JombangBanget.id - Dr KH Nur Hannan, menjelaskan golongan terbaik yang diberi dunia.
’’Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda; Dunia hanya untuk empat tipe hamba,’’ tuturnya, saat ngaji usai salat Duha di Masjid Agung Junnatul Fuadah, Polres Jombang, Kamis (20/6).
Pertama, hamba yang diberikan ilmu dan harta, kemudian dia bertakwa kepada Allah SWT dengan harta tersebut.
’’Dan dengan harta itu, dia menjalin silaturahim dan mengetahui ada hak Allah dalam harta tersebut. Ini adalah tingkatan terbaik,’’ terangnya.
Muslim yang kaya dan saleh punya keutamaan yang besar bagi masyarakat.
Dia bisa membantu orang-orang yang membutuhkan seperti anak yatim, janda, orang miskin, orang yang sedang menimba ilmu dan orang-orang yang mengemban tugas dalam urusan agama.
Sahabat Nabi yang kaya raya di antaranya, Utsman bin Affan dan Abdurrahman bin Auf.
Dalam kondisi paceklik, dagangan Utsman pernah ditawar dengan harga tiga kali lipat. Namun oleh Utsman tidak diberikan.
’’Sahabat Utsman memilih berdagang dengan Allah SWT. Dengan cara mensedekahkan semua dagangannya,’’ terangnya.
Dalam kondisi kekeringan, umat Islam pernah dikerjai orang Yahudi pemilik satu-satunya sumur.
Si Yahudi menjual airnya dengan mahal. Utsman lalu menawar untuk membelinya.
Baca Juga: Binrohtal, Doa Seorang Muslim Dikabulkan Allah SWT dalam Tiga Bentuk
Si Yahudi mulanya enggan. Utsman menawar membeli separuh dengan harga mahal.
Hari ini milik Utsman. Esok milik si Yahudi. Terus bergantian seperti itu.
Si Yahudi pun setuju, dengan pikiran bisa dapat uang dan tidak kehilangan sumur.
Pada hari jatahnya Utsman, dia minta semua muslim mengambil air buat stok dua hari.
Agar esok saat giliran Yahudi, muslim tak perlu beli. Si Yahudi akhirnya sepi pembeli dan menjual jatahnya kepada Utsman dengan harta sama dengan harga pertama.
Utsman pun setuju sehingga akhirnya muslim bisa terus mengambil air gratis.
Sumur itu terus dikembangkan dan hingga kini masih ada yakni sumur Raumah.
Karena ditinggal perang, kurma para sahabat busuk lantaran tidak sempat menjual.
Abdurrahman bin Auf lalu membeli semua kurma itu dengan harga normal.
Dia pun senang karena akan jatuh miskin. Orang kaya baru masuk surga 500 tahun setelah orang miskin.
Di luar dugaan, raja Yaman mengirim utusan untuk membeli kurma busuk dengan harga dua kali lipat dari harga normal.
Karena di Yaman sedang terjadi wabah dan obatnya kurma busuk.
Alhasil, Abdurrahman bin Auf tak jadi miskin bahkan semakin kaya.
Di tangan orang saleh, harta akan dibawa pada kebaikan.
Imam Syafi’i mendatangi Muhammad bin Hasan Asy-Syaiban untuk berguru.
Begitu tiba di kediamannya, Imam Syafi’i kaget karena si tuan rumah sangat kaya. Bahkan saat itu ia tengah sibuk menata uang dan emas di ruang tamu.
Dalam hati Imam Syafi’i timbul tudingan bahwa Muhammad bin Hasan Asy-Syaiban materialistis dan keduniawian.
Muhammad bin Hasan Asy-Syaiban langung berucap: Anda kagum ini, anda kaget ini?
Kalau kamu menyoal orang saleh kaya, ini (harta) saya kasihkan kepada orang-orang fasik biar dipakai judi, selingkuh, maksiat, dan sebagainya.
Lalu Imam Syafi’i menjawab: Jangan, jangan, harta ini harus tetap di tangan orang saleh. Kalau jatuh ke tangan orang fasik, bahaya.
Ini mengisyaratkan bahwa orang alim, orang saleh boleh bahkan harus menguasai harta.
Karena jika harta dikuasai orang fasik maka akan menimbulkan mudarat dan maksiat. (jif/naz)
Editor : Ainul Hafidz