Bisnis Desa Kita Features Hiburan Hukum Jombangan Jurnalisme Warga Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Olahraga Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Politika Religia Sosok Wisata

Jejak Nama Jalan di Jombang, Penyebutan Semula Weg, Straat dan Laan Berganti Djalan hingga Jadi Ini

Anggi Fridianto • Minggu, 26 Mei 2024 | 15:00 WIB

 

DJL KH A DACHLAN: Jalan di Jombang dengan nama wayang diganti nama-nama pahlawan nasional.
DJL KH A DACHLAN: Jalan di Jombang dengan nama wayang diganti nama-nama pahlawan nasional.

JombangBanget.id - Pasca pengakuan kedaulatan Indonesia oleh penjajah Belanda 27 Desember 1949, pemerintah mulai menata kembali urusan hajat hidup masyarakat.

Apalagi setelah pembubaran bentuk negara Republik Indonesia Serikat (RIS) pada 17 Agustus 1950 untuk kembali menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Tak lama setelah itu, roda pemerintahan di daerah kembali dijalankan.

Begitu pula yang terjadi di Kabupaten Jombang. Sesuai UU No. 12 Tahun 1950 tentang Pemerintahan Daerah Kabupaten di Djawa Timur.

UU yang resmi berlaku sejak 8 Agustus 1950 itu, menetapkan status Jombang bersama 28 daerah lainnya sebagai kabupaten yang berhak mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri.

Kemudian DPRD Kabupaten Jombang ditetapkan terdiri dari 32 orang anggota.

Pemerintahan sipil dipimpin oleh bupati kepala daerah R Istidjab Tjokrokoesoemo (1950-1956), sedangkan lembaga legislatif dalam bentuk Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Sementara (DPRDS).

Pimpinan DPRDS Kabupaten Jombang dijabat ketuanya yang bernama Zoechalkoesoemo.

Di samping menjalankan kebijakan pemerintah dalam melayani kebutuhan masyarakat, bupati kepala daerah juga bermitra dengan DPRDS Jombang yang terbentuk sejak 30 Oktober 1950.

Diantaranya dalam memberi nama-nama ruas jalan yang ada di wilayah dalam kota Jombang.

Baca Juga: Tiap Dusun Miliki Benda Peninggalan Sejarah, Pemdes Watugaluh Jombang Aktif Koordinasi dan Jaga Kelestarian

“Saya menemukan beberapa nama jalan tahun 1950-an di sebuah buku, berjudul Pantja Warsa DPRDS Kabupaten Djombang terbitan tahun 1955,” kata Moch. Faisol, penelusur sejarah Jombang.

Nama-nama jalan di Jombang kota ini diambil diantaranya dari nama jenis bunga dan tokoh pewayangan.

Pemberian nama-nama ini untuk menggantikan nama jalan yang sudah ada sejak era kolonial Belanda dan penjajahan Jepang.

Sebelumnya, memang penjajah Belanda membagi kategori jalan menjadi empat macam.

Yaitu weg untuk kelas jalan besar dan lebar yang menghubungkan antar provinsi.

Straat untuk jalan antar kota dalam provinsi yang agak lebar. Laan untuk ruas jalan lebih kecil di dalam kota.

Brandgang atau gang dipakai menamai koridor jalan kecil yang memisahkan antara bangunan satu dengan lain.

Pemerintah kolonial menetapkan nama Djombang straat, Heeren straat, Parimono straat, Djombatan straat dan Normaal laan.

Ketika Jepang berhasil menguasai wilayah Jombang pada 6 Maret 1942, kebijakan baru yang diterapkan penjajah Jepang adalah mengganti semua nama apapun yang berbau Belanda.

Termasuk nama-nama ruas jalan yang berbahasa Belanda.

“Memang ini upaya Jepang untuk menarik simpati rakyat Jombang yang seolah-olah membela rakyat dari Belanda,” lanjut Faisol.

Sedangkan status weg, straat, laan dan gang ditiadakan. Semuanya diganti dengan awalan penyebutan djalan.

Baca Juga: Temuan Topeng Perunggu di Goa Made Kudu Jombang Tak Hilangkan Sejarah Situs

Akibatnya nama jalan Heeren straat diubah menjadi Djalan Kota, Djombang straat diubah Djalan Kediri.

Kemudian Parimono straat diganti Djalan Parimono. Normaal laan diganti Djalan Roemah Sakit (ruas barat) dan Djalan Djombatan (ruas timur). Begitu pula Pasar straat diganti Djalan Sidobajan.

”Pada akhir 1950, Pemkab Jombang menambah beberapa nama baru meskipun juga mempertahankan nama lama,” kata Faisol.

Misalnya, Jl Stasiun, Jl Alun-alun utara, Jl Mawar, Jl Kamboja, Jl Seruni, Jl Melati, Jl Tembakau.

Nama-nama jalan dari jenis bunga ini ada di area timur jalan utama tengah kota (kini Jl KH Wahid Hasyim).

Sedangkan untuk ruas jalan di sebelah barat jalan, memakai nama-nama tokoh pewayangan.

Mulai dari Jl Arjuna (Jl Dr Soetomo), Jl Sencaki (Jl Ir H Juanda), Jl Bima (Jl KH Ahmad Dahlan), Jl Nakula (Jl KH Agus Salim), Jl Sadewa (Jl HOS Cokroaminoto), Jl Pandu (Jl Dr Setiabudi).

Ada juga jl Sumodipuran yang berubah menjadi jl Bhayangkara dan kini menjadi jl Melati.

Kemudian pasca ditetapkannya para Pahlawan Revolusi akhir tahun 1965, dilakukan perubahan nama-nama jalan lagi.

Ada lima nama Pahlawan Revolusi yang dipakai sebagai nama ruas jalan di Jombang.

Yaitu Jl Jenderal Ahmad Yani untuk menggantikan Djalan Kediri (barat Ringin Contong).

Jl Letjen S Parman untuk ruas di wilayah Wersah ke utara sampai tembus pegadaian.

Jl Mayjen Sutoyo untuk menggantikan Djalan Kaliwoengoe yang sekarang menjadi Jl Adityawarman.

Baca Juga: Awal Dibangun Ada 6 Gardu, Kini Sisa 3, Sejarah Transformatorhuis ANIEM di Jombang

Sedangkan Jl Kapten P Tendean untuk ruas barat pabrik gula Djombang Baru ke selatan sampai desa Jabon. Terakhir Jl Karel Sadsuit Tubun (kini Jl Mawar).

Setelah itu diikuti juga dengan nama pahlawan nasional yang lain.

Misalnya, Djalan Kota berubah menjadi Jl KH Wahid Hasyim.

Djalan Arjuna diganti Jl Dr Soetomo.

Djalan Kediri (sebelah utara PG Djombang Baru) menjadi Jl PB Soedirman.

Djalan Taman Bahagia diganti Jl Kusuma Bangsa.

Djalan Ksatrya menjadi Jl Jaksa Agung Suprapto.

Djalan Niaga diganti Jl Slamet Riadi (kini Jl Buya Hamka).

Program penggantian nama jalan kembali terjadi menjelang Reformasi 1998 dan selanjutnya.

Sehingga kini bisa ditemui ada nama jalan yang berganti sampai empat kali.

Misalnya Djombatan straat menjadi Djalan Roemah Sakit, lalu Jl Arjuna, kemudian Jl Dr Soetomo.

Ada juga Pasar straat menjadi Djalan Sidobajan, lalu Jl Ampera dan sekarang Jl Seroja.

Contoh lain Djalan Pandak menjadi Jl Dr Cipto Mangunkusumo, lalu Jl Sriwijaya yang kini diganti lagi Jl Cak Durasim. (ang/fid)

Editor : Ainul Hafidz
#pahlawan #bunga #jalan #Nasional #Berganti #tanaman #Wayang #nama #Jombang