JombangBanget.id - Pengasuh Pesantren Tebuireng Putri, KH Fahmi Amrullah Hadziq, menjelaskan pentingnya membaca Alquran.
’’Abu Jahal yang memusuhi Nabi saja bisa menikmati syahdunya bacaan Alquran hingga subuh, lantas kenapa kita baru lima menit sudah ingin tidur?’’ terangnya saat ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah, Polres Jombang, Kamis (21/12).
Alquran yang kita baca akan menolong kita di kubur dan saat dibangkitkan pada hari kiamat.
Semakin banyak Alquran yang kita baca, maka semakin banyak penolong kita.
Gus Fahmi cerita, sebenarnya, Abu Jahal merasa takjub dengan Alquran.
Tetapi, karena gengsi dan kesombongannya, Abu Jahal tidak mau terang-terangan mengakui.
Suatu malam, Abu Jahal keluar secara diam-diam ke rumah ponakannya, Rasulullah Muhammad sallallahu ‘alaihi wasallam. Dia mencuri dengar bacaan Alquran hingga subuh.
Khawatir diketahui orang, Abu Jahal pulang dengan langkah hati-hati.
Tetapi di perjalanan bertemu dua temannya, Abu Sufyan dan Al Akhnas bin Syuraiq.
Ternyata mereka baru saja melakukan hal yang sama, mencuri dengar bacaan Alquran Rasulullah Muhammad sallallahu ‘alaihi wasallam.
Mereka bertiga pun tak dapat lagi menyembunyikan rasa malu. Akhirnya mereka sepakat untuk tidak lagi mengulangi.
Baca Juga: Binrohtal, Hakikat Utama Hidup di Dunia
Namun nyatanya, malam kedua mereka kembali lagi. Mereka mengingkari janji.
Allah SWT pun mempertemukan mereka kembali di jalan, semakin malulah mereka. Lalu mereka membuat janji lagi untuk tidak mengulanginya.
Tapi apa yang terjadi?
Di malam ketiga, mereka tetap ingkar janji, mereka datang kembali untuk mencuri dengar bacaan Alquran Rasulullah Muhammad sallallahu ‘alaihi wasallam di rumahnya.
Dan, mereka pun berpapasan lagi untuk yang ketiga kalinya. Mereka mulai saling menyalahkan satu sama lain.
Mereka berjanji akan mengakhiri perbuatannya.
Kejadian itu membuat Akhnas bin Syuraiq penasaran. Dia meminta pendapat tentang apa yang dirasakan oleh kedua temannya. Ia pun pergi ke rumah Abu Sufyan.
’’Ceritakan padaku wahai Abu Hanzhalah, apa yang kamu rasakan saat kamu mendengarnya dari Muhammad?’’ tanyanya.
Abu Sufyan menjawab, ’’Wahai Abu Tsa’labah, demi Allah, aku telah mendengar sesuatu yang aku tahu maknanya.
Dan aku juga mendengar seuatu yang aku tidak tahu maknanya. Akhnas menimpali, ’’Dan aku, demi Allah, juga merasakan hal yang sama!’’
Akhnas meneruskan langkahnya ke kediaman Abu Jahal.
’’Wahai Abul Hakam, apa yang kamu rasakan saat mendengar dari Muhammad?’’ tanyanya.
Dengan gaya diplomatis dan rasa gengsi yang tinggi ia berkata, ’’Kita telah bersaing dengan keturunan Abdi Manaf dalam kemulian.
Mereka memberi makan orang, kita pun memberi makan orang. Mereka menolong orang, kita juga menolong orang.
Mereka memberi kita juga memberi, sampai kita kalah seperti halnya tadi malam. Seolah kita adalah kuda yang tergadaikan.’’
Akhnas berkata, ’’Aku tak perlu basa-basimu. Sekarang jelas, telah datang seorang Nabi dari bangsa kita, yang telah diberikan wahyu kepadanya. Kapan kita menyambut kesempatan yang emas ini?’’
Dengan sombongnya Abu Jahal berkata, ’’Demi Allah kita tidak akan mengimaninya dan membenarkannya!’’
Demikianlah Abu Jahal yang tahu akan kebenaran, akan tetapi kesombongannya membumbung tinggi bagai gunung yang membuatnya tidak mau mengakui kebenaran. (jif/naz/fid)
Editor : Ainul Hafidz