JombangBanget.id - Pendeta GPdI House of Prayer Sawahan, Jombang, Petrus Harianto STh, menyampaikan renungan menarik pentingnya menghilangkan kekhawatiran.
’’Kekhawatiran menghambat pertumbuhan iman,’’ tuturnya.
Sadar atau tidak, kita semua orang percaya pernah merasakan hidup dalam ketakutan dan kekhawatiran.
Dan biasanya banyak yang tidak peduli dan menganggap hal itu biasa saja atau normal.
Padahal, sesungguhnya kekhawatiran dan ketakutan adalah musuh yang menghambat seseorang untuk maju dalam kehidupannya.
Tuhan Yesus mengajarkan sebuah perumpamaan dalam Matius 13:22, Yang ditaburkan di tengah semak duri ialah orang yang mendengar firman itu.
Lalu kekhawatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah.
Benih Firman yang ditabur di semak duri tidak akan berbuah.
Semak duri melambangkan kekhawatiran dan tipu daya kekayaan yang membuat benih itu terhimpit dan tidak berbuah.
Ketakutan adalah musuh paling utama orang beriman. "Itulah sebabnya Iblis sering menggunakan perasaan takut ini untuk menjatuhkan iman kita," imbuhnya.
Baca Juga: Renungan Minggu: Janji Tuhan Pasti Tergenapi dalam Hidup Ini
Ketakutan tidak berasal dari Tuhan, tetapi berasal dari iblis.
Sebagai manusia biasa, setiap orang memiliki perasaan takut dan khawatir, itu bukanlah dosa.
Tetapi jika ketakutan dan kekhawatiran menjadi berkuasa dan mengendalikan orang yang di cengkeramnya.
Maka hal itu dapat menjadi dosa karena orang yang di cengkeramnya menjadi kehilangan iman dan kepercayaannya kepada Tuhan.’
Ada dua hal penting yang harus kita lakukan untuk menghadapinya: Serahkanlah kekhawatiran dan lawanlah dengan iman yang teguh (1 Petrus 5:7-9).
"Menyimpan kekhawatiran tidak akan menghasilkan apa-apa bagi kita," ujarnya.
Kekhawatiran tidak akan membuat kita kenyang, malah sebaliknya.
Suatu saat ada seorang jemaat yang mengalami kekhawatiran dan ketakutan yang luar biasa karena anaknya sakit.
Dalam kekhawatiran dan ketakutan karena anaknya dinyatakan kritis karena demam berdarah, tapi dia harus menahan perasaan itu di depan anak dan istrinya.
Puji Tuhan, bapak ini mengambil keputusan untuk pulang sebentar sementara istrinya yang menjaga.
Sampai di rumah dia langsung berlutut, menangis dan berdoa kepada Tuhan.
Dia tumpahkan semua yang ada dalam hatinya.
Bapak ini berdoa menyerahkan segala kekhawatirannya dan melawan rasa takutnya dengan iman dalam doanya kepada Tuhan.
Baca Juga: Renungan Minggu: Jangan Menghindar Tugas Panggilan Tuhan, Seberat Apapun Jalani dengan Iman
Setelah berdoa, dia alami kelegaan dalam hatinya dan segera kembali ke rumah sakit.
Puji Tuhan keadaan kritis yang dihadapi anaknya bisa dilewati dan Tuhan sembuhkan.
’’Pastikan setiap kita menyerahkan kekhawatiran dan ketakutan pada Tuhan dan hidup dengan iman yang teguh," tegasnya.
Sehingga hidup tenang dan berkemenangan bersama Tuhan. Tuhan Yesus memberkati. (jif/fid)
Editor : Ainul Hafidz