JombangBanget.id - Pengasuh PP Al Muhsinin, Tugu, Kepatihan, Jombang Habib Muhammad bin Salim Assegaf, menjelaskan tingkatan nafsu.
’’Ada tiga tingkatan nafsu manusia,’’ tuturnya, saat ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah, Polres Jombang, Senin (18/3).
Pertama nafsu ammarah. Yakni nafsu yang seratus persen penuh keburukan. Sebagaimana disebutkan dalam QS Yusuf 53.
Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku.
Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang.
Kedua nafsu lawamah. Yakni nafsu yang sudah terkendali. Separo masih mengajak keburukan, namun separonya sudah tunduk pada kebaikan.
Sebagaimana disebutkan dalam QS Alqiyamah 2. Dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri).
Ketiga nafsu mutmainnah. Yakni nafsu yang sudah dipenuhi dengan kebaikan. Sebagaimana disebutkan dalam QS Alfajr 27-30.
Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridai-Nya.
Maka masuklah ke dalam hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam surga-Ku.
Cara mendidik nafsu yang paling efektif yakni dengan puasa.
Baca Juga: Binrohtal, Jasad Utuh Karena Puasa
Alkisah, sebelum menciptakan manusia, Allah SWT terlebih dahulu menciptakan akal dan nafsu.
Saat Allah menciptakan akal, Allah SWT mengajukan pertanyaan kepada akal.
’’Wahai akal, siapakah kamu dan siapakah Aku?’’ Dengan rendah hati, akal menjawab, ’’Aku hambaMu dan Engkau adalah tuhanku.’’
Setelah menciptakan nafsu, Allah SWT bertanya kepada nafsu. ’’Wahai nafsu, siapakah kamu dan siapakah Aku?’’
Dengan sombong nafsu menjawab, ’’Aku adalah aku dan Engkau adalah Engkau.’’
Mendengar jawaban dari nafsu, lantas Allah SWT murka dan melemparkan nafsu ke dalam neraka panas selama seribu tahun.
Setelah itu, nafsu ditanya lagi dengan pertanyaan yang sama. Jawaban nafsu tetap tidak berubah.
Kemudian Allah SWT melempar nafsu dalam neraka yang sangat dingin selama seribu tahun.
Setelahnya, nafsu ditanya namun jawabannya tetap sama.
Kemudian Allah SWT melemparkan nafsu dalam neraka lapar selama seribu tahun. Setelahnya nafsu ditanya, ’’Siapa kamu dan siapa Aku?’’
Dengan cemas nafsu menjawab, ’’Aku hambaMu dan Engkau tuhanku.’’
Dari sini diketahui, cara untuk menundukkan hawa nafsu yakni dengan melaparkan perut.
Inilah sebabnya kita diperintahkan berpuasa agar bisa mengendalikan hawa nafsu. (jif/naz/fid)
Editor : Ainul Hafidz