JombangBanget.id - Pengasuh PP Miftahul Jannah, Dusun Watugaluh Krajan, Desa Watugaluh, Diwek, Jombang, Ustad Habib Kurniawan, menjelaskan pentingnya muhasabah atau introspeksi diri.
’’Orang yang beruntung selalu mau muhasabah dan memperbaiki diri,’’ tuturnya, saat khotbah di Masjid Agung Junnatul Fuadah, Polres Jombang, Jumat (5/7).
Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda; Barang siapa hari ini lebih baik dari hari kemarin, dia tergolong orang yang beruntung.
Baca Juga: Binrohtal, Berprasangka Baik kepada Allah SWT
Barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin, dia tergolong orang yang merugi.
Dan barang siapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin, dia tergolong orang yang celaka.
’’Pada tahun baru 1446 H kita harus menjadi pribadi yang lebih baik,’’ ajaknya.
Tahun baru 1 Muharram 1446 Hijriyah jatuh pada Minggu (7/7).
Sabtu (6/7) merupakan hari terakhir Dzulhijjah 1445 H.
Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda; Barang siapa yang berpuasa sehari pada akhir tahun dari bulan Dzulhijjah dan puasa sehari pada awal dari bulan Muharram, maka ia sungguh-sungguh telah menutup tahun yang lalu dengan puasa dan membuka tahun yang akan datang dengan puasa.
Dan Allah Ta’ala menjadikan kaffarah/terlebur dosanya selama 50 tahun.
’’Allah SWT memerintahkan kita untuk terus muhasabah dalam menyiapkan bekal akhirat,’’ terangnya.
Baca Juga: Binrohtal, Iman terdiri dari Dua Bagian, Syukur dan Sabar
Sebagaimana disebutkan dalam QS Al Hasyr 18.
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat).
Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Juga dalam QS Albaqarah 197. Berbekal lah karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.
Bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat.
Suatu, ketika Nabi sedang duduk-duduk bersama para sahabat.
Tiba-tiba beliau berkata, ’’Sebentar lagi akan datang di antara kalian seorang ahli surga.’’
Sejurus kemudian, seorang pria dari kalangan Ansor lewat di hadapan mereka.
Air bekas wudu menetes dari sela-sela jengotnya. Sementara tangan kirinya terlihat sedang menenteng sandal.
Keesokan harinya, Nabi mengatakan hal yang sama, dan lelaki Ansor itu kembali melintas di hadapan para sahabat.
Peristiwa tersebut berulang lagi pada hari ketiga. Sehingga memancing rasa penasaran para sahabat.
Diam-diam, Abdullah bin Amr bin Ash, membuntuti lelaki tersebut.
’’Aku sedang berseteru dengan ayahku. Aku bersumpah tak akan pulang ke rumah selama tiga hari. Jika diizinkan, aku ingin menginap di rumahmu selama tiga hari,’’ kata Abdullah kepada lelaki itu.’’
Baca Juga: Binrohtal, Tradisi Tabaruk dengan Tahnik
’’Silakan,’’ sambut lelaki tersebut.
Abdullah bermalam di sana sampai tiga hari. Dalam pengamatannya, tak ada amalan spesial dari pria itu.
Bahkan ia tak menjumpai lelaki Ansor itu melaksanakan salat malam.
Hanya saja, tiap mebolak-balikkan badan di ranjang, lelaki itu selalu membaca zikir.
Lelaki ini tak pernah berbicara kecuali yang baik.
Abdullah lalu pamit dan berterus terang seputar sandiwaranya: Sesungguhnya ia tak punya masalah dengan ayahnya.
Abdullah lantas menceritakan perkataan Nabi tentang ahli surga yang bikin penasaran. Dia menginap tiga hari untuk mengetahui amalannya.
’’Tak ada amalan kecuali sebagaimana yang engkau lihat. Hanya saja, dalam diriku secuil pun tak ada prasangka buruk kepada orang lain. Aku tidak pernah dengki kepada siapa pun atas nikmat yang Allah berikan kepadanya. Aku juga selalu memaafkan semua orang yang berbuat salah kepadaku,’’ paparnya.
Abdullah lantas mengatakan, hal itu sangat berat dilakukan. Makanya sangat pantas jika dia diganjar surga. (jif/naz)
Editor : Ainul Hafidz