JombangBanget.id – Komisi C DPRD Jombang mempertanyakan kualitas proyek pembangunan plengsengan milik BBWS Brantas di Jombang.
Menyusul, proyek plengsengan di Desa Betek, Kecamatan Mojoagung, Jombang mengalami kerusakan parah padahal bangunan tersebut masih belum genap satu tahun dikerjakan.
”Kami pertanyakan itu kualitas bangunannya seperti apa, baru saja dibangun sudah banyak yang rusak,” ujar Wakil Ketua Komisi C DPRD Jombang Miftahul Huda.
Selain untuk penanggulangan banjir, proyek tersebut menelan anggaran yang tidak sedikit.
Seharusnya pembangunan bisa dilakukan secara maksimal.
”Untuk anggarannya itu kalau tidak salah menelan anggaran belasan miliar. Saya lupa pastinya, dengan anggaran sebesar itu harus dikerjakan dengan baik,” ungkapnya.
Meski ini bukan merupakan proyek dari Pemkab Jombang, melalui dinas terkait ikut melakukan pemantauan terhadap proyek tersebut.
Sebab, yang paling merasakan dampaknya warga sekitar.
”Apabila ditemukan kerusakan segera ada tindak lanjut dari BBWS,” bebernya.
Kondisi apa pun pada bangunan tersebut harus segera dilaporkan ke BBWS.
Apabila tidak, dikahwatirkan akan dilakukan pembiaran. ”Jadi pemkab juga harus responsif memberikan informasi ke BBWS,” terangnya.
Baca Juga: Heboh Penemuan Mayat Bayi di Saluran Irigasi di Jombang, Begini Kronologinya
Dirinya juga meminta perbaikan segera dilakukan. ”Kami mendorong agar segera dilakukan perbaikan secepatnya,” pungkas Huda.
Seperti diberitakan sebelumnya, proyek pembangunan plengsengan di saluran Sekunder Gambiran, tepatnya di Dusun Betek Barat, Desa Betek, Kecamatan Mojoagung, Jombang menjadi rasan-rasan warga.
Sebab, keberadaan plengsengan yang baru dibangun 2023 itu sudah ambrol.
Selain precast lining di tanggul terlihat rontok, panjang plengsengan yang rontok mencapai 20 meter.
”Kalau tidak salah ambrol sudah satu minggu lalu,” ujar Abdul Ghozi salah satu warga sekitar.
Dirinya menyebut, saat itu kondisi debit air di sungai sangat tinggi hal ini membuat material tanggul langsung jebol.
”Waktu itu memang kondisi debit airnya besar, kemudian ambrol,” katanya.
Meski demikian, pekerjaan terbilang asal-asalan. Sebab, belum genap satu tahun, bangunan tersebut sudah rusak.
Jika melihat kondisi seperti itu, ia menyebut kualitas pembangunan terkesan asal-asalan.
Seharusnya, para pekerja bisa memperhitungkan debit air yang melintasi sungai tersebut agar bangunan tetap awet.
”Kalau melihat bangunanya memang rata-rata seperti ini. Pasti tidak akan bertahan lama,” tegas dia.(yan/naz/fid)
Editor : Ainul Hafidz