JombangBanget.id - Mudir Ma’had Aly Tebuireng, KH Achmad Roziqi, menjelaskan pentingnya ibadah.
’’Tujuan penciptaan manusia tidak lain hanyalah untuk ibadah,’’ tuturnya saat ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah, Polres Jombang, Selasa (5/11).
Sebagaimana ditegaskan dalam QS Adzariyat 56. Jin dan manusia Aku ciptakan hanyalah untuk ibadah kepadaKu.
Sayidina Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah, dalam Marah Labid karya Syeikh Nawawi Al Bantani, menafsiri kata, illa liya’budun.
Yakni, hanyalah agar Aku memerintahkan mereka guna beribadah.
Syekh Nawawi menjelaskan lebih detail tentang makna ibadah.
Ibadah adalah mengagungkan segala ketentuan Allah SWT dan berkasih sayang kepada semua makhluk Allah SWT.
Dua hal ini selalu diajarkan oleh semua agama.
’’Dari sepenggal ibarot ini, kita bisa memahami, ibadah tidaklah hanya sekedar membina hubungan baik dengan Allah SWT, dengan menyampingkan makhlukNya,’’ ucapnya.
Justru memperlakukan makhluk dengan baik adalah bagian dari ibadah yang tidak boleh kita remehkan. Karena ini termasuk bagian dari tujuan penciptaan kita semua.
Oleh karena itu, Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam, sebagai sosok manusia paling sempurna dalam menjalankan dan mengajarkan makna ibadah, telah memberi panduan, bagaimana beribadah yang benar.
Rasulullah mengajarkan totalitas dalam mengagungkan Allah SWT.
Utamanya dalam salat sebagai salah satu simbol pengagungan yang bersifat vertikal kepada Allah SWT.
Dalam salat, kita mendapati banyak riwayat Rasulullah menempatkannya sebagai pelipur lara penyejuk jiwa.
Nabi bersabda; Salat adalah pelipur lara dan penyejuk jiwaku.
Salat juga beliau dawuhkan sebagai momen bermunajat kepada Allah SWT.
Nabi bersabda; Sungguh, dalam salat yang sedang dikerjakan oleh seseorang di antara kalian, sejatinya ia sedang berbisik-bisik dengan TuhanNya.
Maka sudah seharusnya ia memperhatikan adab bermunajat.
Ketika salat ditempatkan di posisi seperti ini, maka jelaslah bahwa Nabi mengajarkan kepada kita untuk mengagungkan titah Allah SWT berupa salat.
Sebagai salah satu bentuk ibadah kita kepada Allah SWT.
Nabi juga mengajarkan totalitas dalam mengagungkan Allah SWT dalam wujud memperlakukan hamba Allah dengan baik.
Bahkan kepada orang-orang yang memusuhi dan mencacinya pun, Nabi tetap berbuat baik.
Ada tetangga yang selalu meludahi Nabi, setiap Nabi berangkat ke masjid. Ketika si tetangga sakit, Nabi menjadi orang pertama yang menjenguk.
Ada nenek-nenek yang selalu menjelek-jelekkan Nabi. Ketika si nenek keberatan memanggul kayu, Nabi pun memanggul kayu itu untuknya.
Ada pengemis buta yang selalu mengolok-olok Nabi. Namun setiap hari, Nabi justru menyuapinya makanan.
Nabi mengajarkan, kita harus berkasih sayang kepada semua makhluk Allah SWT.
Dalam hadis qudsi ditegaskan; Para penyayanglah yang disayangi Dzat Yang Maha Penyayang; Al Rohman Tabaroka wa Ta'ala.
Sayangilah seluruh penduduk bumi niscaya penduduk langit akan sayang kepadamu.
’’Islam memberi panduan hidup, tidak hanya berhenti pada kesalehan spiritual. Tetapi kesalehan sosial juga menjadi bagian dari ibadah yang harus kita perhatikan sebagai tujuan kita diciptakan,’’ tegasnya. (jif/naz/fid)
Editor : Ainul Hafidz