Bisnis Desa Kita Features Hiburan Hukum Jombangan Jurnalisme Warga Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Olahraga Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Politika Religia Sosok Wisata

Binrohtal, Kadar Iman Seseorang Bisa Bertambah dan Berkurang, Begini Penjelasan Ketua PCNU Jombang

Rojiful Mamduh • Jumat, 7 Februari 2025 | 14:38 WIB
Binrohtal, sebuah tulisan soal ceramah islam dari beberapa tokoh islam di Jombang.
Binrohtal, sebuah tulisan soal ceramah islam dari beberapa tokoh islam di Jombang.

JombangBanget.id - Ketua PCNU Jombang sekaligus Pengasuh Pesantren Putri Tebuireng, KH Fahmi Amrullah Hadiziq, menjelaskan kadar iman.

’’Kadar iman seseorang bisa bertambah dan bisa berkurang. Dengan rutin ngaji seperti ini, kadar iman kita akan terus meningkat,’’ tuturnya, saat ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah Polres Jombang, Kamis (6/2).

Gus Fahmi cerita, seseorang bertanya kepada Imam Hasan al-Bashri: Apakah kau orang yang beriman?

Hasan al-Bashri menjawab dua.

Pertama, jika yang kau maksud (dengan beriman adalah) firman Allah ‘azza wa jalla QS Al-Baqarah 136: Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, maka jawabannya iya.

Karena dengan apa yang diturunkan-Nya itulah kita menikah, mewariskan dan melindungi tumpahnya darah.

Ini iman berhubungan dengan pernyataan kebenaran, bahwa Allah adalah Tuhan yang Maha Esa, dan apa yang diturunkan-Nya adalah kebenaran.

Kedua, jika yang kau maksud dengan beriman adalah firman Allah ta’ala QS Al-Anfal 2: Sesungguhnya orang-orang beriman adalah mereka yang bila disebut nama Allah SWT gemetarlah hati mereka, maka kita perlu memohon kepada Allah agar kita bisa termasuk dalam golongan itu.

Ini iman yang terasakan dan teralami langsung oleh jiwa dan raga manusia.

Ketika masuk pola ini, Hasan al-Bashri tidak mengatakan ’’iya’’ atau ’’tidak’’.

Ia mengungkapkan jawabannya dengan harapan, ’’Kita perlu memohon kepada Allah agar kita bisa termasuk dalam golongan itu.’’

Kita semua sudah beribu-ribu kali mendengar azan, mendengar nama-Nya yang Maha Agung, memekikkan takbir, mengucapkan tasbih, mengucapkan salawat dan baca Alquran.

Tapi, seberapa sering hati kita benar-benar bergetar ketika mendengar azan, atau mendengar nama-Nya yang Suci?

Kita lebih sering lalai daripada ingat. Bahkan, ketika ingat pun, hati kita masih tetap tak bergetar mendengar-Nya.

Karena getaran, salah satunya, lahir dari sebuah perasaan cinta dan takut yang mendalam, dan kebanyakan dari kita, belum sampai pada tahap itu.

Imam Hasan al-Bashri tidak berani menganggap dirinya sebagai orang yang beriman dari sudut pandang ini (QS. Al-Anfal: 2).

Sebab, hati manusia selalu terombang-ambing ke sana-ke mari.

Terlalu banyak hal yang membauri manusia, baik dari luar semacam gemerlapnya dunia, maupun dari dalam semacam beragamnya watak hati.

Semisal, ketika amarah datang, ketulusan tertekan. Ketika benci tiba, keadilan terpengaruhi.

Ketika godaan harta di depan mata, ketamakan tersemaikan. Ketika pesona jabatan digenggam tangan, kesombongan terbangunkan.

Ketidak beranian Imam Hasan al-Bashri menunjukkan kesadaran hatinya. Ia jujur mengakui kekurangannya.

Ia enggan berpura-pura untuk melindungi harga dirinya sebagai ulama besar. Di waktu yang sama, ia mengatur kesombongan agar tidak menguasainya.

Karena ia tahu betul, meski ia telah berusaha sepenuh nafas menjaga kemurnian hatinya, kelalaian pernah menyinggahi hatinya.

Lagi pula, getaran hati tidak bisa dipalsukan, dipura-purakan atau dipaksakan. (jif/naz)

Editor : Ainul Hafidz
#pcnu #Kadar #masjid #Iman #Binrohtal #polres #Jombang