Bisnis Desa Kita Features Hiburan Hukum Jombangan Jurnalisme Warga Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Olahraga Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Politika Religia Sosok Wisata

Binrohtal, Jika Tangan dan Lisan Tak Bisa Bermanfaat, Lebih Baik Diam

Rojiful Mamduh • Rabu, 31 Januari 2024 | 14:22 WIB

 

Binrohtal, sebuah tulisan soal ceramah islam dari beberapa tokoh islam di Jombang.
Binrohtal, sebuah tulisan soal ceramah islam dari beberapa tokoh islam di Jombang.

JombangBanget.id - Saat ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah, Polres Jombang, Selasa (30/1), Pengasuh PP Ar Roudhoh Bahrul Ulum Tambakberas, KH M Fathoni Zen, menjelaskan pentingnya menjaga tangan dan lisan.

’’Jika tidak bisa memberikan manfaat, tahanlah tangan dan lisan dari menyakiti,’’ tuturnya.

Umat Islam di dorong untuk berusaha memberi manfaat sebanyak-banyaknya kepada sesama manusia dan memberikan kenyamanan terhadap sesama.

Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda; Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.

Jika kita belum dapat memberikan manfaat, maka kita dianjurkan untuk tidak menyakiti orang lain baik dengan lisan maupun perbuatan.

Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda; Orang Islam adalah orang yang lisan dan tangannya tidak menyakiti orang lain.

’’Pesan saya, mari kita jaga lisan dan tangan kita, lebih-lebih di tahun politik sekarang ini. Mari saling menghormati. Jangan mencela satu dengan yang lain,’’ terangnya.

Rasulullah bersabda; Siapa yang beriman kepada Allah SWT dan hari akhir, hendaklah dia berkata yang baik atau diam.

Rasulullah mendahuluinya dengan mengungkapkan keimanan sebelum memperingatkan tentang bagaimana sebaiknya lisan digunakan.

Ini menunjukkan, urusan lisan bukan urusan main-main. Orang-orang yang tak bisa berkata baik maka patut dipertanyakan kualitas keimanannya kepada Allah SWT dan hari akhir.

Setiap ucapan mengandung pertanggungjawaban. Bukan hanya di dunia, tapi juga di akhirat.

Baca Juga: Binrohtal, Keutamaan Amalan Fardu

Orang yang berbicara tanpa mempertimbangkan dampak buruknya, mengindikasikan pengabaian terhadap keyakinan bahwa Allah selalu hadir menyaksikan dan hari pembalasan pasti akan datang.

Allah juga mengutus malaikat khusus untuk mengawasi setiap ucapan kita.

Sebagaimana ditegaskan dalam QS Qaf 18. Tak ada suatu kalimat pun yang diucapkan melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.

Manusia dikarunia akal sehat, agar ia berpikir terhadap setiap yang ia lakukan atau ucapkan.

Berpikir tentang nilai kebaikan dalam kata-kata yang akan kita ucapkan.

Juga dampak yang bakal timbul setelah ucapan itu dilontarkan.

Di zaman modern ini, ucapan atau ujaran tak semata muncul dari mulut tapi juga bisa dari media sosial.

Bahkan jadi ajang ghibah, fitnah, kebohongan, provokasi kebencian, bahkan sampai ancaman fisik yang membahayakan.

Makna lisan pun meluas, mencakup pula perangkat-perangkat di dunia maya yang secara nyata juga mewakili lisan kita.

Dampak yang ditimbulkannya pun sama, mulai dari adu domba, tercorengnya martabat orang lain, sampai bisa perang saudara.

Karena itu, kita harus hati-hati berucap atau menulis sesuatu di media sosial.

Berpikir dan ber-tabayyun (klarifikasi) menjadi sikap yang wajib dilakukan untuk menjamin bahwa apa yang kita lakukan bernilai maslahat, atau sekurang-kurangnya tidak menimbulkan mudarat.

Baca Juga: Binrohtal, Musibah Terbesar Tinggalkan Salat

Ingatlah, Allah mengutus malaikat khusus untuk mengawasi ucapan kita, baik hasil lisan kita maupun ketikan jari-jari kita di media sosial.

Nabi Muhammad SAW bersabda; Wahai Ali, janganlah engkau mencela aib seseorang.

Karena tidak ada daging yang tidak bertulang (tidak ada yang mulus sempurna semua).

Ghibah itu tidak ada kafaratnya, sampai pelakunya meminta keridaan orang yang digunjing atau memohonkan ampun atas dosa orang yang digunjing.

Wahai Ali, Allah SWT tidak menciptakan sesuatu di dalam diri manusia yang lebih utama daripada lisan.

Lisan dapat memasukkan seseorang ke surga dan bisa pula menjerumuskannya ke neraka. Maka penjarakanlah lisanmu karena ia laksana anjing yang galak.

Wahai Ali, janganlah engkau melaknat seorang muslim ataupun hewan melata, sebab kutukan tersebut akan kembali kepada dirimu sendiri. (jif/naz)

 

 

Editor : Achmad RW
#tangan #lisan #Binrohtal #menjaga