JombangBanget.id - Pengasuh PP Hidayatul Quran, Sentul, Tembelang, Jombang, Ustad Yusuf Hidayat Alhafiz, menjelaskan pentingnya mencintai dan membela tanah air.
’’Para pejuang kemerdekaan telah berjuang sehingga sekarang kita doakan. Kita sekarang harus berjuang agar kelak ada yang mendoakan,’’ tuturnya, saat ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah, Polres Jombang, Rabu (7/8).
Sejauhmana kita berkorban dan berjuang untuk orang lain, maka sejauh itulah kelak kita akan dikenang dan didoakan oleh orang lain.
Berjuang merupakan wujud cinta tanah air.
’’Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam sudah memberi contoh mencintai tanah air,’’ terangnya.
Rasulullah pernah mengungkapkan rasa cintanya kepada tanah kelahiran, Makkah.
Rasulullah bersabda; ‘Alangkah baiknya engkau (Makkah) sebagai sebuah negeri, dan engkau merupakan negeri yang paling aku cintai.
Seandainya kaumku tidak mengusirku dari engkau, niscaya aku tidak tinggal di negeri selainmu.
Setelah pengusiran tersebut, Nabi lantas hijrah ke Madinah.
Di tempat tinggal yang baru ini, Rasulullah pun berharap besar bisa mencintai Madinah sebagaimana beliau mencintai Makkah.
Nabi berdoa; Ya Allah, jadikan kami mencintai Madinah seperti cinta kami kepada Makkah, atau melebihi cinta kami pada Makkah.
Cinta tanah air adalah tentang pentingnya manusia memiliki tempat tinggal yang memberinya kenyamanan dan perlindungan.
Cinta tanah air juga tentang kemerdekaan dan kedaulatan.
Sehingga siapa pun yang berusaha menjajah atau mengusir dari tanah tersebut, Islam mengajarkan untuk melakukan pembelaan.
Ketika kondisi aman, mencintai tanah air adalah sebuah hal wajar, bahkan sangat dianjurkan.
Dalam QS Al-Mumtahanah 8 ditegaskan; Allah SWT tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu.
Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.
Ayat ini juga mengindikasikan bahwa Alquran menyejajarkan antara agama dan tanah air.
Alquran memberi jaminan kebebasan beragama sekaligus jaminan bertempat tinggal secara merdeka.
Cinta mengandung asosiasi mengasihi, merawat, mengembangkan, juga melindungi.
Ketika Rasulullah mencintai negeri Makkah, beliau menjadi orang yang sangat peduli terhadap penindasan dan bejatnya moral masyarakat musyrik kala itu.
Saat beliau mencintai Madinah, beliau juga membangun masyarakat beradab dengan sistem hukum yang adil untuk masyarakat yang majemuk di Madinah.
Cinta tanah hadir dari semangat untuk menghargai seluruh manusia yang tinggal dalam satu tanah air yang sama meski berasal dari kelompok yang berbeda-beda.
Cinta tanah air mendorong seseorang untuk hidup saling menghargai, saling menolong, dan saling melindungi.
Baca Juga: Binrohtal, Tiga Resep Kemuliaan
Karena tanah air adalah tempat mereka lahir, sumber makanan, tempat beribadah, dan mungkin sekali juga tempat peristirahatan terakhir bagi kita.
Semoga Allah menjadikan negeri kita dalam limpahan keberkahan, aman, damai, dan sejahtera.
Warga di dalamnya dianugerahi petunjuk sehingga mampu bersatu dan bersama-sama membangun kemaslahatan untuk semua. (jif/naz)
Editor : Ainul Hafidz