Di pesantren, menghafal Alquran merupakan tradisi yang dijalankan dengan metode khusus untuk memastikan hafalan santri kuat dan terjaga.
Beberapa metode yang umum digunakan, antara lain, sabitul Quran (menghafal secara bertahap), muraja’ah (mengulang hafalan), talaqqi (menyimak bacaan guru), dan setor hafalan.
Pertama, metode Sabitul Quran. Santri menghafal ayat demi ayat secara bertahap.
Biasanya, mereka membagi hafalan dalam jumlah tertentu, seperti satu halaman atau beberapa baris per hari. Konsistensi dan kedisiplinan sangat penting dalam metode ini.
Kedua, metode Muraja’ah. Yakni pengulangan hafalan agar tetap melekat dalam ingatan.
Santri mengulang hafalan sendiri atau bersama teman sebelum disetorkan kepada guru. Muraja’ah dilakukan setiap hari agar hafalan tidak mudah lupa.
Ketiga, metode Talaqqi dan Tasmi’. Talaqqi adalah metode di mana santri menyimak bacaan Alqur’an dari guru atau qari yang ahli, lalu menirukan bacaan tersebut.
Ini memastikan makhraj dan tajwid yang benar. Sedangkan tasmi’ adalah kegiatan memperdengarkan hafalan kepada guru atau teman untuk dikoreksi jika ada kesalahan.
Keempat, metode Setor Hafalan. Setiap santri wajib menyetorkan hafalan secara rutin kepada ustad atau ustadah.
Biasanya, mereka memiliki target hafalan harian atau mingguan. Santri yang sudah mencapai target tertentu biasanya mendapatkan ujian untuk memastikan kelancaran hafalan mereka.
Kelima muroqobah, yakni kewajiban membaca Alquran tiap hari lima juz untuk memperlancar hafalan.
Baca Juga: Ramadan: Bulan Diturunkannya Alquran
Selain metode di atas, pengasuh yang memiliki sanad ilmu dan faktor pendukung seperti lingkungan pesantren yang kondusif, kedisiplinan, serta doa dan ketulusan juga berperan besar dalam keberhasilan hafalan.
Dengan kombinasi metode ini, santri mampu menghafal Alquran dengan baik dan menjaganya sepanjang hayat.
Penulis:
Agus Salim Alhafiz (Pengasuh Santri Tahfidz Pesantren Balonggading, Sepanyul, Gudo)
Editor : Ainul Hafidz