JombangBanget.id - Keberadaan tabung gas elpiji 3 kilogram atau tabung gas melon yang diperuntukkan untuk warga miskin di Kabupaten Jombang, mulai sulit ditemukan.
Hal itu, disebut sudah terjadi sejak 3 pekan terakhir.
Salah satunya diungkapkan Maulana Ibrohim, 24, warga Desa Sengon, Kecamatan Jombang.
Ia menyebut, kesulitan mencari elpiji 3 kilogram di sekitar rumahnya.
”Sekarang lagi susah, saya sudah cari dari toko pojok sana sampai toko sini tidak ada. Jadi ya kesulitan cari elpiji,” kata Ibrohim, Rabu (18/9).
Sulitnya mencari elpiji itu, disebutnya sudah berlangsung sejak tiga pekan terakhir ini.
Beberapa toko di dekat rumahnya, selalu kehabisan stok.
”Sekarang sudah langka, paling nanti carinya di luar pakai sepeda motor,” ujarnya.
Akibat sulitnya dicari, harga elpiji 3 kilogram yang statusnya bersubsidi itu juga disebutnya ikut melonjak.
Di beberapa toko kelontong di sekitar rumahnya, ia menyebut harga elpiji tiga kilogram sudah mencapai hingga Rp 20 ribu.
”Harganya sudah naik jadi Rp 20 ribu, ya biasanya Rp 18 ribu kalau beli,” tuturnya.
Baca Juga: Kepergok Curi Tabung Elpiji, Warga Jombang Dihajar Massa
Tak hanya dirasakan pembeli, penurunan pasokan elpiji itu juga diakui Feri Kurniawan, 34, salah satu pengecer elpiji keliling.
Ia menyebut, sejak tiga pekan ini pasokan elpiji memang tak lagi bisa lancar seperti sebelumnya.
”Biasanya dikirm 30 sekarang dikasih 12 atau 10 saja dari pangkalan, pengurangannya banyak, padahal pelanggan saya kebutuhannya 30 setiap hari,” ungkapnya.
Kondisi itu membuatnya terpaksa tak bisa memenuhi order pelanggannya. Karena ia mengaku tak bisa setiap hari mendapat pasokan.
”Sudah tiga mingguan ini, biasanya bisa stabil, sekarang sudah tidak stabil. Kadang sehari dapat dari pangkalan, sekarang kadang dapat kadang tidak,” imbuhnya.
Selain itu, harga elpiji juga ikut melambung akibat sulitnya elpiji didapatkan.
”Biasanya Rp 16 ribu, sekarang jadi Rp 18 ribu sampai Rp 19 ribu juga ada,” tambahnya.
Ia mengaku tak tahu pasti penyebab mulai sepinya elpiji melon di wilayahnya.
Pengurangan jatah diduga karena adanya kebutuhan masyarakat yang meningkat dan diperburuk pasokan dari yang berkurang.
”Kebutuhan kan banyak, petani juga banyak diesel, dari Pertamina katanya pangkalan juga dikurangi,” pungkasnya.
Sulitnya mendapat elpiji 3 kilogram juga diakui salah satu pangkalan elpiji.
Selain jumlah pasokan dari Pertamina yang menurun, kelangkaan itu juga karena adanya serbuan banyak pembeli dari luar kota.
”Untuk LPG 3 kilogram memang saat ini mengalami kelangkaan,” kata Dwi Puri, pemilik pangkalan Elpiji di Jl Kapten Tendean, Desa Sengon, Kecamatan Jombang.
Ia pun menyebut bahwa kelangkaan ini dikarenakan adanya pembelian secara besar-besaran oleh masyarakat dari luar kabupaten Jombang.
”Kebanyakan orang dari luar sini bahkan sampai Nganjuk itu nyari-nyari LPG sampai ke sini,” ujarnya.
Ia menjelaskan banyaknya permintaan tabung gas elpiji 3 kilogram ini diduga berkaitan dengan musim kemarau.
Karena para petani yang ingin mengairi sawahnya, kebanyakan menggunakan tabung gas elpiji sebagai bahan bakar mesin dieselnya.
”Pengaruhnya ya sejak musim kemarau ini kebutuhan petani dari sawah itu pak. Soalnya tabung elpiji untuk pompa air di sawah,” tuturnya.
Lebih lanjut ia mengaku bahwa saat ini pihak distributor juga sedang melakukan pengurangan suplai.
Sehingga stok di tingkat pangkalan sangat berkurang. Selain itu, ia juga mengungkap adanya pengurangan pasokan dari agen elpiji.
Bahkan, besaran pengurangan stok itu mencapai 10 persen.
”Biasanya dikirim setiap hari, sekarang 3 kali seminggu. Setiap pengiriman dapat 100 tabung, jadi kalau tiga kali dalam seminggu ya sekitar 300 sampai 350 tabung,” katanya. (riz/naz)
Editor : Ainul Hafidz