Bisnis Desa Kita Features Hiburan Hukum Jombangan Jurnalisme Warga Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Olahraga Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Politika Religia Sosok Wisata

Binrohtal 2.134: Mulia karena Takwa

Rojiful Mamduh • Senin, 11 Maret 2024 | 12:42 WIB
Binrohtal, sebuah tulisan soal ceramah islam dari beberapa tokoh islam di Jombang.
Binrohtal, sebuah tulisan soal ceramah islam dari beberapa tokoh islam di Jombang.

Jombangbanget.id - Saat ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah, Polres Jombang, Kamis (7/3), Ketua MWCNU Kecamatan Wonosalam, Kiai Wahyu Maretno Wibowo, menjelaskan pentingnya takwa.

’’Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah SWT ialah orang yang paling takwa diantara kamu,’’ tuturnya mengutip QS Alhujurat 13.

Takwa terdiri dari hati yang beriman dan dibuktikan dengan amal saleh. Dalam konteks organisasi berarti loyal dan kinerjanya bagus.

Kiai Wahyu lalu mengutip hadis Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa sallam. Sesungguhnya Allah SWT tidak melihat jasad dan harta kalian, tetapi Ia melihat hati dan amal kalian.

’’Melihat’’ pada hadis di atas maksudnya, Allah SWT tidak memberikan balasan dan tidak menghitung amal seseorang berdasarkan tampilan fisiknya namun berdasarkan apa yang ada di hatinya. Semakin ikhlas hatinya dan bagus amalnya, maka takwanya makin bagus. Sehingga dia makin mulia disisi Allah SWT.

Jasad yakni bentuk penciptaan fisik seseorang. Apakah ia diciptakan sempurna atau cacat, ganteng atau jelek, laki-laki atau perempuan, warna kulit hitam atau merah. Bahkan apakah ia sengsara atau bahagia. Jasad menunjukkan makna keadaan atau tampilan fisik seseorang.

Sedangkan harta berarti semua yang kita miliki baik berupa emas, perak atau binatang ternak.

Hadis ini menunjukkan perbedaan penting antara fisik dan amal. Tampilan fisik bersifat wahbi atau given. Allah SWT memberikan kepada kita tanpa ada kemampuan untuk menolak atau memilih.

Allah SWT  menetapkan kepada kita bentuk fisik kita, warna kulit kita, bahasa ibu kita, elok atau jelek rupa kita. Karena fisik bersifat pemberian, maka tugas kita hanyalah mensyukuri, menjaga dan merawatnya.

Kita dilarang mencela dan merusak pemberian tersebut. Dan karena pemberian juga, maka kita tidak diminta pertanggung jawabannya.

Allah SWT tidak melihat dan menilai dari segi fisik seseorang yang bersifat pemberian. Berbeda dengan niat dan amal. Dua hal terakhir ini bersifat kasbi atau upaya dan usaha manusia. Allah SWT memberikan kita potensi untuk melakukan sesuatu namun keputusan untuk berbuat dan memanfaatkan potensi tersebut diserahkan kepada tiap orang.

 Ada yang dengan potensi tersebut digunakan untuk keburukan dan kejahatan. Ada juga yang memanfaatkannya untuk kebaikan.

Karena niat dan amal bersifat kasbi dan menjadi pilihan seseorang untuk melakukannya, maka nilai orang terletak pada amalnya. Allah SWT menghitung dan menghisab seseorang berdasarkan amal tersebut.

Banyak orang tertipu dan terlena dengan penampilan fisik. Tidak sedikit orang menilai bahwa tampan yang rupawan dan harta yang banyak menjadi ukuran kemuliaan seseorang. Sementara ia abai terhadap amal. Padahal kemuliaan dan nilai seseorang terletak pada seberapa amal perbuatan yang telah dilakukan. Bila amalnya baik, maka ia menjadi mulia.

Sebaliknya, bila amalnya buruk, maka ia menjadi hina. Kita tidak boleh terjebak menilai seseorang hanya dari tampilan luar dan fisiknya. Karena yang terpenting adalah loyalitas dan kinerjanya. (jif/naz/ang)

 

 

Editor : Anggi Fridianto
#Binrohtal #Jombang #Ngaji