JombangBanget.id - Pengasuh PP Safinda, Bandung, Diwek, Jombang KH Ghozi Rofiudin Alhafiz, menjelaskan pentingnya menjaga lisan.
’’Menjaga lisan itu sangat berat. Hanya orang beriman dan bertakwa yang mampu melakukannya,’’ tuturnya saat ngaji usai salat Duha di Masjid Agung Junnatul Fuadah, Polres Jombang, Kamis (2/2).
Gus Ghozi lalu mengutip QS Al Ahzab 70.
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah SWT dan katakanlah perkataan yang benar.
Ayat itu diawali dengan seruan wahai orang beriman.
Yakni orang-orang yang percaya kepada Allah SWT.
Tidak semua orang diberi hidayah untuk beriman. Hanya orang yang dicintai Allah SWT yang diberi hidayah iman.
Iman adalah kekayaan yang tak ternilai harganya. Dengan iman, kita akan bisa panen pahala amal baik di dunia dan akhirat.
Sehingga mendapatkan nikmat yang abadi di surga. Sebaliknya, tanpa iman, kekayaan sebesar apapun tak ada artinya.
Karena tak bisa dinikmati di akhirat. Kebaikan orang yang tidak beriman, hanya akan dibalas di dunia.
Sementara di akhirat, dia akan tetap masuk neraka.
Baca Juga: Binrohtal, Kejarlah Akhirat Dunia Pasti Dapat
Ayat kemudian dilanjutkan dengan perintah bertakwa.
Ini menunjukkan, iman kepada Allah SWT belum cukup. Harus dibuktikan dengan takwa, menjalankan semua perintah Allah SWT.
Serta menjauhi semua laranganNya. Takwa ini akan menyeleksi, siapa orang yang sungguh-sungguh beriman.
Serta siapa yang tidak sungguh-sungguh iman.
Setelah memerintahkan bertakwa, barulah Allah SWT memerintahkan untuk menjaga lisan.
’’Ini menunjukkan, kemampuan menjaga lisan sangat terkait dengan tingkat keimanan dan ketakwaan seseorang,’’ tegasnya.
Hanya orang yang sungguh-sungguh beriman dan sungguh-sungguh bertakwa yang mampu menjaga lisan.
Makanya Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda; Barangsiapa beriman kepada Allah SWT dan hari akhir, maka ucapkanlah perkataan yang baik atau diam.
Rasulullah juga bersabda; Keselamatan manusia tergantung kemampuannya menjaga lisan.
’’Di masa seperti sekarang ini, orang mudah menggunjing, mencaci bahkan menghina. Itu dosanya sulit dihapus,’’ terang Gus Ghozi.
Misalnya menggunjing, mencaci bahkan menghina calon presiden.
Setelah kita berhenti sekalipun, bahan gunjingan itu akan terus diomongkan oleh orang-orang.
Baca Juga: Binrohtal, Jika Tangan dan Lisan Tak Bisa Bermanfaat, Lebih Baik Diam
Sehingga kita terus dapat kiriman dosa. Dan kita tidak mungkin minta maaf kepada calon presiden tersebut.
Karena tidak mungkin bisa ketemu. Ini membuat dosa kita tak bisa diampuni.
Rasulullah berpesan, wahai Ali; Allah SWT tidak menciptakan sesuatu di dalam diri manusia yang lebih utama daripada lisan.
Lisan dapat memasukkan seseorang ke surga dan bisa pula menjerumuskannya ke neraka.
Maka penjarakanlah lisanmu karena ia laksana anjing yang galak.
Wahai Ali, janganlah engkau melaknat seorang muslim ataupun hewan melata, sebab kutukan tersebut akan kembali kepada dirimu sendiri.
Demi menjaga lisan, sahabat Umar bin Khattab dan Abu Bakar sering mengemut batu. Abu Bakar mengemut batu selama 12 tahun.
Sehingga berhasil membiasakan diri irit bicara. Ia tak mengeluarkan batu dari mulutnya kecuali saat salat, makan dan tidur. Bahkan ia berdoa: Semoga diriku bisu kecuali dari zikir kepada Allah SWT. (jif/naz/fid)
Editor : Ainul Hafidz