JombangBanget.id - Ustad Agung Bahroni, menjelaskan pentingnya memiliki niat dan persiapan melaksanakan ibadah haji.
’’Sebab bisa saja Allah SWT memberi kita pahala haji meskipun tanpa berhaji,’’ tuturnya, saat khotbah di Masjid Agung Junnatul Fuadah, Polres Jombang, Selasa (28/5).
Suatu ketika, ulama sufi Abdullah bin Mubarak, setelah selesai menjalani ritual ibadah haji, tertidur.
Ia bermimpi melihat dua malaikat yang turun dari langit, dan mendengar percakapan keduanya.
’’Berapa orang yang datang tahun ini untuk berhaji ?’’ tanya salah satu malaikat. ’’Enam ratus ribu orang,’’ jawab malaikat satunya.
’’Berapa banyak dari mereka yang diterima ibadah hajinya ?’’ ’’Tidak satupun.’’ Percakapan itu membuat Abdullah bin Mubarak gemetar.
Ia menangis dalam mimpinya. Ia melanjutkan mendengar percakapan kedua malaikat itu.
’’Namun ada seseorang, yang meskipun tidak datang menunaikan ibadah haji, akan tetapi ibadah hajinya diterima dan seluruh dosanya telah diampuni. Berkat dia seluruh jamaah haji diterima oleh Allah SWT.’’
’’Kenapa bisa begitu ?’’ ’’Itu kehendak Allah.’’ ’’Siapa orang tersebut?’’ ’’Ali bin Al Muwaffaq, tukang sol sepatu di Kota Damaskus.’’
Mendengar itu, Abdullah binl Mubarak pun langsung terbangun dari tidurnya.
Sepulang haji, ia tidak menuju rumah. Tetapi langsung menuju kota Damaskus, Syiria.
Ia mencari sang tukang sol sepatu yang disebut malaikat dalam mimpinya.
Baca Juga: Binrohtal, Amalan yang Bikin Hisab Jadi Ringan
Setelah ketemu, Abdullah bin Mubarak bertanya.
’’Adakah sesuatu yang telah anda perbuat, sehingga anda berhak mendapatkan pahala haji mabrur, padahal anda tidak berangkat haji?’’
Ali bin Al Muwaffaq bercerita; Sejak puluhan tahun yang lalu.
Setiap hari saya menyisihkan uang dari hasil kerja saya sebagai tukang sol sepatu.
Sedikit demi sedikit saya kumpulkan, hingga akhirnya pada tahun ini, saya memiliki 350 dirham, cukup untuk saya berhaji. Dia pun sudah siap berhaji.
Hingga suatu hari, istrinya mencium bau masakan yang nikmat. Istrinya ingin merasakan masakan tersebut. Ali bin Al Muwaffaq akhirnya keluar rumah.
Aromanya dari gubug yang hampir runtuh. Disitu ada seorang janda dan enam anaknya.
Ali mengatakan kepadanya bahwa istrinya ingin masakan yang ia masak, meskipun sedikit.
Janda itu diam memandangnya. Lalu dengan perlahan ia mengatakan, ’’tidak boleh, Tuan!’’
’’Dijual berapapun akan saya beli.’’ ’’Makanan itu tidak dijual, Tuan!’’ katanya sambil berlinang air mata. ’’Kenapa ?’’ Sambil menangis, janda itu menjawab, ’’Daging ini halal untuk kami dan haram untuk Tuan.’’
’’Kenapa ?’’ ’’Sudah beberapa hari kami tidak makan. Di rumah sama sekali tak ada makanan.
Hari ini kami melihat keledai mati, lalu kami ambil sebagian dagingnya untuk kami masak, dan kami makan.’’ Dengan sesenggukan janda itu menjelaskan.
Mendengar ucapan tersebut, Ali menangis. Kemudian kembali pulang.
Baca Juga: Binrohtal, Sedekah Terbaik
Dia ceritakan perihal kejadian itu pada istrinya, iapun menangis. Hingga akhirnya, kami memasak makanan dan mendatangi rumah janda tersebut.
’’Ini kami bawakan masakan untukmu.’’ Uang untuk haji sebesar 350 dirham dia berikan pada mereka.
’’Pakailah uang ini untukmu sekeluarga. Gunakanlah untuk usaha, agar engkau tidak kelaparan lagi,’’ pesan Ali bin Al Muwaffaq.
Mendengar cerita tersebut, Abdullah Al Mubarak tak bisa menahan air mata.
Ternyata, inilah amalan yang membuat Allah SWT menerima amalan haji meskipun dia tidak berkesempatan menunaikan ibadah haji. (jif/naz)
Editor : Ainul Hafidz