JombangBanget.id - Pengasuh PP Darul Ulum Rejoso sekaligus Ketua MUI Jombang, KH Cholil Dahlan, menjelaskan pentingnya ngaji pakai kitab seperti di pondok pesantren.
’’Abah saya, KH Dahlan Cholil, wafat ketika saya usia lima tahun. Ibu saya, Hj Sholicah, menyampaikan pesan abah, agar kalau ngaji pakai kitab,’’ tuturnya saat ngaji dalam peringatan tujuh hari wafatnya DR KH Isrofil Amar, Sabtu (30/12).
Kiai Cholil menjelaskan, ngaji itu nuturi orang. ’’Kalau tidak pakai kitab, bisa jadi pitutur yang keluar itu sumbernya adalah nafsu,’’ bebernya.
Sementara nafsu cenderung mengajak keburukan. Sebagaimana ditegaskan dalam QS Yusuf 53.
Karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku.
’’Ketika menyampaikan nasihat tanpa membaca kitab, kita dianjurkan hanya menyampaikan apa yang telah kita sendiri lakukan,’’ terangnya.
Karena kita sendiri yang menjadi sumber pitutur atau nasihat. Sebagaimana ditegaskan dalam QS Assaf 2-3.
Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah SWT bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.
Kondisinya berbeda ketika kita membaca kitab secara tertib mulai bab pertama sampai terakhir.
’’Ketika membaca kitab, posisi kita hanya sebagai penyampai pesan. Yang memberi pitutur atau nasihat yakni penulis kitab tersebut,’’ ulasnya.
Baca Juga: Toriqoh, Malu dan Takut
Sehingga walaupun kita belum mengamalkannya, tidak masalah. Mambaca kitab awal sampai akhir seperti itu juga menjadikan berkah.
’’Makanya ngaji di pesantren selalu pakai kitab. Dan ngajinya tertib dari bab pertama sampai akhir,’’ ungkapnya.
Almarhum Kiai Isrofil dulu mondoknya di PP Darul Ulum Rejoso. Sehingga terbiasa ngaji dengan kitab.
Makanya saat diundang ngaji di masjid Polres Jombang dalam rangka peringatan Isra Mikraj, beliau menyampaikan materi dengan kitab Dardir.
Ini kitab yang menjelaskan Isra Mikraj yang banyak dikaji di pesantren. ’’Ngaji itu sendiri adalah nasihat,’’ kata Kiai Cholil Dahlan.
Nah, mati juga termasuk nasihat. Bahkan termasuk nasihat yang agung.
’’Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda; Cukuplah kematian sebagai pemberi nasihat,’’ ungkapnya.
Setiap melihat orang mati, kita harus ingat, bahwa kita pun akan mati. Sehingga harus menyiapkan bekal menghadapi kematian dengan memperbanyak amal saleh dan menjauhi maksiat.
Warga toriqoh dibimbing zikir dengan kaifiyah dan haiah tertentu agar zikir mudah masuk ke dalam hati.
Jika zikir sudah masuk ke dalam hati, maka kapanpun, dimanapun, dan dalam kondisi apapun, akan bisa selalu ingat Allah subhanahu wa ta’ala. (jif/naz/fid)
Editor : Ainul Hafidz