DARI falsafah Jawa, kita mendapat nasihat agar ojo kagetan (Jangan mudah terkejut), ojo gumunan (jangan mudah heran) dan ojo dumeh (jangan mentang-mentang).
Pitutur itu sengaja saya angkat untuk mengingatkan kita semua dalam menyikapi hasil pemilu 14 Februari lalu.
Mari kita kaji satu per satu.
Ojo Kagetan. Dalam hidup ini hendaknya kita tidak mudah terkejut.
Keterkejutan atas suatu peristiwa berakibat fatal pada jiwa kita.
Terlebih bila peristiwa itu sama sekali tidak terduga. Seperti hasil pilpres saat ini.
Semua timses tiap paslon merasa kaget. Mereka tak menduga mendapat suara setinggi atau serendah itu.
Sahabat saya dari timses yang kalah sangat terkejut karena selama kampanye akbar selalu dipadati pendukungnya dengan penuh antusiasme.
Sementara dari timses yang menang juga terkejut karena mendekati hari-hari pencoblosan dihajar petisi para akademisi dan filem “Dirty Vote” yang tayang justru di masa tenang.
Maka kepada sahabat-sahabat saya itu yang kebetulan sealmamater sehingga sangat paham metode “multistage random sampling” yang diterapkan dalam “Quick Count”, saya berpesan: sudahi keterkejutan Anda.
Sekarang saatnya introspeksi bagi yang kalah dan evaluasi bagi yang menang.
Baca Juga: Gus Zu'em: Mendalili Ijtihad Politik
Ingat petuah leluhur kita: ojo kagetan. Untuk menjadi orang yang tidak mudah terkejut, kita harus memiliki keyakinan kuat bahwa Allah maha berkendak atas segalanya.
Anda jangan merasa memiliki kewenangan untuk memutuskan keberhasilan sebuah upaya.
Maka, pesan sederhana itu sesungguhnya memiliki makna yang dalam sekali, karena mensyaratkan ketawakkalan sekaligus kesabaran yang tinggi dalam menghadapi realitas kehidupan sebagai wujud keputusan Allah.
Anda bisa melihat para kiai dan ulama yang alim di pesantren, baik simpatisan paslon yang kalah maupun menang, mereka menyikapi hasil pilpres dengan santai-santai saja.
Kalah dan menang dalam pertandingan itu biasa. Jangankan sekadar pilpres, kanjeng Nabi saja dalam berperang pernah menang dan kalah juga.
Ojo Gumunan. Dalam hidup ini janganlah bersikap mudah heran.
Nasihat singkat yang sangat berbobot. Ingat, hanya para pembelajarlah orang yang tidak mudah heran.
Dari belajar, baik di lembaga pendidikan maupun di dinamika kehidupan (ilmu titen), membuat kita mudah memahami sebuah peristiwa sehingga tak mudah gumun.
Sebagai misal, bagi orang yang tak berpengetahuan tentang sulap memotong tubuh, pasti terheran-heran ketika menyaksikan pesulap memisahkan tubuh asistennya.
Tapi bagi kita yang tahu trick-nya, paling hanya senyum-senyum saja.
Bahkan dari pengetahuan yang kita miliki, kita bisa memprediksi adegan apa yang akan dilakukan selanjutnya.
Persis seperti peristiwa penghitungan suara ini. Kita jangan gumun kalau setelah ini akan ada “penolakan” hasil pemilu dari pihak yang kalah.
Baca Juga: KH Isrofil Amar Tutup Usia, Gus Zu'em: Beliau Pejuang Sejati Berintegritas dalam Mengemban Amanat
Mulai dari sekedar menolak dengan tuduhan kecurangan, hingga tuduhan pelanggaran undang-undang sampai membawa ke meja MK.
Itu sudah mulai terlihat dari adanya tuduhan “framming” kepada lembaga-lembaga survei yang melakukan Quick Count dan penelitian exit poll (menggali data pemilih pascamencoblos). Kita senyumi saja.
Timnya pak Prabowo 2019 dulu juga begitu. hehe..
Ojo Dumeh. Dalam hidup ini jangan bersikap mentang-mentang.
Nasihat ini menganjurkan kita untuk selalu andap-asor (rendah hati) atas kelebihan yang kita miliki.
Jangan mentang-mentang berharta, kita tidak mau bersahabat dengan si miskin.
Jangan mentang-mentang berilmu, kita memandang rendah orang tak berpendidikan.
Dengan rendah hati, membuat orang-orang sekitar merasa nyaman bersama kita.
Sehingga mudah kita ajak bergandengan tangan untuk mencari jalan terbaik menuju harapan.
Pitutur ini penting untuk saya tegaskan karena dalam kontestasi pilpres, seluruh paslon punya “bahan” untuk mentang-mentang.
Paslon 01 bisa mentang-mentang dengan pendidikannya yang paling tinggi. Paslon 02 dengan suaranya yang paling banyak.
Paslon 03 bisa mentang-mentang dengan partai pengusungnya yang paling besar.
Baca Juga: Gus Zu'em: Istri yang Menyalehkan
Bayangkan jika tiap “rasa-paling” itu mereka pegang teguh dengan mentang-mentang atau kesombongannya, maka besar kemungkinan perjalanan negeri ini ke depan akan mudah sekali melahirkan konflik.
Oleh karena itu, agar negara aman, tenteram, dan damai, Sri Sunan Pakubuwana IV dalam Serat Wulangreh mewanti-wanti kepada seluruh entitas kenegaraan untuk tidak bersifat sombong: Ojo Adigang, Adigung, Adiguna.
Maksudnya kurang lebih, adigang: menyombongkan kekuatannya (tentara). Adigung: menyombongkan keilmuannya (ulama/akademisi). Adiguna: menyombongkan kedudukannya (pejabat).
Karena hanya dengan kerendahan hati atau rasa tawadhdhu’-nya para elit itulah kondusifitas kehidupan berbangsa dan bernegara lebih mudah tercipta.
Saya jadi berfikir: jangan-jangan masyarakat kita terinspirasi wejangan Pakubuwana IV itu.
Sehingga selama masa kampanye capres, mereka “hanya” menilai siapa di antara para paslon yang paling menunjukkan ke-andap-asor-annya dalam bersikap dan bertutur kata.
Itulah yang akan mereka pilih.
Sangat bertolak belakang dengan masyarakat barat yang senang pada capres yang mampu menyerang dan menaklukkan rivalnya dengan jumawa dalam debat publik.
Dan dugaan saya terkonfirmasi ketika saya tanya alasan emak-emak yang masak di kantin Unipdu, pilih 02: “kulo remen mas Gibran, masio putrane presiden, nek salaman kale tiang sepuh mesti cium tangan..”.
Seunik itu penilaiannya.
Saya yakin, hal seperti ini luput dari amatan akademisi di kampus-kampus ternama yang kurang melihat ke bawah. Wallahu a’lam bishshawab. (*)
Editor : Ainul Hafidz