Bisnis Desa Kita Features Hiburan Hukum Jombangan Jurnalisme Warga Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Olahraga Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Politika Religia Sosok Wisata

Gus Zu'em: Berebut Konsumen Muslim

Ainul Hafidz • Senin, 10 Juni 2024 | 15:40 WIB
KH Zaimuddin Wijaya As
KH Zaimuddin Wijaya As

PERSAINGAN antar-maskapai penerbangan sangat ketat, seiring pergerakan manusia yang kian mengglobal.

Maka, selain peremajaan armadanya, mereka berlomba-lomba juga dalam memberikan fasilitas kenyamanan dan pelayanan kepada penumpang.

Ini terbukti dengan beberapa maskapai penerbangan milik negara sekuler, menyediakan menu halal demi merebut pangsa pasar penumpang muslim yang terus bertumbuh.

Misalnya, sebagaimana yang dilakukan Thai Airways untuk menjamu penumpangnya.

Tentang menu halal ini, saya pernah mendiskusikan dengan seorang sahabat mengenai keberadaan beberapa restoran ramen Jepang di Leeds Inggris yang berlabel halal.

Sahabat saya menjelaskan bahwa dengan terang-terangan memproklamirkan hidangan yang disajikannya "berstandar" halal, itu tidak mengindikasikan pemilik restoran taat syariat apalagi agar mendapat pahala, karena mereka tidak beragama Islam.

Motivasi mereka semata profit, karena kalau tanpa deklarasi kehalalan sajiannya, konsumennya terbatas, tapi dengan deklarasi itu segmen pasar pengunjungnya lebih luas sehingga lebih menguntungkan.

Jadi motif utamanya keuntungan. Itulah motif pebisnis sejati.

Karena dengan upaya memenuhi kebutuhan pasar yang luas akan melipatgandakan keuntungan.

Bahkan dalam skala bisnis yang lebih tinggi, kita bisa melihat betapa mendapatkan keuntungan, margin atau profit itu bisa “mengaburkan” identitas keberagamaan.

Hal itu terbukti dengan yang dilakukan pemerintah Inggris yang sekuler dan mayoritas non-muslim dalam menyikapi perkembangan Islamic Bank ( Bank Syariah ) yang kian prospektif.

Baca Juga: Gus Zu'em: Terlanjur Nyaman

Otoritas perbankan negara Raja Charles itu melihat peluang keuntungan yang sangat menggiurkan dari dana yang tersimpan di bank-bank yang dikelola secara syariah di berbagai negara Islam di seluruh dunia.

Maka dilakukanlah kajian ekonomi Islam yang intensif sehingga saat ini Inggris merupakan pusat kajian ekonomi Islam yang utama di negara Barat.

Sebagai tindak lanjut dari kajian-kajian tersebut, sejak tahun 2014 bank sentral Inggris menerbitkan Sukuk (Obligasi Syariah) sekaligus membuka pintu bagi perbankan syariah dengan mekanisme ALF ( Alternative Liquidity Facility ).

Dalam dunia perbankan, Fasilitas Likuiditas Alternatif (ALF) merujuk pada inisiatif yang memungkinkan bank-bank yang beroperasi berdasarkan prinsip syariah untuk menempatkan dananya di bank Inggris dengan cara yang setara dengan bank konvensional.

Sehingga bank syariah memiliki akses yang sama dengan bank konvensional.

Dengan demikian, ALF merupakan langkah penting dalam memastikan inklusi dan kesetaraan akses dalam sektor keuangan syariah.

Atau dengan kata lain, di mata pemerintah Inggris eksistensi bank syariah tidak dipandang sebelah mata, tapi justru mendapat tempat istimewa laksana nasabah prioritas.

Langkah sigap inilah yang memperkuat posisi Inggris sebagai pusat keuangan syariah terkemuka di luar negara-negara mayoritas muslim.

Langkah yang dimotivasi oleh prinsip ekonomi dalam mencari keuntungan sebesar-besarnya dengan pengorbanan seminimal mungkin.

Bukan karena untuk mencari pahala, apalagi jannatul firdaus.

Kembali ke pesawat. Dari beberapa maskapai asing, maskapai yang paling memenuhi kebutuhan pasar komunitas muslim adalah Saudi Arabian Airline.

Karena di kompartemen belakang disediakan "mushalla" kira-kira seluas 4 baris kursi ke depan, dengan 6 seat tiap barisnya.

Dia "mengorbankan" 24 kursi untuk penumpang muslimnya.

Baca Juga: Gus Zu'em: Puasa Riang Gembira

Sementara beberapa pesawat lain, baru sebatas memberikan pilihan tayangan di layar monitor entertainment berupa aplikasi "Holy Quran".

Misalnya saya temukan di Turkish Airline, Qatar Airways, dan Malaysian Airline.

Bagaimana dengan maskapai GARUDA kita..? entah karena saya yang kurang jeli atau kurang sabar mencarinya, saya kok belum menemukan.

Saya berharap GARUDA memperhatikan hal sederhana ini, agar tidak makin kalah bersaing dengan maskapai internasioanl.

Bukan pertimbangan ideologi keagamaan, tapi hitung-hitungan kompetisi bisnis semata.

Atau barangkali kebetulan saja, flight Garuda yang saya tumpangi pas yang tidak ada aplikasi "Holy Quran"-nya..

hehehe... mungkin karena saya kebanyakan dosa, seneng mbanding-mabandingke..
Padahal kata Denny Caknan: Ojo dibanding-bandingke...

Sepurane yo cak.. (*)

Editor : Ainul Hafidz
#Gus Zuem #konsumen #bank syariah #kolom #maskapai #Jombang #KH Zaimudin As'ad #halal #muslim