Lafi khusr. Sungguh dalam kerugian. Tidak sama dengan ’’khasir’’, merugi (innal-insan lakhasir).
Kalimat ’’sesungguhnya manusia dalam kerugian’’ tidak sama maknanya dengan kalimat ’’sesungguhnya manusai merugi.’’
Khasir adalah keterangan untuk diri manusia itu, bahwa dirinya sedang merugi. Di sini tidak disebutkan seperti apa kadar kerugiaannya.
Bisa berat dan bisa ringan, bisa sederhana dan bisa lumayan parah.
Tidak sama dengan kalimat ’’Lafi khusr’’, sungguh dalam keadaan merugi.
Fi, artinya ’’di dalam.’’ Menunjukkan, kerugian itu bersifat menyeluruh dan menerpa manusia tersebut dari berbagai penjuru.
Manusia itu terkurung dan terjerembab dalam kerugian nyata sehingga tidak ada daya untuk keluar dari kungkungan tersebut.
Lagian, tidak punya kemampuan meloloskan diri. Jadi. ’’Lafi khusr’’ lebih parah ketimbang ’’khasir.’’
Hal ini bisa dimaklumi karena konteksnya hari kiamat nanti, di mana tidak seorangpun bisa membantu dan meringankan beban dan azab Tuhan.
Siapa yang bisa menolong dari kerugian tersebut, selain amalnya sendiri. Bisa pula dari syafaat Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam, jika beliau berkenan.
Ya, tetapi sejauh mana kedekatan dia dengan sang baginda.
Dan penyelamat tersebut ditunjuk sendiri oleh Tuhan pada terusane ayat, yoiku ada empat pilar: Keimanan, amal baik, nasihat kebenaran dan nasihat kesabaran.
’’… Illa al-ladzin amanu wa ‘amilu al-shalihat wa tawashau bi al-haq wa tawashau bi al-shabr.’’ Mereka yang memiliki empat di atas dijamin tidak merugi, sehingga keadaannya di akhirat nanti aman dan nyaman.
Pertama, ’’al-ladzin amanu’’, orang yang beriman. Ini syarat mutlak dan tidak bisa dinafikan.
Keimanan ini seperti pondasi sebuah bangunan. Tanpa pondasi, bangunan tiada bisa berdiri. Tanpa iman, semua sia-sia belaka.
Beriman kepada Allah SWT sebagai Tuhan satu-satunya. Beriman kepada para Rasul dan seterusnya.
Dari keimanan ini, baru item berikutnya ada dan berguna secara universal.
Beriman itu punya konsekuensi kepatuhan, yaitu melakukan sesuatu sesuai perintah Tuhan.
Maka, setidaknya semua syari’ah yang sifatnya ibadah murni kepada Tuhan adalah ekspresi keimanan. Seperti aktif shalat, berpuasa, haji dan seterusnya.
Ini lebih berorientasi pada sektor vertical, habl min Allah. Kedua, ’’wa ‘amilu al-shalihat’’, berprilaku yang baik.
Shalihat adalah semua prilaku yang pantas bagi kemanusiaan.
Orang beriman dituntut berprilaku baik, berkebaikan sosial kepada semua manusia, secara non diskriminatif, baik agama, ras maupun gender. Justru amal sosial inilah yang sangat disukai Tuhan.
Amal sosial ini acapkali lebih berfaedah bagi manusia dan sering kali balasannya kontan saat masih di dunia.
Seperti sedekah, selain disukai Tuhan, disukai pula oleh umat manusia. Selain itu juga berfungsi sebagai tolak balak dan bermanfaat langsung bagi pelakunya. (bersambung, insya’ Allah).
Editor : Ainul Hafidz