JombangBanget.id – Kekerasan seksual berbasis elektronik (KSBE) makin meresahkan.
Womens Crisis Center (WCC) Jombang mencatat, dari 112 kasus kekerasan yang terjadi sepanjang 2024, 11 di antaranya KSBE.
Jumlah itu setara 9,8 persen.
’’Dari seluruh kasus KSBE 2024, tidak ada satupun yang proses hukum. Ini membuat penjahat seksual elektronik semakin meresahkan,’’ kata Direktur WCC Jombang, Ana Abdillah.
Kekerasan seksual menggunakan media elektronik ini banyak dialami remaja perempuan.
Salah satu kasus yang pernah terjadi, seorang siswi kelas 5 SD yang lebih dari 50 konten asusilanya tersebar di media sosial.
Sayangnya, hingga kini belum diketahui siapa pelakunya, dan proses hukum belum berlanjut.
’’Korban down, karena videonya juga sudah menyebar di antara teman-temannya, itu korbannya masih kelas 5 SD,’’ terangnya.
Mayoritas kasus terjadi karena banyak remaja yang menaruh kepercayaan lebih kepada lawan jenis. Curhat, hingga merasa nyaman dan rela melakukan apapun yang diminta.
KSBE dialami oleh delapan anak-anak, dan tiga orang dewasa.
Salah satu kendala penanganan KSBE, belum adanya ahli forensik (informasi transaksi elektronik, provider dan bahasa) dan teknlogi yang mendukung penanganan KSBE.
Baca Juga: DPRD Jombang Prihatin Kasus Kekerasan Seksual pada Anak Masih Tinggi
’’Itu jadi kendala proses pembuktian kasus penyebaran konten asusila yang mayoritas korbannya remaja,’’ ucapnya. (wen/jif)
Editor : Ainul Hafidz