’’Inn al-insan lafi khusr.’’ Sungguh setiap manusia merugi.
Terma ini ditegaskan oleh Tuhan dengan nada serius dan diawali dengan gaya sumpah.
Bersumpah dengan al-‘ashr, waktu. Dan itu kebebasan bagi-Nya sebagai Dzat Maha Segala, al-Muqsim.
Dia mau bersumpah dengan apa saja (al-muqsam bih) boleh.
Bersumpah dengan Diri Sendiri atau dengan makhluk-Nya.
Sedangkan isi sumpah, al-muqsam ‘alaih, pastilah sesuatu yang sangat penting diungkapkan atau dinformasikan kepada umat manusia.
Qasam, sumpah berfungsi sebagai bentuk keseriusan pengucapnya.
Pembubuhan huruf sumpah tidak berarti Tuhan ingin diperhatikan, tetapi demi kemaslahatan manusia itu sendiri.
Mereka yang memperhatikan pastilah akan beruntung, sedangkan yang tidak mengindahkan pastilah bakal merugi.
Guru yang mewanti-wanti murid agar rajin belajar, keuntungannya berpulang pada murid itu sendiri. Dan yang malas, lalu tidak lulus ujian mesti menyesal.
Setiap makhluk yang dijadikan bahan bersumpah pastilah sangat penting perannya dengan materi penyumpahan tersebut.
Baca Juga: Kalam Jumat: The Time
Sangatlah penting, sangatlah erat hubungannya antara waktu (al-‘ashr) dengan efek kegagalan dan kerugian (khusr).
Dan dengan berpikir sederhana saja, semua bisa mengerti hal tersebut.
Itu teori konsekuensi yang umum. Bahwa siapapun yang efektif menggunakan waktu, maka dilah yang beruntung.
Dan siapa yang menya-nyiakan pasti merugi sendiri.
Orang Mexiko bilang: ’’Burung yang datang pagi di area persawahan, dialah yang menguasai medan.’’
Itu hukum bisnis kuno: ’’Siapa menguasai pasar, dialah yang untung besar.’’
Al-Hadis membahasan dengan ’’al-asbaq’’, yang paling dahulu, yang memulai duluan. Dua orang lagi berseteru, kemudian.
’’Siapa yang mengulurkan tangan duluan, maka dialah yang duluan masuk surga. ’’Al-asbaq, asbaquhuma ila al-jannah.’’
Kenapa pada surah ini yang diblow-up hanya mereka yang merugi saja, padahal sama-sama punya keterkaitan dengan waktu, baik mereka yang merugi maupun yang beruntung?
Ya, sebab orang yang beruntung pastilah orang-orang cerdas dan mengerti, sehingga baginya, waktu itu emas dan tidak disia-siakan.
Maka, tidak perlu dinasihati. Dia sudah pandai mengatur diri sendiri. Berbeda dengan yang dungu dan lalai dan ini yang terbanyak, maka sebelum merugi dinasehati lebih dulu.
Barangkali ada manfaatnya atau setidaknya mengurangi akibat buruk yang menimpanya.
Bagi manusia pemburu nafsu dan suka hidup hedonic, waktu dan kesehatan plus servis duniawi adalah untuk bersenang-senang dan kepuasan.
Kemudian, Alquran menyindirnya, bahwa manusia macam ini layaknya binatang, bahkan lebih parah. Kenapa..?
Karena binatang tidak dikarunia akal sehat sedangkan manusia dikaruniai.
Manusia dijanjikan surga dan nereka kelak di akhirat nanti, tapi binatang tidak.
Jadi, bila manusia itu brengsek, maka skornya lebih rendah ketimbang binatang.
Sama-sama mencuri, kalau tikus mencuri, semua memaklumi. Maklum hewan.
Kalau manusia korupsi..? (bersambung, in sya’ Allah).
Editor : Ainul Hafidz