JombangBanget.id - Pengasuh PP Al Muhsinin, Tugu, Kepatihan, Jombang, Habib Muhammad bin Salim Assegaf, menjelaskan keutamaan amalan fardu atau wajib.
’’Sahabat bertanya kepada Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam; Bagaimana pendapatmu jika aku mengerjakan salat maktubah (fardu lima waktu), berpuasa Ramadan, menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram, dan aku tidak menambahnya dengan suatu apapun. Apakah aku bisa masuk surga? Rasul menjawab, ya,’’ tuturnya saat ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah, Polres Jombang, Senin (22/1).
Allah SWT sangat senang ketika kita mau melaksanakan kewajiban.
Dalam hadis qudsi Allah SWT menegaskan; Dan tidaklah seorang hamba mendekat kepada-Ku; yang lebih Aku cintai daripada apa-apa yang telah Aku fardukan kepadanya.
Alkisah, ada wali Allah SWT yang kerjanya menjadi pemanggul barang di pasar.
Dia kerja keras siang dan malam demi mendapatkan rezeki halal.
Dia tidak sempat melakukan amalan-amalan sunah. Dia juga tidak melakukan yang haram dan makruh.
Ini menjelaskan mudahnya jalan menuju surga. Pertama, Allah SWT telah menerapkan rambu-rambu yang pasti dalam hidup.
Berupa ketentuan yang teraplikasikan dalam halal dan haram.
Barangsiapa yang melanggarnya, maka ia akan tersesat dan tidak akan sampai pada tempat yang dituju.
Kedua, rambu-rambu tersebut pasti sesuai dengan kapasitas dan kemampuan manusia untuk menjalaninya.
Baca Juga: Binrohtal, Musibah Terbesar Tinggalkan Salat
Tidak ada satupun beban yang diberikan Allah kepada manusia, entah berupa kewajiban, larangan, atau ujian, kecuali manusia sanggup memikulnya.
Dalam QS Al Baqarah ayat 286 disebutkan, Allah SWT tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.
Hal ini mengandung sebuah pelajaran, semua yang diperintahkan Allah SWT, dan semua yang dilarang Allah SWT, pasti telah disesuaikan dengan kemampuan diri.
Sehingga setiap kita akan sanggup melaksanakannya.
Semuanya berpulang pada kesiapan hati kita. Seberapa kuat niat dalam hati kita untuk melaksanakan perintah tersebut.
Karena itu, Rasulullah SAW menjanjikan surga kepada lelaki itu, walaupun sekadar melaksanakan hal-hal yang diwajibkan oleh Allah SWT.
Ketiga, hadis ini mencerminkan kecintaan dan kerinduan terhadap surga.
Para sahabat berusaha mengetahui jalan untuk mendapatkannya.
Serta menegaskan amalan yang ia lakukan yang dapat mengantarkannya menuju surga.
Kerinduan terhadap surga hakikatnya memperlihatkan suburnya keimanan dalam jiwa.
Kerinduan terhadap surga akan diikuti ketakutan yang sangat terhadap azab neraka.
Keempat, surga akan didapat bila kita istiqamah dalam berbuat kebaikan.
Baca Juga: Binrohtal, Selalu Lebih Baik
Seandainya komitmen kita telah maksimal dalam menjaga hal-hal yang wajib, maka hal itu sudah cukup memasukkan kita ke surga.
Salat lima waktu dan puasa Ramadan yang kita lakukan sudah cukup mengantarkan kita masuk surga. (jif/naz/fid)
Editor : Ainul Hafidz