BEBERAPA waktu lalu saya berkesempatan untuk membuka Musyawarah Komisariat IV APTISI (Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesida) yang meliputi PTS-PTS se Malang Raya dan Pasuruan.
Alhamdulillah, acara yang diselenggarakan di Kampus Unmer Malang itu berjalan lancar hingga berakhir dengan pelantikan pengurus barunya.
Selama musyawarah, saya dapat banyak ilmu dari ketua sidang, Prof. Nazar Malik (rektor UMM) yang tampak masih jet-lag karena baru datang dari Brasil.
“Dari luar, mayoritas bapak-ibu melihat UMM tampak baik-baik saja, tapi sesungguhnya tidak demikian" kata beliau dengan volume suara merendah seolah ingin menyampaikan sesuatu yang rahasia pada sahabat-sahabat baiknya.
“Saat ini ada 15 prodi kami yang sulit mendapatkan mahasiswa, sehingga perolehannya di bawah target.
Kalaupun ada fakultas kedokteran umum, yang menurut pikiran banyak orang bisa menjadi sumber dana bagi kampus, kami termasuk kampus yg mematok dana pangkal paling rendah dibandingkan PTS lain.
Sudah begitu, biaya operasionalnya pun tinggi”.
Tuturnya dengan menyapukan pandangan pada seluruh hadirin.
"Jadi sebenarnya, kepala saya sekarang pusing. Sedang berpikir keras bagaimana agar kampus beroperasi sebaik mungkin supaya tetap bisa memberikan kemaslahatan pada semua pihak.
Tapi meski kepala pusing, kita harus tetap berjalan tegak, percaya diri mencari solusi dan penuh optimisme.
Jangan minder.. Lha kalau kita sendiri minder, pesimis tidak semangat, bagaimana dengan para mahasiswa kita..." ucapnya dengan sangat meyakinkan.
Baca Juga: Adu Taktik 3 Bacabup di Panggung Pilbup Jombang, Gus Zu'em: Petahana vs Pendatang Baru
Kalimat motivasi yang disampaikan putra mantan mendikbud Malik Fajar itu, sebagai respons atas sambutan pembuka saya yang mengutip kata bijak :"Sia-sialah kita yang hanya mengutuk kegelapan tanpa berupaya menyalakan pelita."
Hal ini terkait dengan “kegelapan” PTS akibat ulah PTN-BH yang massive menggunakan beberapa jalur seleksi mahasiswa untuk mndapatkan mahasiswa baru sebanyak mungkin.
Maka saya mengibaratkan kebersamaan dalam APTISI sebagai upaya menyalakan pelita.
Tak penting seterang apa menyalanya nanti. Yang penting upaya kita itu sudah menandakan bahwa kita menjauhi larangan Allah : putus asa atas rahmat-Nya.
Setelah pelantikan pengurus, saat sedang beramah tamah memberi ucapan selamat, datanglah seorang perempuan muda menyapa saya dan mengenalkan diri sebagai alumni Darul'Ulum.
Saya tentu senang sekali, karena di antara para akademisi di Malang ternyata ada santriwati kami. Sepontan saya bertanya "Kamu sebagai apa di sini..?"
"Saya mendampingi rektor saya, pak.." jawabnya sambil menunjuk seorang perempuan muda yang sedang bicara dengan sekretaris APTISI.
Begitu saya melihat mereka, bu sekretaris langsung mengenalkan orang di depannya itu sebagai rektor perempuan termuda di Malang.
Hehehe... melihat tampilannya yang kasual sekali dan raut wajahnya yang sangat muda , saya sama sekali tidak menduga bila dia rektor.
"Wah luar biasa... memang dunia kampus saat ini harus diisi orang-orang muda ya, karena merekalah yang memahami situasi dan tuntutan zamannya.. makasih ya sdh hadir.. semangat selalu yaa.." kata saya mengapresiasi kehadiran dan menyemangatinya.
Tuntas acara di Unmer, saya sowan dulu ke K. Husaini al Hafidz di pesantren Nurul Furqon bersama anak saya yang pernah nyantri di situ.
Kebetulan beliau baru saja dari Tanah Suci. Banyak kisah yang saya dengar dari beliau.
Saya pun mengulik kualitas penyelenggaran ibadah haji selama di sana. Karena saat ini sedang menjadi bola panas antara PKB dgn NU.
Beliaupun cerita panjang lebar, tapi penuh permakluman. Beliau juga menyemangati anak saya supaya rutin muraja’ah agar hafalannya terjaga.
Usai sowan, saya langsung pulang Jombang. Alhamdulillah tiba di rumah dengan selamat pas maghrib. Saya langsung shalat lalu istirahat.
Tapi belum juga puas ngeluk geger, ada suara salam di depan pintu. Hati pun sempat nggrundel : oalah reek, pegel-pegel kok onok tamu...
Tapi begitu saya keluar, capek saya langsung lenyap setelah melihat wajahnya.
Saya betul-betul merasa mendapat keberkahan yang luar biasa.
Karena yang sedang silaturrahim ke rumah saya adalah putranya Mbah yai Maimun Zubair, Gus Tad Yasin (mantan wagub Jateng) sekalian.
Ini kejutan yang sangat membahagiakan.
Beliau mengawal istrinya yang kebetulan se jam’iyah dengan ibunya anak-anak dalam merawat hafalan Qur'an.
Bedanya, istri saya pengurus baru JMQH, sedangkan istrinya (ning Nawal) pengurus lama.
Maka dari itu, saya melihat silaturahmi istri Tad Yasin ini lebih merupakan wujud pemberian semangat dari senior pada yang yunior.
Betapa indahnya silaturrahim itu. Bisa saling menyemangati satu sama lain sehingga mampu meningkatkan kemanfaatan diri di dunia masing-masing.
Maka bila saat ini ada pihak yang pernah bersama tapi kemudian tidak lagi saling menyemangati malah saling mengintimidasi apalagi melapor ke polisi, itu berarti sedang terjadi penyumbatan pada saluran silaturrahmi mereka.
Ini berbahaya, karena akan mengganggu “metabolisme” di tubuh masing-masing. Maka, ayo ngopi sambil menyanyi ya lal wathon bersama. (*)
Editor : Ainul Hafidz