Bisnis Desa Kita Features Hiburan Hukum Jombangan Jurnalisme Warga Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Olahraga Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Politika Religia Sosok Wisata

Jangan Salah Pasangan!

Ainul Hafidz • Kamis, 2 Januari 2025 | 14:38 WIB
Pinkan Putri Salsabila, mahasiswa Fakultas Psikologi, Universitas Muhammadiyah Malang
Pinkan Putri Salsabila, mahasiswa Fakultas Psikologi, Universitas Muhammadiyah Malang

Kasus pernikahan orang tua yang sudah tidak bahagia tetapi pernikahan tersebut dipertahankan dengan alasan demi anak mereka.

Menurut saya hal ini malah menjadi bumerang dengan tiga alasan.

Yaitu anak dijadikan sekutu, anak akan dipaksa untuk berperan dewasa, dan menjadikan model pernikahan orang tua tersebut sebagai model yang buruk.

Dapat saya jelaskan tiga konsekuensi negatif dari permasalahan tersebut.

Anak dijadikan sekutu yaitu orang tua yang berkonflik seringkali melibatkan anak mereka dalam konflik mereka.

Meminta dukungan, bahkan meminta anak untuk memihak salah satu orang tuanya.  Ini melanggar batasan peran anak dan dapat menyebabkan trauma psikologis pada anak.

Dari perspektif teori perkembangan Erikson, hal ini dapat mengganggu perkembangan identitas anak, karena mereka dipaksa untuk mengambil peran yang tidak sesuai dengan usia dan perkembangan emosional mereka.

Anak diberi peran dewasa, yaitu anak dalam situasi ini seringkali diharapkan untuk mengambil peran dewasa yang tidak seharusnya mereka pikul.

Seperti menjadi penengah, bahkan menjadi tempat bergantung orang tua secara emosional.

Ini menyebabkan beban mental yang besar dan menghambat perkembangan normal anak.

Anak mungkin mengalami gangguan attachment yang tidak aman karena ketidakmampuan orang tua untuk memberikan dukungan emosional yang stabil.

Baca Juga: Di Balik Pernikahan Gus Haidar dengan Ning Agist: Tak Punya Tanggal Jadian, Tapi Punya Tanggal Pernikahan

Pada dasarnya mereka dilahirkan dengan harapan memiliki keluarga yang utuh dan harmonis.

Model hubungan yang buruk yaitu pernikahan yang tidak bahagia memberikan contoh yang buruk kepada anak.

Anak mungkin belajar bahwa konflik dan ketidakbahagiaan adalah hal yang normal dalam sebuah hubungan, yang dapat mempengaruhi hubungan mereka sendiri di masa depan.

Teori Bandura menunjukkan bahwa anak belajar melalui pengamatan dan peniruan, sehingga mereka akan meniru pola hubungan yang mereka saksikan di rumah.

Oleh karena itu, disini saya memiliki pandangan bahwa sebaiknya orang tua perlu mempertimbangkan dampak jangka panjang dari keputusan mereka terhadap anak mereka dan mencari bantuan profesional jika mereka mengalami kesulitan dalam hubungan mereka.

Terapi keluarga dapat membantu orang tua untuk mengatasi konflik mereka dan memberikan lingkungan yang lebih sehat bagi anak mereka. 

Penting untuk diingat bahwa kesejahteraan anak  harus menjadi prioritas utama.

Karena jika dibiarkan, anak yang akan menanggung konsekuensi jangka panjang seperti gangguan emosional, kesulitan dalam membentuk hubungan yang sehat di masa depan, dan masalah kesehatan mental lainnya.

Dan mungkin bagi saya, hal ini dapat dicegah jika lebih selektif dalam memilih pasangan hidup.

Penulis:

Pinkan Putri Salsabila

Mahasiswa Fakultas Psikologi, Universitas Muhammadiyah Malang

Editor : Ainul Hafidz
#opini #pernikahan #salah #universitas muhammadiyah #Mahasiswa #Jangan #Malang #Jombang #pasangan