Bisnis Desa Kita Features Hiburan Hukum Jombangan Jurnalisme Warga Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Olahraga Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Politika Religia Sosok Wisata

Kalam Jumat: The Furniture (6)

Ainul Hafidz • Jumat, 3 Januari 2025 | 14:49 WIB
Rubrik opini KH Mustain Syafii.
Rubrik opini KH Mustain Syafii.

’’Ya benar, bahwa suamiku memang pemabuk dan baru pulang tengah malam. Itu dia lakukan setiap kali dia keluar malam. Tapi..,’’

Si ibu tiba-tiba terdiam sejenak.

Seperti ada sesuatu yang dirahasiakan. Namun para tamu berjubah menyuruh melanjutkan cerita, ’’Ya, tapi apa…?’’

’’Tapi, begitu masuk rumah, dia segera membuka baju menuju kamar mandi, bersih-bersih dan bersuci, menagmbil air wudu dan salat semalaman, bersujud, bersimpuh, merintih dan beristigfar.

Begitu itu dia lakukan hingga fajar tiba dan langsung salat Subuh. Lalu tidur sejenak dan kembali bekerja seperti biasa.’’

Lagi-lagi ibu itu berhenti bercerita lagi, seolah enggan diketahui hakikat kehidupannya sehari-hari yang segera ditegur oleh para tamu untuk melanjutkan dan sang ibu kembali menurut.

’’Pagi hingga sore, suamiku bekerja sangat seirus dan hasilnya lebih didahulukan untuk memberi makan dua anak yatim yang hidup bersama kami, tinggal satu rumah dengan kami. Itu tu anaknya...’’

Sembari menunjuk ke arah yang dituju.

Mendengar paparan sang ibu, para tamu berjubah itu segera menghentikan paparan dan berkata: ’’Stop...stop’’ dan berkomentar menganalisis.

’’Inilah amalan almarhum yang menyebabkan Tuhan membisiki kami agar segera datang ke rumah ini.

Dia memang berbuat maksiat, tapi segera menyadari diri, beristigfar, salat malam dan amal sosial inilah yang tidak pernah dilihat oleh para tetangga.

Baca Juga: Kalam Jumat: The Furniture (3)

Mereka hanya mengetahui yang buruk-buruk saja, lalu menghakimi.

Mereka menutup mata dengan kebajikan seseorang, sehingga tidak mengerti pula kalau dosa almarhum sudah diampuni. Lalu terus berburuk sangka dan merendahkan.’’

Jika benar, bahwa kisah itu nyata, maka apa yang sesungguhnya menyebabkan para tamu tak dikenal itu datang..?

Pertama, apakah karena kesadaran almarhum yang segera bertobat setelah melakukan maksiat…? Bisa jadi.

Sebab salah satu sifat rahmah-Nya, sifat belas kasihan-Nya adalah tidak segera mencatat perbuatan buruk, kecuali setelah melewati setengah hari atau enam jam.

Jadinya, dosa teler semalaman tadi belum sempat dicatat, belum dibukukan dalam catatan amal oleh malaikat.

Berbeda dengan amal baik yang karena sifat sayang-Nya, maka langsung dicatat sebagai kebajikan.

Bahkan baru sekedar niat saja sudah diapresiasi. Ya, karena Tuhan maha pengasih.

Kedua, atau karena jiwa sosialnya yang ikhlas merawat dua anak yatim bergabung di rumahnya, satu meja dan satu menu ..? Ini pasti.

Sebab siapa yang merawat anak yatim adalah menjadi kesayangan Tuhan.

Siapa menyantuni mereka diakui oleh Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam sebagai teman akrab di surga dan duduk berdampingan dengan beliau.

Bahkan diisyaratkan seperti dua jari: telunjuk dan jari tengah yang erat bedampingan.

Dan yang ketiga, siapa sesungghnya para tamu berpakaian serba putih yang datang tak diundang tersebut..?

Kok yo ngerti di situ ada mayit saleh yang ditelantarkan tetangga..? (bersambung, in sya’ Allah).

Editor : Ainul Hafidz
#anak yatim #KH Mustain Syafii #Jumat #kalam #yatim #Jombang