Jombangbanget.id - Saat khotbah di Masjid Agung Junnatul Fuadah, Polres Jombang, Jumat (26/1), Pengasuh PP Al Muhsinin, Tugu, Kepatihan, Jombang, Habib Muhammad bin Salim Assegaf, menjelaskan tanda orang yang beriman kepada hari akhir. ’’Rasulullah Muhammad sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda; Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam. Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tetangganya. Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya,’’ tuturnya.
Pertama, berkata baik atau diam. Dalam QS Annisa 114 ditegaskan; Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh manusia memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia.
Rasulullah juga bersabda; Siapa yang menjaga di antara dua janggutnya (lisannya) dan di antara dua kakinya (kemaluannya), maka aku akan jaminkan baginya surga.
Menjaga lisan yakni tidak berkata jelek yang nanti dicatat oleh malaikat pencatat amal jelek. Juga tidak menggunakan kemaluan untuk sesuatu yang diharamkan. Hadis ini menunjukkan, berbagai maksiat terjadi karena lisan dan kemaluan. Siapa yang selamat dari kejelekan keduanya, maka ia akan selamat dari kejelekan yang besar.
Kedua, memuliakan tetangga bisa dilakukan dengan berbagai hal. Seperti yang disampaikan Imam Al-Ghazali. Di antaranya dengan memulai mengucapkan salam pada tetangga.
Menjenguk tetangga yang sakit. Melayat (takziyah) ketika tetangga mendapatkan musibah.
Mengucapkan selamat pada tetangga jika mereka mendapati kebahagiaan. Berserikat dengan mereka dalam kebahagiaan dan saat mendapatkan nikmat. Meminta maaf jika berbuat salah.
Berusaha menundukkan pandangan untuk tidak memandangi istri tetangga yang bukan mahram.
Menjaga rumah tetangga jika ia pergi. Berusaha bersikap baik dan lemah lembut pada anak tetangga. Berusaha mengajarkan perkara agama atau dunia yang tetangga tidak ketahui.
Ada juga hak-hak tetangga yang harus ditunaikan. Yakni berbuat baik kepadanya sebagaimana disebutkan dalam QS Annisa 36. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu.
Nabi bersabda; Jibril tidak henti-hentinya mengingatkan padaku untuk berbuat baik pada tetangga, sampai-sampai aku menyangka bahwa Jibril hendak menjadikannya sebagai ahli waris.
Di antara haknya tetangga yakni tidak mengganggu mereka meksi beda agama. Nabi bersabda; Mengganggu tetangga sama dengan mengganggu aku. Mengganggu aku sama dengan mengganggu Allah SWT.
Ulama Syafi’iyah dan Hambali berpendapat, tetangga adalah 40 rumah dari segala arah (depan, belakang, kanan dan kiri.
Seseorang bertanya kepada Rasulullah; Si fulanah sering melaksanakan salat di tengah malam dan berpuasa sunah di siang hari. Dia juga berbuat baik dan bersedekah, tetapi lidahnya sering mengganggu tetangganya. Rasulullah menjawab; Tidak ada kebaikan di dalam dirinya dan dia penduduk neraka.
Sahabat lalu berkata; Terdapat wanita lain. Dia (hanya) melakukan salat fardu dan bersedekah dengan gandum, namun ia tidak mengganggu tetangganya. Nabi bersabda; Dia penduduk surga.
Kedua, kita wajib berbuat baik pada tamu dengan memuliakannya. Yakni dengan cepat-cepat memberikan jamuan semampunya. Rasulullah berpesan jangan menyuguhkan di luar kemampuan karena itu membuat kita benci kepada tamu. Membenci tamu sama dengan membenci Rasulullah. Benci Rasulullah sama dengan benci Allah SWT. (jif/ang)
Editor : Anggi Fridianto