Oleh: Fathoni Mahsun[1]
Barangkali tidak banyak masyarakat Jombang yang mengetahui, bahwa terdapat penulisan yang cukup fatal tentang tanggal gugurnya pahlawan asal Jombang bernomor registrasi A1 di Taman Makam Pahlawan (TMP) Jombang.
Dalam hal ini tanggal harus kita maknai not just a number, tapi menyangkut perstiwa sejarah penting di mana yang bersangkutan terlibat di dalamnya.
Perlu dipahami nomor registrasi A1 berarti jasad pertama yang dimakamkan di TMP Jombang, dan oleh karenanya menjadi sorotan dan membetot banyak perhatian pada zamannya.
Sehingga ketika terjadi kesalahan penulisan tanggal meninggal, akan ada data pembanding yang bisa mengkonfirmasi.
Tulisan ini pun dibuat dengan semangat memberikan data pembanding, lengkap dengan latar belakang peristiwanya.
Makam dengan nomor registrasi A1 adalah jasad Pahlawan Hartono.
Di nisan makam tersebut tertulis meninggal pada 16 - 6 – 1945.
Bagi peminat sejarah, tanggal ini tentunya aneh, karena bulan Juni Indonesia belum merdeka dan tidak ada peristiwa perang besar di tanggal itu.
Di tanggal itu BPUPKI masih melaksanakan sidang ke-dua.
Pergolakan yang terjadi di sekitar bulan Juni tersebut adalah berkisar pada perdebatan tentang konsep negara, serta segala persiapan tentang lahirnya negara baru yang belum tahu akan terjadi kapan.
Sehingga hemat penulis, seharusnya yang ditulis adalah tanggal 16 – 11 – 1945.
Jadi bulan November, bukan Juni. Tanggal 16 November ini menjadi sangat masuk akal karena merupakan rangkaian dari pertempuran 10 November 1945 di Surabaya.
Lebih dari itu, penyebutan 16 November 1945 ini setidaknya berdasar dua sumber, yaitu dari buku Sejarah Perjuangan Rakyat Bersenjata Kabupaten Jombang 1945 – 1949, yang diterbitkan pada 1991.
Serta catatan Mayor Purn M. A. Soemarno yang ditulis pada 1989.
Mari kita ikuti peristiwa lengkapnya.
Komandan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Jombang, Letkol Kretarto, sudah sejak 28 Oktober 1945 mengerahkan anak buahnya dari Jombang ikut terlibat menghalau kedatangan Sekutu.
Bahkan Kretarto sendiri diserahi menjaga sektor Surabaya tengah. Pertahanan Surabaya secara lebih lengkap adalah sektor barat dipimpin Kunkiyat.
Sektor tengah dipimpin Kretarto. Dan sektor timur dipimpin Kadim Prawirodirjo.
Kelak ketika pasukan kita terdesak keluar Surabaya, Hisbulloh Jombang juga mengirimkan bantuan pasukan.
Ketika akhirnya 10 November meletus, tanggung jawab Kretarto masih di sektor Surabaya tengah.
Secara kebetulan TKR Jombang yang dikerahkan ke Surabaya juga bergerak di sektor Surabaya tengah.
Contohnya saja, pada 12 November 1945 dikirim satu seksi pasukan dari Jombang di bawah pimpinan M.A. Soemarno (catatannya yang dirujuk oleh penulis).
Setelah menghadap langsung ke Kolonel Sungkono, Soemarno ditugasi merebut kembali kantor Pos Besar, tidak jauh dari kompleks kantor Gubernur.
Terjadi tembak menembak sengit antara pasukan Soemarno dan pasukan Sekutu yang menduduki Kantor Pos.
Tembak menembak terjadi tanggal 13-14 November 1945.
Namun karena dilengkapi tank dan dikawal pesawat, kedudukan musuh di Kantor Pos Besar belum bisa digoyahkan.
Penyerangan kedua dilakukan dengan jumlah pasukan lebih besar lagi dari Jombang, yaitu satu kompi pasukan di bawah Kapten Muljono, dan satu kompi pasukan di bawah Kapten R. Willy Soedjono.
Target masih tetap yaitu merebut Kantor Pos Besar. Willy Soedjono membawa pasukannya menuju kantor Pos pada tengah malam, melalui rute Kedungdoro, Jl. Nias, dan Tembokdukuh.
Namun secara tak terduga terjadi serangan mendadak dari pasukan Sekutu yang ternyata telah menguasai stasiun Pasar Turi.
Kontak senjata yang terjadi pada 16 November 1945 ini mengakibatkan dua orang gugur, yaitu salah satu komandan Seksi, Letnan Muda Soegeng yang sayangnya jenazahnya tidak bisa diambil.
Beliau adalah putra Jombang pertama yang gugur pada rangkaian pertempuran 10 November. Komandan Kompinya sendiri yaitu kapten Willy mengalami luka berat.
Korban gugur kedua adalah Hartono. Beliau ini merupakan pahlawan pertama dari Jombang yang dimakamkan di TMP Jombang. Demikian peristiwanya.
Dalam buku Sejarah Perjuangan Rakyat Bersenjata Kabupaten Jombang 1945 – 1949, menyebutkan bahwa Hartono berasal dari Wersah.
Hal ini nyambung dengan informasi yang penulis dapatkan bahwa pernah Jl. Pahlawan yang membentang dari perempatan Tugu ke timur, yang juga berada di wilayah Wersah, diganti dengan nama Jl. Siliwangi.
Penggantian tersebut diprotes karena di jalan itu lah rumah pahlawan pertama dari Jombang.
Informasi ini perlu pendalaman lebih lanjut. Karena di makam Pahlawan Hartono malah tidak tertulis Wersah, tapi Diwek.
Nah apakah Pahlawan Hartono lahir di Diwek lalu tinggal di Wersah, atau sebaliknya lahir di Wersah lalu tinggal di Diwek? Masih butuh waktu untuk mencari kebenarannya.
Adalah Pak Mudjito, putra almarhum Bapak M.A. Soemarno yang makamnya hanya beberapa jengkal dari Pahlawan Hartono, yang pertama menyadari kesalahan penulisan tanggal tersebut.
Sempat melaporkan ke pihak terkait tapi belum ada pembenahan hingga sekarang. Menurutnya kesalahan tersebut terjadi setelah ada renovasi makam.
Malah untuk mendukung argumennya P. Mudjito dimintai bukti surat keterangan kematian, bahwa pahlawan Hartono benar meninggal tanggal 16 – 11 – 1945.
Saya yang di-cerita-i hanya bisa tertawa dalam hati. Kok bisa tanda bukti kematian pahlawan adalah surat keterangan kematian.
Karena, tanpa surat keterangan kematian, selain dua sumber tulisan di atas yang ditulis orang sezaman (hehehe..., mengikuti istilah yang sedang tren), kalau kita lihat di dinding marmer yang memuat daftar nama-nama pahlawan yang dimakamkan di TMP Jombang, tanggal meninggal Pahlawan Hartono adalah 16 – 11 – 1945.
Mudah-mudahan tanggal di nisan Pahlawan Hartono segera direvisi. Amin
[1] Penulis Novel Perang Jombang
Editor : Ainul Hafidz