Bisnis Desa Kita Features Hiburan Hukum Jombangan Jurnalisme Warga Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Olahraga Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Politika Religia Sosok Wisata

Kalam Jumat: The Furniture (10)

Ainul Hafidz • Jumat, 21 Februari 2025 | 21:08 WIB

Rubrik opini KH Mustain Syafii.
Rubrik opini KH Mustain Syafii.

Wa dzalik al-ladzi yadu’ al-yatim, wa la yakhudd ‘ala tha’am al-miskin.

Salah satu ciri orang yang keberagamaannya tidak serius dan bohong-bohongan itu adalah tidak mempedulikan nasib anak yatim dan menelantarkan orang-orang miskin.

Duitnya banyak, tetapi tetangganya ada yang tidak makan, ada anak yatim yang tidak bisa sekolah dibiarkan saja, maka dia adalah pendusta agama, ’’Yukadzdzib bi al-din.’’

Tuhan tidak menganggap dia sebagai orang beriman yang beneran, melainkan bohong-bohongan.

Tak jauh beda dengan seorang munafik. Sebab orang beriman itu punya rasa kemanusiaan yang tinggi.

Dengan sesamanya bagaikan satu jasad. Jika salah satu anggota tubuhnya sakit, maka seluruh badan akan merasakan yang sama.

Untuk itu, tesis agama pastilah benar, bahwa siapa yang mensejahterakan anak yatim pasti bakal bertambah banyak rejekinya.

Bagaimana dengan panti asuhan anak yatim atau panti jompo bagi Lansia..? Sungguh itu perbuatan yang mulia.

Di mana mereka ditempatkan dalam sebuah bangunan yang layak dan dirawat sebaik mungkin, termasuk dididik dan diarahkan ke ibadah yang baik.

Tapi..? Ada sesuatu yang tercerabut dari panti asuhan anak yatim ini.

Bagi anak yatim yang masih punya keluarga, mungkin masih ada bibi, paman, atau salah satu orang tuanya masih hidup dan rumah tinggalnya masih layak, lebih baik anak tersebut tetap tinggal bersama keluarga.

Baca Juga: Kalam Jumat: The Furniture (6)

Di sana bisa berakrab-akrab dengan keluarga dan bisa tersenyum puas.

Sementara lembaga panti tetap memberi santunan yang layak dan aktif mengontrol mereka secara bagus.

Sehingga psikologi anak itu utuh dan lebih sehat dibanding saat dikarantina di rumah panti yang gersang dan terpental dari dekapan dan kasih sayang keluarga.

Yatim, (al-yutmu), artinya sendirian. Karena tidak didampingi orang tuanya. Karena masih kecil dan belum balig, tentu saja butuh kasih sayang dan dekapan hangat dari orang tua.

Ketika sudah balig atau dewasa, maka tidak lagi disebut yatim. Anak yatim itu sangat butuh itu, di samping butuh makan dan minum.

Begitu juga kakek maupun nenek yang sudah lanjut usia, mereka lebih bahagia jika setiap hari bisa bersama cucu-cucunya, bisa bergurau dan bercanda.

Itu lebih sehat dan lebih manusiawi.

Berbeda jika memang mereka sudah tidak punya keluarga, baik keluarga dekat maupun jauh yang bisa dipasrahi merawat.

Maka panti adalah alternatif terbaik, di samping kebutuhan harian tercukupi, juga kebutuhan ibadah tersedia.

Umumnya, di panti jompo lebih efektif dalam membekali mereka sowan ke hadirat Tuhan nanti.

Ayat ini juga menasihati agar seseorang jangan sampai jatuh miskin totalitas. Miskin itu dekat dengan kekufuran.

Karena kemiskinan, seseorang lebih mudah mengabaikan keimanannya. Bisa melacur karena butuh uang.

Bisa maling karena tidak betah melarat. Makanya, jangan sampai miskin di dunia, miskin pula di akhirat, na’udz billah. (bersambung, in sya Allah).

Editor : Ainul Hafidz
#KH Mustain Syafii #the #Jumat #kalam #Jombang #furniture