Bisnis Desa Kita Features Hiburan Hukum Jombangan Jurnalisme Warga Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Olahraga Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Politika Religia Sosok Wisata

Kalam Jumat: The Furniture

Ainul Hafidz • Jumat, 8 November 2024 | 14:38 WIB
Rubrik opini KH Mustain Syafii.
Rubrik opini KH Mustain Syafii.

Al-Ma’un, the Furniture.

Dalam al-mushaf, letak surah ini ada setelah surah Quraisy yang menggambarkan kegiatan bisnis suku tersebut yang sangatlah maju.

Punya pasar dan relasi yang luas hingga ke luar negeri.

Pada musim dingin, mereka berdagang ke negeri Yaman dan pada musim panas berbisnis ke negeri Syam atau Siria.

Keuntungannya sangat besar dan hal itu karena berbagai faktor, antara lain: Pertama, mereka adalah bangsa paling dihormati di kalangan bangsa Arab.

Hal itu karena suku Quraisy yang berjuluk sebagai tetangga Tuhan, Sang pemilik rumah tua, al-bait al-atiq, Kakbah.

Kedua, mereka terkenal jujur dan amanah.

Ketiga, sebagai suku yang tangguh, pemberani dan berwibawa.

Maka, mau berdagang ke mana saja, suku Quraisy pasti aman dan tidak satupun ada begal atau penjahat yang berani mengganggu.

Dengan demikian, mereka menjadi bangsa kelas atas dan konglomerat yang disegani.

Hal biasa, sikap para orang kaya tersebut cenderung tidak ramah dan elitis, sehingga menjadikan harta sebagai tolok ukur derajat seseorang di masyarakat.

Baca Juga: Kalam Jumat: The Time (6)

Pedagang yang terbiasa perhitungan dan kalkulasi untung rugi, maka memberi, bersedekah, menyantuni orang miskin tidak dianggap perilaku mulia yang membahagiakan, melainkan sebagai tindakan yang merugikan.

Begitu halnya berbagi kepada tetangga, berbuat sosial terhadap sesama kawan selalu diperhitungkan secara matematik dan finansial.

Sifat-sifat inilah yang kemudian ditegur oleh surah al-Ma’un (the furniture, perkakas rumah tangga) dengan teguran cukup tajam dan menyentuh.

Teguran keras yang dikaitkan dengan kualitas keimanan seseorang, lalu divonis sebagai pendusta agama, ’’yukazzib bi al-din.’’

Ya, karena mereka tidak peduli penderitaan anak-anak yatim dan abai terhadap kelaparan orang-orang miskin.

Dari munasabah surah kaji ini dengan surah sebelumnya, cukuplah sebagai pitutur, bahwa orang-orang kaya itu cenderung sibuk dengan hartanya, dengan dirinya sendiri demi memenuhi syahwat keduniawian.

Proyeksinya menjadi terhormat di lingkungannya, bukan karena beramal baik, melainkan karena kekayaannya.

Bagi mereka, kekayaan adalah kemuliaan dan kemuliaan adalah kekayaan.

Al-Ma’un adalah salah satu surah yang namanya diambil dari kata yang ada pada surah itu sendiri, yaitu pada ayat terakhir.

Digambarkan, bahwa saking kikirnya orang tersebut hingga tidak mau meminjamkan sebagian perabot rumah tangga, peralatan apapun, kayak gergaji, palu, tangga, obeng, pisau, cangkul dan sebagainya kepada sesama.

’’Wa yamna’un al-ma’un.’’

Film Mahabarata bertutur, ’’..Seseorang berubah menjadi sombong acap kali bukan karena dirinya, melainkan karena mahkota di kepalanya.’’  (bersambung, insya’ Allah).

 

Editor : Ainul Hafidz
#KH Mustain Syafii #Jumat #Quraisy #kalam #Jombang #furniture #Bisnis