JombangBanget.id - Pendeta GPdI House of Prayer Sawahan, Jombang, Petrus Harianto STh, menyampaikan renungan menarik tentang pentingnya ketekunan.
’’Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita. Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman,’’ tuturnya mengutip Ibrani 12:1-2.
Waktu masih duduk di bangku SMP, saya teringat dengan sebuah peristiwa yang menarik.
Ketika berangkat dari rumah pagi-pagi, saya melihat beberapa bekicot di bawah pohon mangga, merayap ke atas perlahan.
Beberapa saat saya memperhatikannya dan berpikir: "Kapan nyampainya?" begitu pikiran yang ada di benak saya.
Bekicot itu merayap begitu pelan sekali. Mungkin semilimeter setiap langkah.
Padahal pohon mangga itu juga tidak rata, banyak benjolan bekas dahan patah, penuh gurat kulit pohon yang pecah, juga lekukan entah bekas apa.
Namun bekicot itu terus merayap, pelan tetapi pasti.
Ketika pulang dari sekolah siangnya, saya melihat bekicot itu ternyata sudah berada di dahan atas.
Bahkan untuk melihatnya, saya harus mendongakkan kepala ke atas.
Sungguh sebuah pencapaian yang luar biasa, mengingat begitu perlahannya bekicot itu merayap dan begitu banyaknya "tantangan" yang harus ia lalui.
Itulah hasil dari buah ketekunan.
Di era yang segalanya serba mudah dan instan, maka ketekunan itu tampaknya sudah semakin langka.
Baik dalam lingkup kehidupan sehari-hari atau pun pelayanan, ketekunan tampaknya digantikan dengan mentalitas cepat bosan, mudah menyerah dan tidak tahan uji.
Dalam pekerjaan dan pelayanan banyak terjadi, sedikit saja mendapat kritikan terus ngambek.
Sedikit saja menghadapi kekecewaan terus ingin mundur.
Dalam hidup beriman, sedikit saja dihantam kesulitan, terus mengomel-ngomel, protes kepada Tuhan, tidak mau lagi ke gereja.
Akibatnya kita pun jadi tidak maju-maju, iman kita tidak bertumbuh.
Firman di atas menasehati kita untuk mendasari pelayanan dan hidup beriman kita dengan mata yang tertuju hanya kepada Kristus.
Sebab Dialah sumber insipirasi dan teladan ketekunan yang terbaik (Ibrani 12:3).
Dan hanya dengan demikian ketekunan kita dapat terus dibangkitkan, sehingga kita pun tidak akan mudah menyerah, kecewa, menjadi lemah dan cepat berputus asa.
’’Teruslah bersemangat dan tetap tekun, sebab ketekunan selalu berbuah manis. Tuhan Yesus memberkati,’’ tegasnya. (jif/naz)
Editor : Ainul Hafidz