JombangBanget.id – Proyek pembangunan saluran irigasi Pariterong (Papar-Turi-Peterongan) di Dusun/Desa Kedawong, Kecamatan Diwek, Jombang dikeluhkan warga sekitar.
Terutama di titik pengerjaan crossing saluran (saluran yang melintasi jalan).
Warga mengeluhkan kontruksi jembatan yang dinilai terlalu sempit dan curam.
Pantauan di lokasi Senin (30/9) siang, tampak sejumlah pekerja tengah sibuk menyelesaikan pembangunan jembatan yang melintas di atas saluran irigasi Pariterong.
Permukaan jalan di titik tersebut yang semula datar, sekarang sudah dibongkar dan dibangun jembatan di atasnya.
Sayangnya, kontruksi jembatan banyak dikeluhkan warga sekitar lantaran dirasa terlalu sempit dan curam.
”Sejak awal pembangunan jembatan, banyak warga yang minta supaya jembatan tidak terlalu naik, ternyata sekarang begini,” kata Hasan salah satu warga kepada Jawa Pos Radar Jombang.
Salah satuya jembatan itu dinilai selain terlalu menanjak, juga curam.
”Bukannya apa-apa, di sini jalan penghubung desa, juga ke sawah. Yang lewat tidak hanya sepeda motor, kadang mobil muatan untuk panen lewat situ,” imbuh dia.
Karena dinilai terlalu curam dan bagian lintasan jembatan menyempit, bisa membahayakan pengendara. ”Sudah disampaikan ke desa,” kata Hasan.
Dikonfirmasi terpisah, Sekdes Kedawong Mohamad Maftuh Annajah tak menampik, pihaknya sudah menerima keluhan dari warga terkait pembangunan jembatan.
Saat ini juga sudah ditindaklanjuti dengan berkirim surat kepada Kementerian PUPR Dirjen Sumber Daya Air BBWS Brantas Kegiatan Irigasi dan Rawa selaku pemilik kewenangan proyek saluran irigasi Pariterong.
Tembusan Pemkab Jombang dan pelaksana proyek.
”Jadi, jalan itu masuk kewenangan kabupaten, menghubungkan Kedawong ke Desa Ngudirejo, surat dari desa sudah dikirim ke dinas PUPR dan pelaksana,” kata Maftuh.
Dalam isi surat itu ada tiga poin yang menjadi keluhan warga.
Pertama, terkait kemiringan jalan terlalu curam. Sehingga dimungkinkan kendaraan mengalami kesulitan ketika melintas, terutama pera petani saat mengangkut hasil panen.
”Poin kedua terjadi penyempitan di badan jembatan, lebar jembatan yang dikerjakan terlihat sempit sehingga tidak bisa digunakan sisipan kendaraan roda empat lebih, harus bergantian dulu,” imbuh dia.
Ketiga, bangunan pasangan batu penahan jalan di sisi selatan jembatan terlalu masuk ke badan jalan.
”Sehingga menyisakan ruang bahu jalan, ini berpotensi memicu terjadinya kecelakaan lalu lintas,” ujar Maftuh.
Pihaknya sebelumnya sudah melakukan koordinasi dengan pelaksana proyek secara lisan.
”Jadi, kami di pemerintah desa memfasilitasi aspirasi warga, harapannya ditindaklanjuti sama pelaksana proyek,” kata Maftuh.
Terpisah, Humat PT Wijaya Karya (Wika) Suryadi mengakui, sudah menerima surat dari Pemdes Kedawong.
”Suratnya sudah kami terima, permintaannya warga (jembatan) dilebarkan. Terus sudah ada perbaikan, karena kemarin itu sebenarnya belum terpasang semua materialnya,” kata Suryadi.
Kendati begitu, diakui lebar jembatan menyesuaikan kondisi awal jalan.
”Kita sesuaikan eksisting jalan cornya segitu sekitar 4 meteran lebarnya,” imbuh dia.
Terkait kondisi jembatan yang dinilai terlalu curam, Suryadi belum bisa menanggapi banyak. ”Kemarin kalau tidak salah yang lebarnya saja,” ujar Suryadi.
Kendati begitu, sampai saat ini pengerjaan di lokasi belum sepenuhnya tuntas.
”Iya, masih ada pekerjaan di sana,” kata Suryadi. (fid/naz)
Editor : Ainul Hafidz