JombangBanget.id - Pengasuh Pesantren Tahfidzul Quran Al-Hafidz, Trawasan, Sumobito, Jombang, Ustad M Hafidz Alhafiz, menjelaskan pentingnya berprasangka baik kepada Allah SWT.
’’Allah subhanahu wa ta’a berfirman dalam hadis qudsi; Aku sesuai prasangka hambaKu kepadaKu,’’ tuturnya, saat khotbah di Masjid Agung Junnatul Fuadah, Polres Jombang, Jumat (28/6).
Suatu ketika Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam melakukan tawaf mengelilingi Kakbah.
Nabi melihat lelaki badui tawaf sembari berzikir ’’Ya Karim, Ya Karim.’’
Rasulullah kemudian mengikuti pria itu sambil ikut mengucapkann ’’Ya Karim, Ya Karim.’’
Pria itu merasa dirinya diperolok orang yang tidak dikenalnya.
Dia pun menengok ke belakang sambil berkata;
’’Wahai orang tampan, apakah engkau sengaja memperolok-olokku karena aku ini orang Arab Badui. Kalaulah bukan karena ketampananmu dan kegagahanmu, pasti engkau akan aku adukan kepada kekasihku, Muhammad Rasulullah SAW.’’
Mendengar hal tersebut, Rasulullah SAW tersenyum lantas bertanya, ’’Tidaklah engkau mengenaliku wahai orang Arab?’’
Si lelaki menjawab, ’’Belum.’’
Baca Juga: Binrohtal, Makna dan Manfaat Doa Arinalhaq
Kemudian Rasulullah bertanya kembali, ’’Jadi bagaimana kau bisa beriman kepadanya?’’
’’Saya percaya dengan mantap atas kenabiannya, sekalipun saya belum pernah melihatnya. Saya membenarkan kerasulannya sekalipun saya belum pernah bertemu dengannya,’’ ujar si Badui.
Rasulullah SAW berkata ’’Wahai orang Arab, akulah Nabimu di dunia dan penolongmu nanti di akhirat.’’
Mendengar ucapan tersebut, si Badui terkejut.
’’Tuan ini Muhammad?’’ tanyanya.
Setelah mendapat kepastian bahwa yang di hadapannya Nabi Muhammad, maka dia menunduk sekaligus mencium kedua kaki Rasulullah.
Seketika Rasulullah menarik dan membangunkan seraya berkata, ’’Wahai orang Arab, janganlah engkau perlakukan aku seperti itu.
Perbuatan semacam itu biasanya dilakukan oleh seorang hamba sahaya kepada tuannya.
Ketauhilah, aku diutus Allah bukan untuk menjadi seorang yang takabur dan minta dihormati melainkan untuk untuk membawa berita gembira.’’
Seketika malaikat Jibril turun ke bumi menemui Rasululllah SAW memberitahu;
’’Ya Muhammad, Tuhan mengucapkan salam kepadamu dan berkata, ‘Katakanlah kepada orang Arab itu supaya dia tidak terpesona dengan belas kasihan Allah.
Ketauhilah bahwa Allah akan menghisabnya di hari Mahsyar nanti, akan menimbang semua amalannya baik yang kecil maupun yang besar.’’
Si Badui kemudian berkata.
Baca Juga: Binrohtal 2.191, Menjaga Anggota Tubuh
’’Demi keagungan serta kemuliaan Tuhan, jika Tuhan akan membuat perhitungan atas amalan hamba, maka hamba pun akan membuat perhitungan denganNya!’’
Nabi terkejut mendengar perkataan Badui tadi. ’’Apakah yang akan engkau perhitungkan dengan Tuhan?’’
Si Badui berkata, ’’Jika Tuhan akan memperhitungkan dosa-dosa hamba, maka akupun akan memperhitungkan betapa besarnya maghfirahNya.
Jika Tuhan memperhitungkan kemaksiatanku, maka aku akan memperhitungkan betapa keluasan pengampunanNya.
Dan jika Tuhan memperhitungkan kekikiranku, maka aku akan memperhitungkan pula betapa Dia sangat Dermawan.’’
Mendengar ucapan tersebut membuat Rasulullah menangis.
Beliau sangat setuju dengan yang dikatakan si Badui.
Tangisan itu semakin menjadi hingga air mata Rasulullah membahasi janggutnya.
Jibril lantas turun ke bumi seraya berkata. ’’Ya Muhammad, Tuhan as-salam menyampaikan salam kepadamu, dan berkata: Berhentilah engkau dari menangis!
Sesungguhnya karena tangisanmu, penjaga Arasy lupa dari bacaan tasbih dan tahmidnya, sehingga ia bergoncang.
Katakanlah kepada temanmu itu, bahwa Allah tidak akan menghisab dirinya.
Juga tidak akan memperhitungkan kemaksiatannya. Allah sudah mengampuni semua kesalahnnya dan ia akan menjadi temanmu di surga nanti.’’ (jif/naz)
Editor : Ainul Hafidz