Masih berbicara tentang ’’qubur’’, tempat karantina yang close dan senyap.
Alam transit sebelum melanjutkan perjalanan menuju alam akhirat. Kali ini terkait
pengusungan janazah menuju kuburan.
Ada wejangan Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam. Kira-kira begini: ’’Sadarlah, ketika mereka mengusung anda menuju kubur dan selesai, maka
semua segera pulang kembali dan meningggalkan anda sendirian di sana.
Tak terkecuali keluarga dan anak anda. Selanjutnya, mereka lirik-lirik warisan. Yang menemai anda hanyalah amal perbuatan anda sendiri, yang baik, maupun yang buruk.
’’Jika amal anda baik, maka menjadi teman baik yang menguntungkan. Tapi jika amal anda buruk, maka menjelma menjadi makhluk aneh yang sangat menjijikkan dan ngamplok, gandol di punggung anda tanpa mau berpisah. Baunya busuk menyengat dan membebani. Boro-boro menolong, diam saja tidak, malah menjerumuskan.’’
Lebih dari itu, Alquran mengingatkan: ’’Yaum la yanfa’ mal wa la banun. Illa man
ata Allah bi qalb salim.’’
Pada hari akhir nanti, tiada berguna lagi harta dan anak. Hanya mereka yang punya ’’qalb salim’’ saja yang bisa sowan dan diterima di pangkuan Tuhan.
Qalb salim adalah hati yang sehat yang mendorong beribadah dan beramal kebajikan (al-syu’ara:88 dan 89).
Untuk itu, sebagai orang tua, wajar berpikir untuk kebaikan anak. Termasuk mendidik dan menyediakan piranti duniawi agar mereka hidup layak.
Ya, tapi jangan berlebihan, jangan banyak-banyak. Pikirkan yang untuk diri anda sendiri kelak di alam kubur, di akhirat. Itu yang lebih penting. Sudah cukupkah amal sedekah anda..?
Jangan sampai menjadi orang kaya di dunia, tapi miskin di akhirat.
Baca Juga: Binrohtal, Banyak Jalan Kebaikan
Kata orang, ’’harta itu tidak dibawa mati.’’ Kalimat itu perlu dimaknai lebih religius.
Secara materi betul, memang tidak ada mayit memakai jam tangan Rolex atau berkalung emas, membawa rekening dan dikubur bersama Lamborgininya.
Tapi bagi kajian kalam Jumah ini, justru harta itu harus dibawa mati sebanyak- banyaknya.
Dalam artian, ya jangan dibawa sendiri, jangan dibawa apa adanya, melainkan dititipkan lewat biro jasa yang ditunjuk Tuhan, ditransfer lebih dulu via bank yang ditunjuk agama.
Ketahuilah, bahwa sesungguhnya surga itu sudah bisa dibooking mulai sekarang.
Tinggal pilih surga berbintang berapa.
Tentu saja harganya berbeda, antara yang kelas ekonomi dan yang VVIP. Itu logik, sesuai hukum pasar, ’’gowo rupo, gowo rego.’’ (bersambung, in sya’ Allah).
Editor : Ainul Hafidz