JombangBanget.id - Pengasuh PP Al Muhsinin, Tugu, Kepatihan, Jombang, Habib Muhammad bin Salim Assegaf, menjelaskan pentingnya memendam marah.
’’Kita harus meniru Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa sallam dalam segala keadaan serta menyelisihi setan. Termasuk dalam hal mengendalikan marah,’’ tuturnya saat ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah, Polres Jombang, Senin (18/11).
Setan adalah musuh kita. Maka kita harus menjadikannya musuh.
Sebagaimana ditegaskan dalam QS Fatir 6.
Sesungguhnya setan itu musuh bagimu, maka anggaplah ia musuhmu, karena sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.
Dan setan selalu berusaha membuat manusia marah.
Sebagaimana disebutkan dalam QS Almaidah 91.
Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan, kebencian dan kemarahan.
Sementara Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa sallam selalu bisa mengendalikan marah dan berhati lembut.
Sebagaimana disebutkan dalam QS Ali Imron 159. Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka.
Juga disebutkan dalam QS Attaubah 128. Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.
Baca Juga: Binrohtal, Hidup di Dunia Seperti Tamu
Habib Muhammad cerita, kala hijrah ke Toif, Nabi Muhammad SAW sempat dilempari batu hingga berdarah.
Malaikat Jibril datang hendak menimpakan gunung Uhud agar mereka semua mati. Namun Nabi justru mencegah.
Nabi masih berharap mereka kelak mau masuk Islam. Atau dari keturunan mereka lahir orang-orang yang mau masuk Islam.
Suatu ketika, ada sahabat minta nasihat. Nabi lalu bersabda; Jangan marah, jangan marah, jangan marah.
Alkisah, Nabi sedang bersama Abu Bakar Assiddiq. Tiba-tiba ada orang datang memaki Abu Bakar.
Abu Bakar tetap duduk tidak merespons. Lalu datang orang kedua memaki, Abu Bakar juga tetap diam.
Giliran datang orang ketiga yang memaki, Abu Bakar langsung berdiri.
Melihat itu, Nabi langsung beranjak pergi. Abu Bakar kemudian bertanya, kenapa Nabi meninggalkannya?
Nabi cerita, ketika Abu Bakar diam dicaci orang pertama dan kedua, malaikat berkumpul mengitari mendoakan kebaikan.
Tapi ketika Abu Bakar berdiri dicaci orang ketiga, malaikat semuanya pergi, ganti setan yang mengerumuni. Makanya Nabi pergi.
Orang marah gila sejenak dan dikerumuni setan, makanya apapun yang dilakukan berujung penyesalan.
Sebaliknya, orang sabar yang mau menahan marah dikerumuni malaikat sehingga memperoleh rahmat dan keberkahan. (jif/fid)
Editor : Ainul Hafidz