-benar beriman saja yang merespons puasa dengan tulus dan lapang dada.
Orang fasik selalu bermalas-malasan dan cari-cari alasan.
Mereka menggunakan urusan duniawi untuk menghindari puasa. Sedangkan orang beriman menggunakan puasa untuk meminimalisir urusan duniawi.
Misalnya orang bekerja berat, kuli, nyopir seharian. Jika hatinya fasiq dan imannya tipis, dengan alasan pekerjaannya itu dia tidak puasa.
Sedangkan orang beriman, pekerjaan itulah yang disederhanakan demi bisa sukses menunaikan
Ibadah puasa. Kalau nyopir dibolehkan tidak puasa, lalu qada’nya kapan..? Lha wong ben dino nyopir.
Abu Hurairah radiyallahu anhu, sahabat super miskin dan banyak meriwayatkan hadis dari Rasulullah SAW.
Pekerjaaannya sebagai kuli panggul di pasar Madinah, mengantar barang belanjaan hingga ke rumah pelanggan.
Begitu juga Sa’d ibn Mu’adz radiyallahu anhu yang kerja di kebun kurma seharian. Tapi mereka tetap berpuasa wajib, bahkan istiqamah berpuasa sunah.
Dan .. ’’Puasa itu tes keimanan.’’
Editor : Ainul Hafidz