PKK (Pembinaan Kesejahteraan Keluarga) berperan penting dalam pengelolaan sampah di Desa Tegalgondo dengan pendekatan berbasis komunitas.
Sejak didirikan pada 1967, PKK telah mendorong kesejahteraan masyarakat melalui program kebersihan lingkungan.
Salah satu inisiatif penting adalah pembentukan bank sampah, yang tidak hanya mengurangi volume limbah tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
PKK juga aktif mengedukasi masyarakat untuk mengolah sampah organik menjadi kompos dan memanfaatkan sampah anorganik, seperti pembuatan ecobrick dan produk daur ulang lainnya.
Namun di Desa Tegalgondo, Kabupaten Malang, menghadapi tantangan besar, termasuk peningkatan jumlah sampah akibat bertambahnya populasi mahasiswa dan kurangnya fasilitas pendukung seperti gudang penyimpanan.
Rendahnya tingkat pendidikan masyarakat juga menghambat pemahaman tentang pengelolaan sampah.
Keterbatasan dana membuat PKK bergantung pada inisiatif mahasiswa melalui praktik kerja lapangan (PKL), yang sering kali bersifat sementara.
Teori tindakan komunikatif Jürgen Habermas yang merupakan tokoh filsuf dan sosiologi dari Jerman juga digunakan untuk memahami dinamika pengelolaan sampah di Tegalgondo.
Habermas menekankan pentingnya komunikasi rasional dan inklusif untuk mencapai pemahaman, persetujuan, dan konsensus.
Forum diskusi antara PKK, masyarakat, mahasiswa, dan pemerintah desa menjadi kunci untuk mengidentifikasi masalah, menyelaraskan kepentingan, dan merancang solusi bersama.
Proses ini mencakup tiga tahapan: pertama, pemahaman berbasis data objektif seperti volume sampah dan kapasitas TPA, kedua yaitu persetujuan nilai-nilai bersama, seperti pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, dan ketiga konsensus yang menghasilkan solusi kolektif.
Baca Juga: Unwaha Ajak Kader PKK Tingkatkan Kesadaran Pangan Sehat
Pendekatan ini memungkinkan identifikasi kebutuhan, seperti pelatihan pengelolaan sampah dan penyediaan fasilitas pendukung.
Solusi konkret yang diusulkan meliputi pelatihan pengelolaan sampah secara berkelanjutan, pendirian bank sampah di setiap dusun, serta kolaborasi erat antara PKK, mahasiswa, dan pemerintah desa.
Mahasiswa dapat memberikan pelatihan, sedangkan pemerintah desa menyediakan infrastruktur dan pendanaan.
Dengan saling memahami kebutuhan dan kekurangan, desa dapat menciptakan solusi yang efektif dan berkelanjutan.
Pengelolaan sampah berbasis komunitas ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, mengurangi ketergantungan pada pihak luar, dan menciptakan lingkungan yang lebih bersih.
Dengan dukungan semua pihak, Desa Tegalgondo dapat menjadi contoh sukses dalam pengelolaan sampah yang inklusif dan inovatif.
Penulis:
Arya Agung Raharjo
Mahasiswa Program Studi Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Muhammadiyah Malang
Editor : Ainul Hafidz