Bisnis Desa Kita Features Hiburan Hukum Jombangan Jurnalisme Warga Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Olahraga Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Politika Religia Sosok Wisata

Binrohtal, Orang Bertakwa akan Bejo dan Beruntung

Rojiful Mamduh • Minggu, 4 Agustus 2024 | 14:46 WIB

 

Binrohtal, sebuah tulisan soal ceramah islam dari beberapa tokoh islam di Jombang.
Binrohtal, sebuah tulisan soal ceramah islam dari beberapa tokoh islam di Jombang.

JombangBanget.id - Pengasuh Pesantren Tahfidzul Quran Al-Hafidz, Trawasan, Sumobito, Jombang, Ustad M Hafidz Alhafiz, menjelaskan pentingnya takwa dimanapun berada.

’’Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda; Bertakwalah kepada Allah SWT di mana pun engkau berada. Iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, maka kebaikan akan menghapus keburukan itu. Dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik,’’ tuturnya, saat khotbah di Masjid Agung Junnatul Fuadah, Polres Jombang, Jumat (2/8).

Orang bertakwa akan bejo dan beruntung. Sebagaimana ditegaskan dalam QS Azzumar 61.

Dan Allah SWT menyelamatkan orang-orang yang bertakwa karena kemenangan mereka.

Mereka tidak disentuh oleh azab dan tidak bersedih hati.

Orang yang benar-benar bertakwa, akan bisa menerima nasihat dari siapa saja dan apa saja.

Suatu ketika, ada orang berkata kepada Imam Abu Hanifah atau Imam Hanafi; ’’Bertakwalah kepada Allah.’’

Mendengar itu, Imam Abu Hanifah gemetar, wajahnya pucat, dan kepalanya menunduk.

Kemudian ia berkata: ’’Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan. Betapa manusia sangat membutuhkan seseorang yang berkata seperti ini kepada mereka setiap saat.’’

Imam Abu Hanifah merupakan ulama besar. Keilmuan dan akhlaknya sangat terkenal.

Dia menghabiskan hampir seluruh usianya untuk belajar dan mengajar.

Meski demikian, saat diingatkan takwa, sekujur tubuhnya terpengaruh. Tubuhnya gemetar, wajahnya pucat, dan pandangannya menunduk.

Semua itu terjadi bukan karena amarah dan ketersinggungan, tapi karena ia benar-benar menganggap ucapan tersebut sebagai nasihat.

Respons semacam inilah yang perlu kita teladani.

Tidak jarang, kita akan tersinggung dan marah saat di hadapkan pada situasi semacam ini.

Padahal, jika kita berpikir jernih, amarah dan ketersinggungan adalah bentuk kesombongan. Sekaligus proklamasi diri bahwa kita sudah benar dan bertakwa.

Seakan-akan kita mengatakan, ’’Kami tak butuh wasiat takwamu, karena kami sudah banyak amal dan bertakwa.’’

Imam Abu Hanifah mengkhatamkan Alquran tujuh ribu kali. Dia tidak pernah tidur malam karena sibuk beribadah.

Meski demikian, ia masih merasa tidak cukup bertakwa, dan menerima ucapan orang tersebut dengan rasa syukur yang tinggi.

Ia berkata: ’’Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan. Betapa manusia sangat membutuhkan seseorang yang berkata seperti ini kepada mereka setiap saat.’’

Imam Abu Hanifah menekankan, manusia sangat membutuhkan seseorang yang bisa berkata seperti itu.

Salah satu tujuannya, agar manusia tidak terjebak dalam kesombongan seperti iblis.

Kesombongan yang melahirkan hasud, dan tidak terima jika ada yang lebih baik darinya.

Seperti iblis kepada Nabi Adam. Ini karena iblis tak pernah merasa seperti Imam Abu Hanifah.

Baca Juga: Binrohtal, Beramal Karena Allah SWT Tidak Akan Pernah Bikin Kecewa

Penting bagi kita untuk meneladani Imam Abu Hanifah. Dengan menganggap semua yang datang adalah masukan dan nasihat, meskipun datang dengan kasar.

Ketika hardikan datang, misalnya, ’’bertobatlah, wahai pendosa.’’ Tentu kita juga harus menerimanya.

Karena kita semua pasti punya dosa sehingga harus senantiasa bertobat.

Daripada marah, lebih baik kita meneladani Imam Abu Hanifah. Ketika mendengar sesuatu, fokusnya hanya mencari dan melihat ke dalam dirinya sendiri.

Cara pandangnya jernih. Fokusnya hanya pada isi kebaikannya. Jangan biarkan amarah mengintervensi; jangan biarkan ketersinggungan mengganggu.

Menerima ucapan, ’’bertakwalah kepada Allah’’ dengan kasar, tetap gemetar dan menunduk. Serta berterima kasih kepada yang mengucapkannya.

Karena melihat sisi ’’kebenaran’’ ucapan itu. Juga dari kacamata hakikat; Bahwa orang itu bisa berkata demikian karena dikehendaki oleh Allah SWT.

Sehingga sejatinya, yang menasihati adalah Allah SWT. (jif/naz)

Editor : Ainul Hafidz
#bertakwa #beruntung #masjid #Sumobito #bejo #Binrohtal #polres #Jombang #Trawasan