’’Inna a‘thainak al-kautsar.’’ Sungguh Kami memberimu al-kautsar. Ada persamaan dan perbedan makna, antara kata: A’thaina dan Ataina. Kesamaannya, keduanya berarti memberi.
‘Atha, i’tha, iita’ adalah pemberian.
Perbedaannya ada pada obyek yang diberi. A’thaina adalah pemberian yang berkonotasi pemilikan.
Artinya, pemberian itu sah dimiliki oleh pihak yang diberi, si penerima. Dalam artian, bisa dinikmati secara fisik, nyata dan maklum.
Semisal: ’’A’tha Muhammad Zaida tsauba.’’ Muhammad memberi baju kepeda Zaid.
Baju iku sah dimiliki oleh Zaid. Baju itu juga bisa dirasakan manfaatnya secara fisik oleh si Zaid.
Bisa pula dijual dan hasilnya dinikmati.
Terkait ayat studi ini, maka artinya, bahwa Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam sang penerima al-kautsar tersebut sungguh pribadi yang sangat beruntung, mempunyai banyak kebajikan dunia dan juga dianugerahi kebajikan di akhirat.
’’Inna a’thainak al-kautsar.’’ Al-kautsar di dunia, bagi Rasulullah Muhammad SAW adalah kelengkapan fisiknya yang multi: Kesehatannya yang super prima.
Beliau tidak pernah jatuh sakit, kecuali dua kali. Satu kali disepakati oleh ulama, yaitu sakit menjelang wafat, ’’maradl al-maut’’ dan kedua dipersengketakan.
Yaitu sakit demam berat akibat terkena sihir yang dikirim oleh seorang dukun Yahudi, bernama Ladib ibn al-A’sham.
Baca Juga: Kiamat (8)
Mayoritas ulama, jumhur al-ulama berpendapat mengiyakan.
Ya, memang terkena. Hal itu sebagai tadzkirah sekaligus hikmah bagi umat.
Pertama, bahwa Rasulullah Muhammad SAW itu manusia biasa. Sesekali, suatu ketika juga punya kelemahan.
Kedua, jangan main-main soal santet, itu membayakan dan berdosa besar.
Sementara ilmuwan dari kalangan Mu’tazilah tidak mengakui.
Bahwa sakit beliau itu hanya karena sakit demam yang lazim diderita oleh umumnya manusia dan manusiawi. Sama sekali bukan karena sihir atau disantet.
Argumennya cukup logic dan setidaknya ada dua. Pertama, bahwa sihir itu pasti melalui jasa setan dan diantarkan oleh setan hingga mengena ke sasaran.
Sementara Rasulullah Muhammad SAW adalah pribadi yang super steril dan terjaga oleh sentuhan setan.
Tidak ada kemampuan sedikitpun dan tidak ada peluang sedikitpun setan bisa menyentuh beliau, meski beliau sedang tidur.
Kedua, orang yang terkena sihir itu menunjukkan kelamahan yang serius, baik fisik maupun non fisik.
Dan hal itu bisa meruntuhkan martabat karena dipandang tidak ’’sakti’’ di kalangan umat sendiri.
Bagi kaum Mu’tazilah, terknena sihir itu bisa menurunkan derajat kenabian dan buruk.
’’Tu’addi ila naqsh..’’ dan itu tidak boleh menimpa diri nabi. Jika sakit demam biasa, maka manusia dan biasa.
Lha wong Nabi Musa alaihissalam saja bisa menang telak dalam adu sihir melawan pakar-pakar sihir era Fir’aun. (bersambung, in sya’ Allah).
Editor : Ainul Hafidz