Wa ’amilu al-shalihat. Amal sosial itu lintas dan pasti diapresiasi oleh Tuhan.
Orang yang beriman, tetapi bakhil, pelit, tidak mau beramal sosial, maka terbacalah kerendahan kualitas keimanannya.
Muslim, kok medit and pelit, maka diragukan keimanannya. Lebih ngeri lagi adalah kutukan surah al-Ma’un, dia dianggap pendusta agama, keimanan pura-pura.
Jadi, beramal saleh, berbakti sosial, menyantuni, menolong sesama itu gandengannya keimanan, bukti keimanan.
Bagai dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan.
Beriman saja, tanpa amal sosial, pastilah sengsara nanti di akhirat, meski endingnya di surga karena belas kasih Tuhan.
Beramal kebajikan, berbakti sosial tinggi tanpa keimanan kepada Allah SWT, pasti akan diberi servis duniawi sesuai kadarnya kala dia hidup di dunia.
Sementara di akhirat nanti tidak akan mendapat kebaikan apa-apa. Sebab akhirat itu hanya milik orang beriman saja, sedangkan dia mengingkari.
Amal saleh itu ada dua. Ada amal saleh yang disukai Tuhan dan ada amal saleh tidak disukai Tuhan.
Amalnya sih bagus, orang-orang suka kepadanya, tetapi Tuhan tidak suka. Meski begitu, tetap diapresiasi oleh Tuhan sesuai kurikulumnya.
Contohya..? Bingkisan, sembako, duit menjelang pemilihan kepala daerah dan sebangsanya.
Baca Juga: Kalam Jumat: The Time (3)
Amalnya, sedekahnya sudah pasti bagus, saleh. Ya, karena memberi dan mengenakkan orang lain.
Tapi karena tujuan utamanya tidak untuk Allah SWT, maka Tuhan tidak menyukai. Meski demikian, tetap saja Tuhan mengapresiasi.
Seperti diberi kemenangan dan terpilih karena sedekahnya gede.
Wow, betapa banyak pemimpin negeri ini yang tidak disukai Tuhan, meski resmi dan sah menjadi pemimpin.
Kecuali jika dia tetap dalam kejujuran, maka kepemimpinannya berpeluang bisa maslahah berpahala dan bisa mengunduh rida Tuhan.
Berbeda dengan jika kekuasaan tersebut diperoleh dengan cara curang, mencuri suara orang lain, membeli di KPU, maka berbagai persoalan agama muncul akibat kebusukan tersebut. Antara lain:
Pertama, bagaimana hukum gaji yang diterima, halal atau haram..?
Kedua, jika itu termasuk hak Adam, maka haruskah meminta keikhlasan dari pemilik suara yang sah..?
Dan yang pasti, di akhirat nanti diperkarakan dan semua yang terkait dituntut bertanggung jawab. Perkoro siksa, hanya Tuhan saja yang mengerti. (bersambung, in sya’ Allah)
Editor : Ainul Hafidz