Oleh: Imam Ghozali Ar *)
Sepengetahuan saya, teater rakyat yang berkembang di Jombang adalah institusi pendidikan alternatif.
Dalam wacana teater modern, keberadaan teater untuk pendidikan adalah sebuah konsep yang luas. Kali pertama, konsep ini dipopulerkan oleh para aktivis pembebasan di Amerika Latin, khususnya teolog Augusto Boal.
Boal melalui teater yang dikelolanya pada dasawarsa 60-an memfungsikan teater sebagai alat pengorganisasian, memobilisasi hingga media pencerahan bagi berjuta kaum miskin dari satu perkampungan ke perkampungan lainnya.
Itu sebabnya di Brasil, teater menjadi momok yang menakutkan bagi para jendral.
Menurut junta pada saat itu, rakyat yang tercerahkan akan menjadi kekuatan mahadahsyat sehingga gerakan kultural untuk pembebasan kaum tertindas perlu dihentikan.
Sekitar pertengahani tahun 1989, kami mulai tertarik merekontruksi dan merevitalisasi teater rakyat yang tumbuh dan berkembang di Jombang.
Hal itu kami lakukan lantaran teater moderen di Jombang harus menemukan wajah style teaternya.
Berangkat dari semangat itulah kami melakukan rekontruksi dan revitalisasi terhadap Besutan, Sandur, dan Wayang Topeng Jatidhuwur.
Sekarang kami bersama kawan saya sedang melakukan proses untuk merekontruksi Gambus Misri yang konon juga merupakan kesenian Jombang (?).
Setidak-tidaknya ada lima catatan dari kegiatan yang telah lakukan ini.
Baca Juga: Titik Nol Soekarno di Ploso Jombang
Kelima hal tersebut, yaitu: (1) aspek ritus/ritual, (2) kesederhanaan dan keluwesan, (3) teater yang teaterikal, (4) komikal / musikal serta (5) ketotalan dan keintiman.
Aspek Ritus. Sebuah keyakinan bahwa teater rakyat Jombang tidak hanya bisa dipahami sebagai sebuah seni pertunjukan semata, namun jauh dari itu bahwa teater rakyat yang berkembang di Jombang merupakan upacara ritual masyarakat agraris dengan maksud untuk mencapai pencerahan jiwa.
Hal ini terlihat dari kedudukan teater rakyat jombang di tengah masyarakat pendukungnya, yakni untuk memenuhi fungsi pembebasan nasib melalui pemilihan aktivitas seni jalanan sebagai profesi, seperti yang telah dilakukan Pak Santik pada awal pertumbuhannya.
Sebenarnya yang dilakukan Pak Santik bukan sekedar merupakan aktivitas semu yang semata-mata mengumpulkan uang recehan dari pintu ke pintu untuk keperluan makan dan minum, namun jauh dari semuanya itu adalah sebagai sebuah pergulatan hidup yang terhayatinya dengan segala aktivitas yang terbingkai dalam frame ritualitas.
Artinya, hidup Pak Santik adalah pelaksanaan “upacara peribadatan” untuk mencari kesempurnaan,-- meski kesempurnaan itu tidak hanya dipahami dari aspek kecukupan materi semata.
Penajaman fungsi ini, baru mengalami proses transparasi tatkala teater rakyat Jombang menjadi sebuah institusi kesenian yang berkembang di masyarakat.
Penajaman tersebut tergurat dari fungsi religi yang diyakini masyarakat waktu itu.
Para penanggap, umumnya mempunyai keyakinan bahwa teater rakyat berfungsi sebagai upacara kaulan ketika penanggap mendapat berkah berupa terlepasnya segala kesulitan yang menggelayutinya, semisal: kesembuhan anak dari penyakit, terbebasnya penanggap dari cobaan-cobaan hidup, ataupun sebaliknya sebagai pertanda rasa syukur atas segala berkah rahmat kebaikan yang telah diterimanya.
Kesederhanaan dan keluwesan. Kesederhanaan teater rakyat Jombang tercermin dari aspek tempat pertunjukan, penataan artistik, penyelenggaraan maupun gagasan-gagasan yang terwujud dalam aspek penceritaan.
Kesederhanaan ini ditempatkan sebagai sesuatu yang indah, bukannya sebuah kesederhanaan yang berkesan tidak kreatif.
Aspek keluwesan yang terdapat dalam teater rakyat Jombang adalah mudah menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi pertunjukan.
Aspek keluwesan ini juga terpantulkan dari spontanitas dan improvisasi pendialogan.
Dialog-dialog yang dibangun sentiasa bertalian dengan dimensi ruang dan waktu ketika teater rakyat tersebut dipertontonkan.
Teater yang teaterikal. Ada sebuah anggapan bahwa seni haruslah merupakan peniruan dari alam.
Oleh karenanya, seni harus mampu merekam berbagai fenomena yang ada.
Pertunjukan yang semacam ini barangkali akan terlihat kasad mata di atas pentas lantaran segala sesuatunya harus benar-benar menyerupai kondisi kehidupan sehari-hari.
Teater rakyat yang berkembang di Jombang, secara bentuk dan isi pertunjukannya tidak seperti yang diuraikan di atas.
Segala peristiwa yang tervisualisasikan merupakan hasil stilisasi dan distorsi dari kehidupan sehari-hari.
Artinya, bahwa yang terlihat di pentas merupakan dunia lain atau dunia yang sudah dibentuk sedemikian rupa sehingga berbeda dengan kesehariannya.
Maka, pertunjukan teater rakyat yang berkembang di Jombang rata-rata sangat atraktif dan syarat daya pukau.
Unsur kinetik, gimick, dan musik menyatu di dalam pertunjukan.
Barangkali hal inilah yang menjadikan teater rakyat Jombang mempunyai kemampuan berkomunikasi dengan penontonnya dengan baik.
Ketotalan dan keintiman. Secara umum pertunjukan teater rakyat Jombang senantiasa memadukan beberapa unsur, yang meliputi tari, musik, sastra, kriya, perupaan, dan seni acting.
Sifat yang intim terpantulkan melalui ketiadaan jarak antara pemain dan penonton.
Aspek ini yang sebenarnya memperkuat fungsi bahwa teater rakyat Jombang sebagai pembangun/pemelihara solidaritas kelompok untuk melakukan sebuah pemahaman kembali nilai-nilai dan pola perilaku yang berlaku dalam lingkungan sosialnya.
Komikal dan Musikal. Tak dapat dipungkiri bahwa keberadaan teater rakyat di Jombang dapat dikatakan komedi secara bentuk lakon, karena tersisipi unsur komikal kocak sehingga membuat orang terpingkal.
Di kalangan rakyat, teater rakyat mempunyai kedudukan sebagai media untuk melancarkan kritik terhadap orang dan segala situasi yang terjadi yang dianggap tidak layak oleh masyarakatnya.
Namun, kritik itu ditampilkan secara guyonan, kelakar, main-main, sehingga yang menjadi sasaran kritik tidak marah dan tersinggung, justru ikut terpingkal tertawa.
Unsur komikal tersebut tidak hanya untuk menghaluskan kritikan semata, namun untuk membuat hati masyarakat bertahan dalam menyaksikan pertunjukan.
Sementara aspek musikal dalam teater rakyat Jombang, kemunculannya tidak hanya lewat alunan musik dan nyanyian semata, melainkan juga dari dialog-dialog dan movement-movement yang dilakukan para pemain.
Dari batasan yang spesifik, dialog yang dilantunkan oleh pemain sebenarnya sudah mempunyai unsur musikal karena di dalamnya terkandung irama, tempo, dan rima.
Lakon-lakon yang telah dipentaskan Komunitas Tombo Ati (KTA), seperti: Tujuh Dosa Mematikan (1996), Makam Bisu (1996), Tuk (1998), Dokter Tiban (1997, 2006), Ngenteni Pinggir Terop (2004) , San Penk Eng Tay (2005), Tekek (2008) , Prasapa Mego Remeng (2011) adalah berangkat dari spirit tradisi yang kami ujicobakan secara terus menerus dari sebuah perjalanan studi untuk menggauli teater rakyat yang berkembang di Jombang.
Kesemuanya untuk mewujudkan impian KTA, yakni : teater yang fresh bentuknya - dialektis tematiknya. Apa yang dilakukan KTA selama ini apakah sudah terwujud atau belum, tetapi yang jelas bahwa kami masih berkeinginan dan berpengharapan.
Terima kasih.
*) Sutradara teater di Jombang
Jombang, 15 Agustus 2024
Editor : Ainul Hafidz