Bisnis Desa Kita Features Hiburan Hukum Jombangan Jurnalisme Warga Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Olahraga Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Politika Religia Sosok Wisata

Toriqoh, Cepat-Cepat Menjamu Tamu

Rojiful Mamduh • Selasa, 16 Januari 2024 | 13:35 WIB
Pengasuh PP Darul Ulum Rejoso Jombang, KH Cholil Dahlan.
Pengasuh PP Darul Ulum Rejoso Jombang, KH Cholil Dahlan.

JombangBanget.id - Pengasuh PP Darul Ulum Rejoso sekaligus Ketua MUI Jombang, KH Cholil Dahlan, menjelaskan pentingnya cepat-cepat menjamu tamu.

’’Cepat-cepat menjamu tamu itu termasuk sunah Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam,’’ tuturnya.

Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda; Barangsiapa beriman kepada Allah SWT dan hari akhirnya, maka hendaklah memuliakan tamu.

Yakni dengan mengeluarkan harta untuk menjamu tamu.

Hatim Al-Asham radiyallahu anhu berkata: Terpesa-gesa itu dari setan, selain dalam lima hal.

Sesungguhnya tergesa-gesa dalam lima hal itu termasuk sunah Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam.

Pertama, cepat-cepat memberi makan kepada tamu. Terlebih jika menginap.

Memberi makan kepada tamu dengan makanan seadanya, jika tamu telah datang.

Abu Hurairah radiyallahu anhu mengatakan, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: Barangsiapa yang memberi makan kepada saudaranya yang muslim dengan makanan seleranya, maka Allah SWT mengharamkan dia masuk neraka.

Pada hadis lain, diriwayatkan dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash radiyallahu anhu, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: Barangsiapa yang memberi roti saudaranya yang muslim hingga merasa kenyang dan memberi air hingga merasa segar, maka dijauhkan dari neraka –sejauh tujuh jurang.

Jarak tiap jurang ke juang yang lain adalah perjalanan tujuh ratus tahun.

Baca Juga: Toriqoh, Dikabulkan Hajat

Suatu sore, Rasulullah SAW kedatangan seorang tamu muhajirin dari Makkah. Lalu Nabi memanggil istri-istrinya untuk menjamunya.

Mereka menjawab, ’’Ya Rasulullah, kami tidak mempunyai apa-apa kecuali air.’’

Rasulullah yang sedang bersama para sahabatnya di masjid menawarkan; ’’Siapakah di antara kalian yang mau menjamu tamuku ini?’’ Berdirilah seorang sahabat Ansor bernama Abu Thalhah Al-Anshari; ’’Aku, ya Rasulullah.’’

Sehabis salat Isya, sahabat Ansor itu membawa tamu Rasulullah ke rumahnya. Ia lalu berkata kepada istrinya, Umu Salamah.

’’Sayangku, muliakanlah tamu Rasulullah ini.’’ Istrinya menjawab, ’’Kakanda, kita tidak memiliki apa-apa selain makanan untuk anak kita yang sedang tidur.’’

Sang suami kemudian berkata, ’’Siapkanlah makananmu itu dan nyalakan lampunya. Tidurkanlah kembali anak kita sekiranya mereka nanti merengek minta makan malam.’’

Istrinya lalu menyiapkan makanan, menyalakan lampu di ruang tamu, dan menidurkan anaknya.

Lalu, suaminya berdiri seakan hendak memperbaiki lampu, padahal mematikannya.

Sang istri yang menunggu komando suaminya selanjutnya mengeluarkan dua mangkok.

Sang suami menemani tamunya makan malam. Sang tamu menikmati bubur yang disiapkan sahabat Ansor.

Tamu Rasulullah itu tampak merasa bahagia makan malam ditemani sang tuan rumah.

Dia tidak mengetahui tuan rumah hanya menyendok semangkok air putih yang sengaja dituang istrinya ke dalam mangkok suaminya.

Baca Juga: Toriqoh, Ada 3 Tanda Orang yang Bermakrifat

Sementara, ia menyendok semangkok bubur dengan nikmatnya karena hanya cukup untuknya.

Pada pagi harinya, mereka menemui Rasulullah. Belum sempat mereka bercerita atas apa yang mereka lakukan semalam, Rasulullah sudah bersabda.

’’Tadi malam, Allah SWT tertawa dan merasa kagum dengan perbuatan kalian berdua. Lalu Allah SWT menurunkan ayat dalam Surah Al-Hasyr 9. ’’…dan mereka mengutamakan orang-orang Muhajirin atas diri mereka sendiri.

Sekalipun mereka sangat membutuhkan atas apa yang mereka berikan. Dan siapa yang dipelihara dari sifat kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang beruntung.

Intinya, menjamu tamu meski dirinya sendiri tidak makan seperti yang dilakukan oleh sahabat Abu Thalhah Al-Anshari itu mendapat pujian dari Allah SWT dan termasuk tanda orang beruntung.

Warga toriqoh dibimbing zikir dengan kaifiyah dan haiah tertentu agar zikir mudah masuk ke dalam hati.

Jika zikir sudah masuk ke dalam hati, maka akan selalu sesuai dengan perintah Allah SWT dan Rasulullah.

Sehingga ketika ada tamu, cepat-cepat disuguhi. (jif/naz/fid)

Editor : Ainul Hafidz
#menjamu tamu #KH Cholil Dahlan #PPDU Rejoso #Ketua MUI Jombang