Bisnis Desa Kita Features Hiburan Hukum Jombangan Jurnalisme Warga Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Olahraga Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Politika Religia Sosok Wisata

Puluhan Hektare Tanaman Jagung dan Cabai di Kecamatan Ini di Jombang Mati, Disperta Bilang Begini

Achmad RW • Minggu, 14 Juli 2024 | 01:31 WIB

 

MATI: Kondisi tanaman jagung di Kecamatan Plandaan, Jombang yang mati imbas hujan mengguyur wilayah setempat.
MATI: Kondisi tanaman jagung di Kecamatan Plandaan, Jombang yang mati imbas hujan mengguyur wilayah setempat.

JombangBanget.id – Selain berdampak pada tanaman tembakau, Dinas Pertanian (Disperta) Jombang mencatat banyak tanaman jagung dan cabai di wilayah utara Brantas yang rusak.

Dari hasil pendataan yang dilakukan disperta di lapangan, luasan kerusakan tanaman cabai dan jagung yang mati mencapai 65 hektare.

Masing-masing 50 hektare tanaman cabai dan 15 hektare jagung.

Kepala Disperta Jombang M Rony mengatakan pihaknya terus melakukan pendataan.

Untuk sementara, selain tembakau yang mati, juga tanaman jagung dan cabai.

”Data sementara untuk tanaman cabai yang mati seluas 50 hektare, sedangkan jagung 15 hektare,” kata Rony dikonfirmasi, Jumat (12/7).

Dari puluhan hektare itu tersebar di tiga desa di Kecamatan Plandaan, Jombang.

Di antaranya di Desa Kampungbaru seluas 24 hektare tanaman cabai mati, dan Desa Klitih seluas 26 hektare.

Sedangkan jagung ini di Desa Kampungbaru 5 hektare, dan Desa Purisemanding 10 hektare. ”Keseluruhan ada di Kecamatan Plandaan,” bebernya.

Sementara, pemkab tak bisa memberikan bantuan ke petani tembakau pun petani cabai yang gagal panen.

Sebab, bantuan hanya diberikan ke petani padi ketika terjadi gagal panen.

”Jadi, ketika dikatakan puso maka akan kita bantu berupa benih padi 25 kilogram per hektare disalurkan di musim tanaman berikutnya,” ujar Rony.

Alasannya, karena tanaman jagung ataupun buah bukan merupakan tanaman utama.

Nggak ada untuk bantuan, sementara hanya padi. Pertama, faktor anggaran terbatas. Kedua, padi termasuk tanaman utama,” tutur dia.

Pihaknya juga akan kembali turun ke lapangan. Salah satunya, untuk memastikan apakah petani kembali menanam tanaman serupa atau beralih ke padi.

”Karena pengairan SI (Saluran Induk) Jatimlerek sudah kembali normal, akan kita data lagi. Minggu depan akan turun ke lapangan,” ujar dia.

Sebagai langkah memastikan pola tanam di wilayah itu. Mengingat, sebelumnya salah satu opsi petani tak tanam padi imbas Dam Karet Jatimlerek jebol.

Perjalanannya mati karena diguyur hujan.

”Termasuk yang gagal akan kita data lagi, karena saya dengar salah satu perangkat desa, petani yang gagal tanam tembakau ataupun buah akan kembali menanam padi,” kata Rony.

Sementara itu, selain petani tembakau, petani cabai dan jagung di wilayah utara Sungai Brantas  juga mengalami kerugian besar.

Pasalnya, puluhan hektare tanaman cabai dan jagung mereka rusak akibat hujan yang mengguyur wilayah utara Brantas beberapa waktu lalu.

Pantauan di Desa Plabuhan, Kecamatan Plandaan Jumat (12/7) siang, tampak tanaman jagung dan cabai milik petani tak bisa tumbuh normal.

Tak sedikit tanaman yang mati. ”Tanamannya rusak imbas kena hujan beberapa hari lalu itu,” ungkap Jikan, 60, salah satu petani.

Ia menyebut, hujan deras yang mengguuyur wilayahnya selama beberapa hari berturut-turut menjadikan ladangnya terendam air.

Baca Juga: APTI Jombang Klaim Belasan Hektare Tembakau di Utara Sungai Brantas Mati

Minimnya saluran buang menjadikan air menggenang di ladangnya. Akibatnya, tanaman cabainya rusak.

”Sampai dua hari waktu itu airnya tergenang, padahal cabai sama jagung ini kan tidak tahan air,” lontarnya.

Akibat genangan air itu menganggu pertumbuhan tanaman. Tanaman cabainya di sawahnya perlahan layu, daunnya keriput, rontok, dan mengering.

”Kalau cabai itu daunnya rontok, yang jagung kalau masih kecil biasanya terus menguning terus kering dan mati,” lontarnya.

Karena gangguan tanam itu, ia mengaku terpaksa harus mengeluarkan biaya lebih untuk mengupayakan agar cabai dan jagungnya tetap bisa dipanen.

”Bisa pulih lagi, tapi harus di-dangir, jadi dikeruki tanah di sekitnya biar airnya keluar dari akar,” lontarnya.

Terlebih, tanaman cabai miliknya itu sudah berumur lebih dari 40 hari.

Jikan menyebut, upaya itu memang sedikit berhasil meski berdampak pula pada mundurnya musim tanam.

”Panennya sepertinya mundur, yang harusnya bulan depan, sekarang jadi bulan 10 mungkin baru bisa maksimal, karena pertumbuhannya kan terganggu,” tambahnya.

Tidak hanya sawahnya, kondisi serupa banyak dialami petani lainnya di Kecamatan Plandaan.

”Petani lain juga banyak yang rusak tanamannya, perkiraan mencapai puluhan hektare,” singkatnya.

Tak hanya di Desa Plabuhan, kondisi serupa juga tampak di Desa Kampungbaru, Kecamatan Plandaan.

Banyak tanaman jagung milik petani juga mengering karena terendam air hujan. (fid/riz/naz)

Editor : Ainul Hafidz
#jagung #cabai #kecamatan #Utara #rusak #tanaman #sungai brantas #Jombang #mati #Plandaan