Bisnis Desa Kita Features Hiburan Hukum Jombangan Jurnalisme Warga Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Olahraga Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Politika Religia Sosok Wisata

Gus Zu'em: Jum'atan Bergelombang

Ainul Hafidz • Senin, 27 Mei 2024 | 16:35 WIB
KH Zaimuddin Wijaya As
KH Zaimuddin Wijaya As

JUM'AT, pukul 12.35 pesawat Turkish yang kami tumpangi mendarat di bandara Manchester.

Lebih cepat 20 menit dari jadwal. Kami keluar bandara jam 13.10. Cuaca cerah dengan suhu udara 14 derajat.

Menurut mas Budi, sahabat anak saya yang menjemput kami, waktu dhuhur baru saja masuk.

Saya ditawari untuk shalat Jum'at dulu sebelum meluncur ke Leeds yang berjarak tempuh 1,5 jam-an. Sebenarnya tidak ada kewajiban jum'atan, sebab kami musyafir.

Tapi karena saya ingin melihat suasana aktivitasnya, maka tawaran saya terima dengan antusias.

"Tapi kemungkinan sampai masjid, sudah selesai jum'atannya, pak.." jelasnya yang bikin saya agak kecewa.

Rupanya dia merasakan kekecewaan saya, maka dia pun minta izin berhenti sebentar untuk lihat aplikasi di HP-nya beberapa saat.

"Baik pak, kita lanjut ke masjid yang lainnya, karena meski waktu dhuhur jam 13.10 tapi untuk jum'atan tiap-tiap masjid punya jadwal yang berbeda.

Ada yang jam 14.00 jam 15.00 atau jam16.00, karena Asarnya jam 17.20... bahkan ada masjid yang menyelenggarakan jum'atan 2 gelombang karena masjidnya kecil." terangnya membuat saya makin bersyukur.

"Kita nanti ke masjid Altrincham Islamic Cultural Center di kawasan Hale, Halton... semoga saja kita bisa ikutan yang gelombang kedua..." harapnya.

Alhamdulillah, memasuki jalan masjid tersebut, masih berjajar mobil parkir memanjang di pinggir jalan.

Baca Juga: Gus Zu'em: Berdamai dengan Masalah

Pertanda sesi pertama belum selesai. Kami terus berputar cari parkir di antara mobil-mobil merek Eropa terbaru.

Saya sama sekali tidak menemukan sepeda motor yang parkir seperti di tempat kita.

Konon, harga mobil lebih murah di Inggris dari pada di Indonesia. Yang mahal, justru asuransinya.

Sebagai misal, kita beli mobil Honda Jazz 2015 seharga 60 juta-an, asuransinya bisa 35 juta.

Itu sudah termasuk asuransi kehilangan dan untuk korban dari senggolan kita.

Jadi yang ditanggung bukan hanya mobil yang menabrak tapi juga korban yang ditabrak.

Berarti si korban dapat dua pertanggungan. Dari asuransinya sendiri dan dari asuransi pelaku. Tapi, namanya juga musibah, tetap saja lebih senang selamat.

Setelah 5 menit cari parkiran, tampak jamaah sesi pertama mulai bubar.

Akhirnya kami dapat parkir dekat masjid. Bentuknya dari luar seperti rumah pada umumnya, hanya saja settingan di dalamnya diberi mihrab sederhana dan karpet bergaris shaf yang tidak simetris dengan tembok.

Masjid terisi penuh sekira 120 orang. Shaf terdepan berisi 15 jamaah, yang bagian tengah 40-an dan yang paling belakang 6 jamaah Ini menunjukkan bahwa sejak awal bangunan in tidak dirancang untuk masjid, tapi gedung yang dimasjidkan.

Saya masuk, khutbah sudah dimulai. Sayang sekali, sehingga saya tidak tahu apakah bilalnya azan lagi atau tidak usai khatib mengucap salam.

Jama'ah yang baru hadir, mayoritas mengerjakan shalat sunnah 2 raka'at. Saya tidak tau niat mereka. Apakah shalat tahiyyatul masjid atau qabliyah jum'ah.

Baca Juga: Gus Zu'em: Ojo Kagetan..

Ini hal sensitif bagi yang senang mempertanyakan dalil tiap amalan.

Khotib saat itu dengan rileks tanpa pegang tongkat, bersikap seperti penceramah di atas podium.

Membahas kewajiban berbakti pada orangtua, pentingnya bersikap adil kepada siapa saja dan tentang tragedi kemanusiaan di Gaza yang harus ditentang.

Baik khutbah pertama maupun kedua, durasinya masing-masing sekitar 20 menit.

Total 40 menit, lumayan panjang untuk ukuran Jombang.

Tapi saya salut dengan para jama'ahnya yang tidak mengantuk satu pun saat mendengarkan khutbah.

Ini berarti, mereka melaksanakan jum’atan tidak sekadar menggugurkan kewajiban, seperti beberapa saudara kita di sini. Adapun durasi shalatnya tak lebih dari 5 menit, karena imam membaca surah al Ma'un dan al Ikhlas.

Jamaahnya sangat antusias dari awal hingga akhir. Namun begitu salam, mereka langsung berdiri meninggalkan tempat, sebagaimana imamnya.

Hehe... kata orang Jombang : lamcing. Mari salam langsung mlencing (usai salam langsung lari)..

Tidak ada saling salaman dengan jamaah kiri kanan, apalagi wiridan dan doa bersama.

Pokoknya.. begitu assalamu'alaikum, langsung berdiri dan bergegas.

Kalau saya, langsung berdiri tapi takbir lagi untuk shalat Asar jama' taqdim secara qashar, sesuai niat awal saya.

 

Baru setelah itu, wiridan sebentar lalu bermohon kepada Allah: di antaranya mudah-mudahan sahabat-sahabat pembaca kolom saya berkesempatan untuk melihat belahan dunia yang saya injak ini agar makin bisa merasakan kemahabesaran Allah atas keragaman perilaku ciptaan-Nya.

Aamiin ya robbal'alamiin. (*)

Editor : Ainul Hafidz
#opini #Gus Zuem #Jumat #kolom #bergelombang #Jombang