JombangBanget.id – Nasib angkutan desa (angkudes) dan angkutan kota (angkot) di Jombang terancam punah.
Terbukti dengan jumlah armada angkudes tiap tahun semakin menurun.
Selain jumlah pemilik kendaraan pribadi semakin membeludak, banyaknya transportasi berbasis online menjadikan angkudes semakin sulit bertahan.
Hasil penelusuran Jawa Pos Radar Jombang, keberadaan angkudes mulai jarang ditemui.
Sebagian angkudes bisa dijumpai di kawasan gedung Dekopinda Jombang Jl KH Hasyim Asy’ari atau sisi selatan perlintasan kereta api (KA) Stasiun Jombang tempat sopir angkudes biasanya mangkal.
Sutik, 55, salah satu sopir angkudes trayek Jombang-Cukir-Mojoagung-Bareng mengakui, dalam kurun waktu lima tahun terakhir jumlah penumpang angkudes semakin sepi.
Menurutnya, salah satu disebabkan membeludaknya transportasi online.
”Ya, mulai lima tahunan ini jumlah penumpang terus menurun,” terang sopir asal Desa/Kecamatan Mojowarno, Jombang ini.
Sutik sudah bekerja sebagai sopir angkot selama 35 tahun. Sepinya penumpang menjadikan pendapatannya menurun.
”Sepi penumpang otomatis pendapatan menurun,” katanya.
Dalam sehari, Sutik mengaku bekerja selama 10 jam sejak berangkat dari rumah pukul 06.00 WIB.
Baca Juga: Jembatan Baru Ploso Jombang Rawan Kecelakaan, Ini Hasil Survei Dishub Bersama Polisi
Rata-rata dalam sehari ia bisa mendapatkan pemasukan sekitar Rp 80 ribu-Rp 130 ribu.
”Belum dikurangi uang kanan dan BBM,” terangnya.
Tak jarang ia juga menerima job mengantarkan rombongan ibu-ibu pengajian hingga warga yang punya hajatan butuh diantar. ”Ya, kadang ada yang carter rombongan, lumayan,” imbuhnya.
Meski begitu, Sutik mengaku tak jarang ia juga mencari penghasilan dari kerja serabutan buat nafkah keluarga.
”Usia seperti saya sekarang cari kerja juga sulit, ya mau nggak mau bertahan jadi sopir angkot,” terangnya.
Selain jumlah armada terus berkurang, jumlah trayek juga terus menurun.
Ia berharap ada perhatian dari pemerintah terkait nasib angkot.
”Inginya kita diperhatikan, ditata bagaimana bagusnya. Kalau kondisinya seperti ini terus lama-lama mati juga angkot ini,” pungkasnya.
Dikonfirmasi terpisah, Kepala Dinas Perhubungan Jombang Budi Winarno membenarkan jumlah angkutan umum semakin menurun.
Saat ini, tercatat ada 67 armada yang beroperasi di 2024. Jumlah itu, menurun dari tahun 2022 sebanyak 87 armada.
”Yang saat ini masih aktif beroperasi seperti trayek jurusan Jombang-Pare, Jombang-Kabuh, Jombang-Kudu, Jombang-Ploso, Jombang-Ngoro, dan Tapen-Ploso. Selain itu sudah tidak aktif lagi,” ujar dia.
Menurutnya, ada beberapa faktor penyebab menurunnya jumlah angkot maupun angkudes.
Misalnya, minimnya peremajaan armada yang memengaruhi fasilitas layanan penumpang.
Serta itu, penilaian sebagian masyarakat yang menganggap angkot tak lagi representatif sebagai angkutan publik pendukung mobilitas secara cepat.
”Masyarakat menilai angkot kurang efesien untuk mendukung aktivitas mereka. Itu beberapa penyebabnya,” papar dia.
Selain itu, Budi tak menampik keberadaan transportasi online seperti menjadi tantangan nasib angkot dan angkudes di Jombang.
Ia mengatakan, pada 2024 ada 582 angkutan online yang itu terdiri dari kendaraan roda dua motor dan roda empat.
Namun, jumlah itu terus bertambah seiring waktu.
”Selain soal harga, ojek online (ojol) dianggap masyarakat lebih bisa menjangkau titik tujuan secara efesien. Intinya bisa kemana-mana pas di titik tujuan. Ini salah satu alasan banyak masyarakat condong menggunakan ojek online,” pungkasnya. (ang/naz)
Editor : Ainul Hafidz